Kardinal Suharyo Tahbiskan Gereja Paroki Bolan: Agar Kesaksian Iman Makin Hidup

143
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COMKehadiran Kardinal di Malaka, bagaikan obat penawar dahaga iman. Badai Seroja yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur  (NTT) khususnya Kabupaten Malaka ‘mencuri’ perhatian banyak orang. Bulan April 2021 lalu, telah tertinggal catatan buram dan pilu. Bagaikan kolam besar tanpa ada ujung. Genangan air setinggi satu meter bahkan hampir dua meter di beberapa titik. Menakutkan.

Rumah umat terendam tanpa ada yang tersisa. Lahan pertanian rusak. Perabot rumah tangga dan semua yang ada di dalamnya tak luput dari terjangan banjir. Mata lebam dan lembab bila kembali mengenang lagi tragedi yang melanda waktu itu. “Kekuatan doa menjadi berkat bagi umat dalam menghadapi situasi yang sulit,” kata Romo Yoseph Meak selaku Pastor Paroki Bolan.

Ternyata bencana meninggalkan satu kisah indah. Kehadiran para pemerhati sosial membawa berkat untuk umat di Paroki Bolan. Gereja terlihat tak menarik dalam pandangan mata. Ada aliran air di setiap sudut ruangan. Bangku-bangku tercecer. Lumpur menempel di setiap tembok. Memang rumah Tuhan sudah tak layak untuk digunakan.

Derap langkah Andreas Sofiandi dan tim donatur dari Persekutuan perhimpunan Bersatu Teguh mendatangkan berkat. Ia prihatin dengan kondisi gereja. Dengan satu niat yang tulus ia ingin membangun gereja baru. “Niat saya cuma satu, gereja ini harus dibangun baru karena sudah tidak layak. Bangunan ini bisa selesai berkat kasih dan kemurahan Tuhan serta dukungan dari rekan-rekan donatur,” kata Sofiandi.

Ditahbiskan Kardinal

Tercatat dalam sejarah di Kabupaten Malaka. Mengapa? Ketua KWI/Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo berkenan hadir dan menahbiskan gereja baru. Kehadiran Kardinal menorehkan tinta emas di hati umat. Sejarah baru dan untuk pertama kalinya Kardinal menginjakkan kaki di Malaka.

Kardinal Suharyo berkhotbah saat peresmian Gereja Bolan.

Upacara penahbisan dihadiri banyak imam dan ribuan umat serta para donatur. Sebelum Misa dimulai, acara diawali dengan penyambutan berupa tutur adat, pengalungan serta iring-iringan tarian likurai.

Kardina dalam khotbahnya menginspirasi umat tentang betapa besar kebaikan Tuhan yang dirasakan secara nyata dalam diri para donatur. Ia sempat berdongeng tentang seorang anak muda dengan batu yang ajaib. Di akhir kisah ia mengatakan bahwa kerja sama dan persaudaraan menjadi kekuatan besar dalam membangun hidup yang lebih baik.

Bagi Kardinal, gereja baru ini hendaknya menjadi berkat dan tempat yang nyaman untuk berdoa. “Bapak Andreas Sofiandi dan tim donatur telah membangun gereja ini semoga semakin menguatkan iman kita untuk memuliakan Tuhan. Semua pengorbanan ini menjadi persembahan terindah bagi Tuhan,” katanya.

Pemberkatan ini pada tanggal 3 Desember 2021 bertepatan dengan parayaan Santo Andreas, Rasul. Ini bukan kebetulan tapi karena penyelenggaraan Ilahi. Tuhan telah menetapkan semua peristiwa iman ini seturut kehendak-Nya.

“Kiranya bangunan ini bukan semata karena kemegahannya yang dikagumi tapi terpenting kesaksian iman kita yang makin hidup bagi sesama,” tutur Kardinal.

Bupati Malaka, Simon Nahak dalam sambutannya mengatakan Pemkab Malaka akan selalu mendukung dan memberi perhatian untuk menjadikan Gereja Bolan sebagai Gereja Wisata. Menarik perhatian banyak orang untuk berdoa dan memuliakan nama Tuhan.

