Kepala Paroki Katedral Bandung, Pastor Barnabas Nono Juarno, OSC: Menghadirkan Kasih di Tengah Masyarakat

118
Tampak dalam Katedral Bandung
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Usia 100 tahun merupakan momen yang baik untuk refleksi diri.

DELAPAN tahun masa tugas Pastor Barnabas Nono Juarno, OSC di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Pada tanggal 1 Mei 2016  imam yang disapa Pastor Nono ini menerima perutusan baru ke kota yang dijuluki Paris Van Java, yakni menjadi seorang gembala di Paroki Katedral Bandung.

Ketika tiba di paroki yang dijuluki sebagai The City Church, imam kelahiran 9 Juni ini merasakan adanya dinamika dan tantangan baru. Ada pun paroki yang berada di tengah kota ini akan berusia 100 tahun tepat pada 19 Februari 2022 ini. Bagaimana kisah perziarahannya ? Berikut petikan wawancara dua wartawati HIDUP dengan Pastor Nono di Paroki Katedral St. Petrus Bandung, Kamis, 30/02/2022.

Tantangan dan peluang seperti apa yang Pastor rasakan di Paroki Katedral Bandung ini?

Sebelum di Bandung, saya bertugas di Paroki Santo Laurensius Alam Sutera, kemudian tahun 2013 saya pindah ke Paroki Santa Helena Curug. Keduanya di Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta.
Nah, pertama, saya cukup kaget ketika melihat banyak umat yang aktif di paroki ini namun bukan umat yang tinggal di  wilayah teritorial Katedral. Ada beberapa yang malah enggak aktif di paroki asal tapi aktifnya di Katedral. Sebetulnya tidak masalah. Saya mulai menyapa, umat dari mana pun boleh aktif di Katedral namun saya juga menghimbau agar mereka jangan pernah lupakan lingkungan (paroki) masing-masing.

Kedua, dari segi jumlah umat, di Katedral tidak terlalu banyak. Di kisaran 2400-an jiwa. Tetapi juga lansianya lumayan. Agak susah menemukan orang muda yang hadir di lingkungan paroki kami. Ini jauh sekali perbedaannya dengan ketika saya di Medan, Sumatera Utara, saya hampir 10 tahun tinggal di sana. Di Medan ketika itu paroki baru, memang daerah yang baru dibangun, jadi banyak perumahan baru, otomatis banyak keluarga muda. Begitu juga ketika di Alam Sutera.

Artinya memang kurang orang muda di Katedral ini. Keluarga-keluarga muda sudah tidak tinggal di daerah Katedral.

Dengan situasi seperti ini, kami mencoba merangkul kelompok-kelompok kategorial yang ada. Kami memberikan semacam moderator untuk kelompok kategorial, sehingga jika ada rapat yang sifatnya global, mereka melebur. Jika paroki sedang menjalankan sebuah event, mereka pun melibatkan diri.

Tampak luar Katedral Bandung

Selama masa pandemi contohnya, kami butuh banyak orang untuk membantu prosedur Misa secara tatap muka, seperti untuk registrasi, cek kesehatan, menjaga kotak kolekte. Di dalam gereja juga butuh orang menata tempat duduk agar sesuai dengan protokol. Dalam kegiatan ini banyak keterlibatan komunitas kategorial, Puji Tuhan dengan merangkul dan melibatkan mereka, mereka sangat berperan dalam kehidupan paroki.

Bagaimana Pastor memaknai 100 Tahun Paroki Katedral ini? Apa yang Pastor harapkan?

Seratus tahun bukan usia yang pendek. Manusia bisa hidup sampai umur 100 tahun merupakan rahmat yang luar biasa.  Sebagai gedung memang Katedral ini merupakan kategori heritage. Banyak yang mengagumi. Kebanyakan orang mendokumentasikan kehadirannya di sini. Gereja ini pasti punya daya tarik. Namun, daya tariknya mesti dibarengi dengan semangat dalam diri para imam, petugas, aktivis, pengurus lingkungan, dan semua pihak yang terliba.

Apa yang mau dilakukan dengan usia 100 tahun ini?
Tentu harusnya ada suatu loncatan kedewasaan dalam iman, dalam cara bergereja, cara bermasyarakat. Karena tentu saja kehadiran Katedral bukan sekadar fisik. Saya berharap, Katedral ini kian mewarnai dan kian mempengaruhi masyarakat sekitar.  Saya juga berharap umat kian peduli, kian sadar akan kehadirannya untuk siapa dan untuk apa. Tidak hanya datang gereja, tetapi sungguh sebagai gedung ataupun umat beriman, mempunyai makna bagi orang lain.

Di dalam gereja kami ada tulisaan: “Marilah kepadaku kamu yang lelah dan menanggung beban”. Tulisan tersebut untuk mengingatkan umat bahwa Katedral Bandung  menjadi sebuah tempat mendapatkan kesejukan, semangat baru, inspirasi dan pengharapan baru.

Setelah Misa, umat beriman diutus sungguh dan mau menghadirkan semangat kasih kepada masyarakat yang membutuhkan. Intinya, kami dilatih tidak berpikir untuk diri sendiri, tetapi berani keluar untuk orang lain.

