Pokok-e, Jadi Pastor!

218
Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono bertemu Paus Fransiskus di Basilika St. Petrus, Vatikan.
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Perjalanan menjadi imam tak selamanya mulus, kadang kala ia harus belajar marah agar perjalanan imamatnya mulus.

SUATU hari sang ibu memandang aneh kepada Oei Tik Hauw, nama kecil Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono. Tidak seperti biasanya, Oei Tik pulang sekolah dengan pakaian lengkap. Hari itu, sang anak pulang tanpa menggunakan baju. Mata Kwa Siok Nio, sang ibu, melotot keheranan, sementara Oei Tik Hauw hanya tersenyum memelas, seraya berharap sang ibu tidak memarahinya.

Dengan sedikit berhati-hati, Kwa Siok menatap putranya seakan bertanya soal apa yang terjadi. Memahami rasa penasaran sang ibu, Oei Tik lalu membuka percakapan. “Tadi saya pulang sekolah melihat baju teman rusak dan robek, saya berikan bajuku,” cerita Oei Tik dengan suara terbata-bata.

Mendengar alasan sang putra, Kwa Siok hanya menggeleng-geleng kepala. Mukanya merah karena menahan marah berubah seketika. Ia memeluk anaknya dan berpesan agar terus menebar kebaikan, tetapi perlu melihat situasi. “Silakan berikan baju tetapi ajak teman ke rumah untuk mengambil baju yang lain. Nanti orang berpikir kamu gila,” Oei Tik mengingat situasi itu.

Sering Sakit

Sejak kecil, Oei Tik terlihat ceking, alias kurus bertelanjang dada, sering mandi bareng dengan kakaknya dalam satu ember. Orang mengenalnya sebagai anak kecil yang usil. Ia pernah dihukum membersihkan kamar mandi dan WC gara-gara menerobos wilayah terlarang Angkatan Laut. Ia hanya tertawa menjalankan hukuman itu.

Walau usil, Sutikno adalah pribadi yang jujur. Orang tuanya selalu menasihati agar sebisa mungkin mengedepankan nilai kejujuran. Menurut Mgr. Sutikno, nilai-nilai ini penting dalam keluarganya, dan selalu diingatkan orang tua kapan dan di mana saja.

Kelahiran Surabaya, 26 September 1953 ini merasa nilai-nilai ini kelak mempengaruhi perjalanan panggilannya kemudian hari.

Lahir dari keluarga yang sederhana, Mgr. Sutikno diharapkan menjadi tulang punggung keluarga. Maklum ia adalah satu-satunya anak laki-laki dari dua bersaudara. Kakak perempuannya bernama Oei Lwan Nio dan adiknya Oei Swan Nio. “Harus dikatakan bahwa nilai-nilai ini diturunkan kepada kami dengan harapan bisa menjadi anak yang berguna,” sebutnya dalam HIDUP Edisi No. 18 Tahun 2019.

Sang ayah, Oei Kok Tjia bekerja di Penataran Angkatan Laut (PAL) sebagai pegawai teknik (perencanaan dan pemeliharaan) hingga pensiun sedangkan ibunda adalah ibu rumah tangga.

Tikno kecil, sangat dekat dengan ayahnya. Hal ini dapat terlihat ketika ditinggal ayahnya dinas ke luar kota yang memakan waktu lama, Tikno merasa sangat sedih. Di antara ketiga bersaudara ini, Tikno adalah orang yang paling gampan sakit, sehingga ketika sakit, ia begitu disayangi orang tua dan kakak-adiknya.

Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono bersama sang ibu, Kwa Siok Nio.

 

Sebagai putra kesayangan yang gampang sakit, Mgr. Sutikno selalu diperhatikan khusus bahkan ketika masuk TK Katolik St. Anna Surabaya tahun 1959, saat usianya memasuki enam tahun. Perhatian yang sama juga ketika dirinya menjejaki bangku SD Katolik St. Mikael, Perak, Surabaya tahun 1961.

Meski begitu, Mgr. Sutikno tak ingin menjadi anak manja atau anak mami. Ia seorang yang peka terhadap situasi, gemar membantu orang tua, termasuk membantu para guru di sekolah dan menjadi pribadi yang mandiri. Ia pribadi yang cepat mengalah demi sebuah kebaikan bersama.