Kata Hati

Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, tak henti-hentinya mengapresiasi kerja keras dan perhatian yang luar biasa dari Andreas dan tim donatur. “Para donatur telah memberi hadiah terindah bagi umat di Paroki Bolan,” ucapnya.

Lebih membahagiakan lagi, ujarnya, Kardinal berkenan menahbiskannya. Kehadirannya memberi pesan istimewa. ” Satu kebanggaan kami,” ujar Mgr. Dominikus.

Itulah. Penantian panjang berbuah manis. Badai Seroja meluluhlantakkan semuanya. Namun kasih Tuhan kembali memperindah yang terbuang berkat uluran kasih banyak orang. Yang kusam jadi manis. Yang redup kini bercahaya. Dulu dianggap sepele. Sekarang Gereja Bolan menjadi primodona. Teruslah membiaskan cahayamu. Berkat itu selalu ada di balik bencana.

Catatan Tertinggal di Malaka

Tak disangka jika ada cerita unik dan membekas di benak.  Seakan mimpi semalam terjawad di pagi yang cerah. Ada apa sebenarnya? Berita tentang kehadiran Ignatius Kardinal Suharyo. Awalnya terdengar sambil lalu. Tak mungkin datang. Belum pasti dan terbawa angin semata. Terdengar lagi katanya akan datang untuk menahbiskan gereja.

Pukul 10.30 WIT, Jumat,3/12/2021 menjadi catatan sejarah. Harapan penuh kecemasan itu berubah menjadi kenyataan. Pesawat jet putih tanpa nama yang ditumpangi Kardinal dan rombongan mendarat mulus di pusara tanah Perbatasn RI-Timor Leste, Kota Atambua. Sejumlah besar umat penuh kerinduan ingin melihat dari dekat wajah penuh kharismatis. Yang lama dinanti itu pun tiba.

Uskup Agung Jakarta/Ketua KWI, Ignatius Kardinal Suharyo mengenakan pakaian adat Malaka. (Foto: Pastor Ino Nahak)

Langkah pasti dan penuh wibawa ketika Kardinal menjejakkan kaki pertama di Atambua. Ada perasaan bangga. Senang bercampur simpatik. Hanya karena kasih dan pelayanan. Sosok gembala berbau domba datang menyapa kawanannya. Ia datang dari Jakarta menuju Malaka.

Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku dan Bupati Belu, Agustinus Taolin beserta rombongan telah menanti menyambut kehadirannya. Tradisi penyambutan tamu istimewa pun dilakukan dengan pangalungan kain adat. Senyum lepas dan sapaan penuh persaudaraan. Penyambutan penuh kekeluargaan sungguh menggariskan memori indah di hati umat.

Kardinal bersama rombongan dihantar menuju ruang tunggu VIP Bandara A.A. Bere Talo. Bupati Belu, Agus menyampaikan ucapan selamat datang kepada Kardinal karena telah berkenan menyapa warga Atambua walau hanya sesaat namun sangat berkesan.  “Selamat datang, Bapa Kardinal di Atambua. Kami bangga karena bisa berkenan hadir dan menyapa masyarakat Belu walau hanya sesaat sebelum berangkat menuju Kabupaten Malaka,” katanya singkat.

Kardinal dan rombongan langsung bergerak menuju Malaka. Hampir dua jam perjalanan jauhnya. Kardinal mamasuki Malaka. Ada sambutan penuh kegembiran. Para imam dan biarawan-biarawati menatap penuh kerinduan atas kehadirannya. Bupati Malaka, Simon Nahak bersama umat telah menanti dengan sukacita.

Penyambutan secara adat dan pengenaan kain adat. Juga disambung dengan tutur adat sesuai tradisi setempat. Tepuk tangan dan senyum kegembiraan mewarnai upacara penuh persaudaraan di depan rumah biara Susteran SSpS Betun. Bagaikan sang Raja memasuki wilayah kekuasaanya. Begitu pula Kardinal didandani dengan pakaian adat kebesaran Malaka. Anggun dan sangat berwibawa.

Kehadiran Kardinal mengobati kerinduan di hati umat. “Terima kasih untuk penyambutan yang istimewa ini,” katanya singkat.

Pastor Ino Nahak (Atambua)

HIDUP, Edisi No. 50, Tahun ke-75, Minggu, 12 Desember 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here