Seratus tahun menjadi momen yang baik bagi kami berefleksi sebagai umat, apa yang sudah dibuat dan apa perlu dilakukan dalam situasi sekarang ini. Sejauh mana kehadiran katedral itu dirasakan masyarakat.

Kegiatan atau gerakan seperti apa yang selama ini Katedral Bandung buat?

Biasanya, kami menyelenggarakan open house, untuk merangkul tokoh agama dan pejabat setempat. Walaupun tepat di Hari Natal, tidak dalam konteks natalan, namun bersilaturahmi. Menjadi sarana untuk berjumpa dan menyapa para tokoh lainnya.

Banyak kegiatan yang sifatnya karitatif sudah dilakukan. Tiap menjelang lebaran, orang muda dilibatkan dalam bazar dan pembagian sembako. Ada program nasi pincuk. Setiap Sabtu pagi, paroki menjual nasi seharga 2.000, dan biasanya dimakan langsung di tempat. Saat pendemi sempat terhenti dan diganti dengan program membagikan nasi bungkus. Kami keliling sekitar Katedral. Bulan Desember 2021 sudah dimulai lagi program nasi pincuk.  Setidaknya dengan membayar 2.000 rupiah mereka bisa makan dengan layak dan pantas.

Dulu kami punya klinik di sini, namun tidak bisa dipertahankan. Kami masih mencari bangunan yang kiranya bisa dibuat klinik. Pelayanan kesehatan
ini nempel dengan rel. Banyak masyarakat yang tinggal di sana, ketika ada pelayanan kesehatan, sangat terbantu. Terkadang dari pelayanan, kami bisa menyapa mereka. Sebetulnya bantuan tidak terbatas hanya umat paroki kami saja, tetapi  siapapun yang butuh bantuan.

Kursi uskup (katedra) Gereja Katedral Bandung

Bagaimana memetik hikmah dari perayaan 100 tahun di tengah pandemi?

Pandemi adalah tantangan yang harus dihadapi. Jangan sampai tidak berbuat apa-apa.
Mungkin perayaan yang kami buat tidak mewah. Dalam rangkaian menuju 100 tahun, kami mencoba menyapa para lansia di panti jompo, mengadakan khitanan massal. Sejumlah masyarakat cukup terbantu dengan kegiatan ini.

Kami juga mengadakan Cathedral Charity Walk, Run and Bike 2022. Hasil kegiatan ini untuk mendukung masyarakat yang berkekurangan dan bantuan pendidikan. Olah raga sambil berdonasi. Dari kegiatan ini saya punya suatu harapan ada semacam penanda. Harapan saya, kalau bisa, Katedral mengadopsi program ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah) sebagai penanda usia 100 tahun dan hadirnya sebuah rumah singgah.

Bagaimana komitmen menjaga keaslian gereja sebagai cagar budaya?

Kami sangat berhati-hati. Contoh, pemasangan AC, sudah direcanakan lama. Baru terpasang beberapa tahun terakhir. Kami konsultasi dengan beberapa orang yang terlibat memasang AC di Katedral Jakarta. Yang kedua, kami mau pasang layar. Tapi masih dalam pertimbangkan. Memang cukup prosedural dalam penambahan perlengkapan pada cagar budaya.

Mau mengganti kayu, genteng juga enggak mudah. Sejauh ini kami melakukan treatment. Kami selalu melakukan koordinasi dengan pihak cagar budaya.

Kami berusaha menjaga, melestarikan bangunan gereja. Sebagai cagar budaya, perlakuan dalam merawat juga mesti diperhatikan secara khusus. Beda dengan gereja-gereja zaman sekarang sudah langsung dikondisikan, misal dengan instalasi AC, untuk proyektor, dan sebagainya. Merawat gereja juga menjadi prioritas kami.

Apa yang selalu menjadi masukan dari Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC untuk Paroki Katedral ?                                                                                                                                      Beliau selalu mengingatkan bahwa kami merupakan paroki induk (pusat). Tentu harus mempunyai kualitas tertentu dalam pelayanan, liturgi, relasi dengan masyarakat dan sebagainya.

Saya yakin Bapa Uskup dengan Ut Diligatis Invicem (Kasihilah seorang akan yang lain) hendak menghadirkan semangat kasih. Katedral ini pun harus mencerminkan wajah yang penuh kasih. Artinya peduli kepada banyak orang.

Kasih, perhatian ini kami bagikan kepada umat di luar, tidak lupa dengan internal paroki seperti memperhatikan para pegawai di paroki. Jangan sampai mereka mendengarkan ajaran tentang kasih tetapi mereka tidak mendapatkan perlakuan yang penuh kasih. Saya bersyukur Bapa Uskup ikut mendukung. Harapan Bapa Uskup adalah mewujudkan tindakan kasih. Itu yang selalu kami perjuangkan. Kami mencoba menyeimbangkan perhatian dari dalam maupun ke luar. Jangan sampai orang terdekat malah terlupakan.

Karina Chrisyantia/Felicia Permata Hanggu (Bandung)

HIDUP, Edisi No.08, Tahun ke-86, Minggu, 20 Februari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here