Liturgi Katolik

SD Katolik St. Mikael bernaung di bawah Yayasan Yohanes Gabriel. Saat itu pengurus pusat yayasannya adalah Pastor Kumorowidjojo dan pengurus hariannya adalah Pastor Herman Kock, CM. Mgr. Sutikno menyebutkan di antara dua pastor ini, Pastor Kock adalah idolanya. Ia pribadi yang sederhana dan selalu setia melakukan semua tugas, termasuk tugas-tugas yang remeh temeh.

Pastor Kock murah senyum dan penuh kewibawaan. “Dia gemar memakai topi polka dan jubah sembari naik sepeda onthel ketika kunjungan ke umat di Paroki St. Mikael Perak. Umat sangat senang dengan pelayanannya, apalagi anak-anak,” cerita Mgr. Sutikno. Lanjutknya, “Saya sering diajak bersamanya untuk berkunjung ke rumah umat.” Walau dalam kunjungan itu, tugasnya hanya menjaga sepeda onthel milik Pastor Kock agar tidak hilang. “Tapi saya senang karena dalam perjalanan Pastor Kock bercerita banyak hal tentang menjadi imam,” ceritanya.

Sejak kebersamaan itu, benih-benih panggilan merebak di hati Tikno. Panggilan ini makin nyata setelah menjadi misdinar-walau belum dibaptis secara Katolik. Di kelas VI SD, keluarganya baru dibaptis oleh Pastor A. Van Rijnsoever, CM tepatnya tanggal 7 Mei 1966. Ketika ditanya siapa pelopor keluarganya menjadi Katolik, Mgr. Sutikno menyebutkan dengan bangga semua karena peran sang ibu, Ursula Madiyanti (Kwa Siok Nio). “Ibu selalu tertarik menjadi Katolik karena kesakralan liturgi Katolik. Ia mengikuti katekumen selama empat tahun. Berkat dia, semuanya ikuti dibaptis,” tuturnya.

Mgr. Sutikno memilih nama baptis Vincentius dari St. Vincentius a Paulo, pelindung Kongregasi Misi (CM). Pasca peristiwa G/30 S 1965 muncul Keputusan Presidium bernomor 127/U/Kep/12/1966 tentang perubahan nama keturunan menjadi nama Indonesia. Melihat situasi Negara saat itu yang tidak stabil dan isi surat himbauan itu bernada keharusan membuat keluarga Oei Kok Tjia menuruti himbauan itu. Nama kecilnya Oei Tik Hauw berubah menjadi Sutikno Wisaksono.

“Belajar” Marah

Ketika duduk di kelas tiga SMK Katolik Angelus Custos Surabaya, keinginan masuk Seminari Menengah Garum begitu menggebu-gebu. Maka keputusan masuk seminari adalah inisiatif sendiri, orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan keinginan ini. Segala informasi tentang seminari, imamat dan seputarnya disampaikan Pastor Holtus, CM. Sebelum masuk gerbang seminari, Tikno remaja dikursuskan selama setahun agar bisa bersaing dengan para seminaris lainnya.

Mgr. Sutikno bercerita segala sesuatu tentang seminari yang indah seakan hilang ketika dirinya memahami kehidupan asrama dengan sejuta aturan yang ketat. Seorang pribadi yang sering mengalah, meminta maaf, atau ikut arus saja menjadi hilang.

Di seminari ia “belajar” marah karena sering terjadi perbedaan pendapat dengan teman. Ia harus “marah” ketika teman-teman mulai tidak peduli pada panggilannya, ia “marah” jika orang lebih sibuk pada hal-hal di luar imamat.

Perjuangan paling berat, sebutnya, adalah pecahnya Perang G 30 S. Banyak seminaris hilang arah, studi dan kehidupan spiritual yang dijalankan pun seadanya. Dalam situasi itu, Rektor Seminari Garum, Pastor Karel Prent, CM tampil sebagai bapak yang murah hati. Ia terus menguatkan para seminaris agar tetap kuat, termasuk meneguhkan hati Sutikno agar tidak mengundurkan diri.

Keputusan memilih menjadi imam diosesan tentu dengan alasan cintanya kepada Keuskupan Surabaya. Ia tak ingin pindah dari tanah kelahirannya. Tanggal 7 Oktober 1974, ia mengajukan surat permohonan menjadi calon imam diosesan Keuskupan Surabaya, dan tanggal 16 Oktober 1974, Mgr. Klooster meluluskan permohonannya.

Tahun 1974, ia bergabung di Seminari St. Paulus Kentungan, Yogyakarta. Dalam komunitasnya, Frater Sutikno dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, periang, berani, ramai, banyak celoteh, dan suka membantu.

Setelah studi filsafat, Frater Sutikno menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Yosef dan St. Vincentius a Paulo Kediri. Ia dilantik menjadi akolit pada 23 September 1980 oleh Kardinal Justinus Darmoyuwono dan ditahbiskan diakon pada 23 September 1981. Selanjutnya ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. J Klooster, CM pada 21 Januari 1982 di Gereja Katedral Surabaya.

Meski terlihat berwibawa, sebenarnya Mgr. Sutikno memiliki banyak cerita lucu. Ia memiliki sejumlah panggilan. Di Seminari Garum ia sering dipanggil “Sutikno Palal” karena pernah mengusir orang kurang waras bernama Palal. Hal ini berimbas pada panggilannya sebagai Sutikno Palal. Di Seminari Kentungan juga ia mendapat julukan “Sutikno Gembor” karena suaranya yang menggelegar keras. Ketika memanggil seseorang, semua orang yang ada di sekitar orang yang dipanggil pasti menoleh.

Tuaian dan Pekerja

Mgr. Sutikno merefleksikan dua moto penting dalam imamatnya. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit… (Luk. 10:3) dan “Upahku ialah, bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpah upah… (1 Kor. 9:8). Dua moto ini memiliki arti penting; menjadi pekerja di ladang Tuhan adalah kerja keras, bukan kesempatan memperkaya diri, selanjutnya imbalan menjadi pelayan Tuhan adalah perutusan.

Ia mendapat perutusan perdana sebagai pastor rekan di Paroki St. Vincentius a Paulo Kediri bersama Pastor Sunaryo, CM, menggantikan Pastor Y. Van Mensvoort yang cuti. Pada 1 maret 1984, ia menjadi pastor pembina di Seminari Menengah Garum sekaligus mengajar bahasa Latin, Sejarah Gereja, dan Kitab Suci.

Tahun 1987, Mgr. A.J. Dibjakaryana menugaskan pastor yang medok dengan dialek dan gaya khas Suroboyoan tersebut melanjutkan studi magister di bidang psikologi konseling di Universitas de La Salle, Manila, Filipina.

Setelah kembali, ia menjadi rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Beato Giovanni, Malang sekaligus menjabat Dewan Konsultores Keuskupan Surabaya. Jabatannya sebagai Dewan Konsultores tidak jarang memberikan pertimbangan strategis dan penting bagi Keuskupan Surabaya. Sebagai Rektor Seminari Tinggi ia harus rajin berpikir untuk menyelesaikan persoalan yang muncul, dengan empat hal pokok yang menjadi sorotannya: aspek intelektual, kemanusiaan, pastoral, dan spiritual.

Hampir 10 tahun bertugas di seminari, Mgr. J. Hadiwikarta, Uskup Surabaya saat itu memintanya melanjutkan studi doktoral di bidang psikologi di Universitas de La Salle. Pada 23 Desember 2004 sebuah berita mengejutkan, Mgr. Hadiwikarta meninggal dunia dan untuk mengisi takhta kosong terpilih Pastor Yulius Haryanto, CM sebagai Administrator Diosesan. Selama kurang lebih tiga tahun Pastor Haryanto berkarya.

Usai menyelesaikan studinya, pada 1 April 2007, Pastor Sutikno ditunjuk Paus sebagai Uskup Surabaya. Dengan rendah hati, ia menerima tugas ini dan mengembalakan umat dalam semangat Ut vitam abundantius habeant, (gembala yang baik memberi diri bagi domba-dombanya, Yoh. 10:11).

Menjadi Domba

Di kalangan koleganya, Mgr. Sutikno kerap disapa “koboi dari Suroboyo”. Maklum cara berpakaiannya mirip koboi-alias sekenanya dan kerap tidak rapi. Hal ini membuat warga Marriage Encounter (ME) pernah memrotesnya. Dalam sebuah pertemuan bersama ME, gayanya yang urakan ini membuat para ibu menggoloknya dengan berkata, “Ayo kita cari dana, untuk menyekolahkan Romo Tik (Sutikno), agar tidak klowor-klowor terus.”  Mgr. Sutikno hanya cengar-cengir menanggapi guruan umatnya itu.

Pun waktu menjadi rektor di Seminari Giovanni Malang, Mgr. Sutikno gemar beternak sapi dan memelihara ikan, sampai-sampai menamai seekor sapi dengan nama Agnes, namanya kembar dengan suster yang bertugas di seminari itu. Mendengar itu, sang suster ngambek dan uring-uringan.

Selama menjadi imam baik di Paroki Ngawi hingga menjadi rektor di Malang, Mgr. Sutikno gemar melayani umat dengan menaiki jip merah tahun 1982 yang ia juluki “taft kebo”. Mobil ini memang klangenan (kesukaan) Mgr. Sutikno. Mobil itu terus dipakai Mgr. Sutikno dan hingga kini masih terparkir rapih di Wisma Keuskupan.

Mobil ini menjadi beken di kalangan umat Surabaya. Sering dikenal, Mgr. Sutikno memilih tidak mengendarainya karena takut mendapat perlakuan istimewa. Tetapi sering diprotes ketika memakai kendaraan lain. “Kadang-kadang sampai di paroki, umat bukannya bertanya soal uskupnya, tetapi lebih banyak bertanya soal si kebo,” ceritanya.

Sang kakak Maria Regina Reniwati Wisaksono bercerita, nyooce (sinyo kecil), dikenal sebagai pribadi yang gampang trenyuh dan “cengeng”. Seringkali ia tak bisa menahan air matanya yang mengalir saat mendengar penderitaan orang lain. Bahkan sudah menjadi imam, ia cepat trenyuh mendengar sharing pengalaman umatnya yang mengharukan.

Ketika ayahnya meninggal, 12 November 1966, ia menangis sesenggukan. Ia menangis dan disela tangisan berkata dirinya tidak bisa beri nafkah, karena pilih jalan Tuhan. Hal ini karena ia penganut paham keluarga tradisional, laki-laki harus mencari nafkah.

Cara berpastoral yang unik di tengah umat baik sebagai pastor hingga menjadi uskup diungkapkan dengan kata sederhana oleh Mgr. Sutikno bahwa, “uskup juga domba”. Kata ini mengisyaratkan  kerendahan hati dalam memandang jabatan uskup dan imam. Bahwa hierarki dan umat adalah sama di hadapan Tuhan. Para pejabat hierarkis dan umat adalah sama-sama domba dari Yesus Kristus.

Dengan cara dan karakternya yang unik ini, Mgr. Sutikno tampil di tengah umat dan ingin merasakan kehidupan konkret umat. Ia ingin menjadi gembala yang terlibat dalam setiap dinamikan kehidupan umat beriman. Refleksi ini juga yang mencolok kala merayakan 40 tahun menjadi imamat. Mgr. Sutikno menyebutkan dirinya ingin tampil sebisa mungkin menjadi teman seperjalanan.

Menurutnya menjadi imam itu muncul dari ragam cara, dan itulah cara Tuhan mamanggil dan memilih. “Mau caranya apapun, pokok-e jadi pator. “Itu prinsip saya waktu masuk seminari. Mau caranya dan jalannya seperti apa asal jadi Romo,” sebutnya.

Untuk itu, kepada para pastor, ia berpesan agar menjadi gembala yang suka nyiyir baik kepada umat dan pemimpin. Bila ada sesuatu yang kurang dibicarakan secara terus-terang. “Para pastor adalah rekan uskup, teman seperjalanan umat, maka hendaknya kita saling terbuka untuk membangun Gereja,” harapnya.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP, Edisi No. 04, Tahun ke-76, Minggu, 23 Januari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here