Kisah Kasih SMA PL Santo Yusuf Yogyakarta

198
Mgr Robertus Rubiyatmoko dalam bicang-bincang di Sekolah Pangudi Luhur St Yusuf Yogyakarta/Dok. pribadi
3/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – DALAM rangka pesta nama Sekolah Menengah Atas (SMA) Pangudi Luhur Santo Yusuf Yogyakarta mengadakan bincang santai secara nasional melalui aplikasi Zoom dan Youtube, Sabtu, (19/3/22). 

Tema yang di ambil “Di SMA PL Yogya Kasih Kita Bersemi,” dengan narasumber Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko; Br. Dr. Martinus T. Handoko, FIC selaku Ketua YPL Pusat; Dimas Baruna (alumnus) yang sedang belajar di Jerman, Jonathan Areldeo (Ketua OSIS); dan Redita Dismareta (siswa berpretasi). Bincang santai secara Zoom diikuti secara langsung oleh 205 peserta.

Dalam sambutan awal Kepala Sekolah mengatakan bahwa acara ini sebagai upaya mewujudkan pengembangan kasih yang dicontohkan Santo Yosef. Seorah ayah yang tidak saja mengasihi Keluarganya (Maria dan Yesus) namun juga mengasihi kehidupan. Dalam hal ini SMA PL Santo Yusuf, juga ikut mengasihi lingkungannya. “ Pertemuan saat ini sebagai sarana menjadi kasih dalam kehidupan, dengan menimba inspirasi dari tokoh kehidupan,” tandas Br. Titus Totok Tri Nugroho St, FIC.

Moderator acara, I Wawang Setyawan selanjutnya membuka pembicaraan dengan serius tapi santai. Sesuia tema ada empat hal yang dikupas yaitu tentang menghadapi krisis bersama Allah, cara pandang yang benar mengenai seksualitas, romansisme yang menggetarkan asa dan melangkah ke negeri orang siapa takut?

Bapak Uskup mengatakan sesuai pilihan motto tahbisan merupakan bentuk pengalaman pribadi yang didasarkan pada gerakan cinta kasih Allah, sebagai pendampingan terhadap umat. Kasih Allah itu nyata dan menjadi imam bukan sebagi prestasi karena menyadari bahwa segala kekurangannya untuk mengasihi. “Secara manusiawi, dalam situasi kesulitan kita harus memampukan kasih Allah karena bukan suatu yang abstrak tetapi nyata,” ucap Mgr. Ruby

Dan bagi orang muda dalam menyikapi perkembangan Informasi Teknologi (IT) sebagai anugerah Allah. Sikap ugahari dengan memanfaatkan secara tepat seperti masa serba online mampu melakukan yang cocok. Gereja dalam modernitas merupakan anugerah dengan menemukan sesuatu untuk perubahan. “Mengikuti demi kemajuan kehidupan bersama,” kata Bapa Uskup.

Untuk Dimas Baruna sebagai alumni merasa ada dua poin penting selama sekolah di Pangudi Luhur. Sebuah sikap disiplin sekolah PL sangat dikenal dan biasanya berhubungan dengan frustrasi dalam menyikapi serta selalu diajak bereleksi melalui retret, rekolaksi sebagai pelatihan. Mengenai seksulitas antara budaya Jawa dan Eropa cukup berbeda. “Biaya kehidupan dalam perkawinan cukup mahal dan di Eropa anak telah berusia 17 tahun harus mandiri atau keluar dari rumah,” ujar alumnus yang sejak SD, SMP dan SMA di PL ini.

Sedangkan Bruder Martin menyikapii cinta kasih Tuhan terhadap umat manusia dengan puncaknya sengsara dan wafat. Sikap kasih dilakukan setiap hari lewat doa dan berbagi kasih dengan teman-teman. Tentang pandangan kedudukan pria dan wanita sejajar sesuai sejalan ciptaan Allah yang tidak membedakan. “Hakekatnya pria dan wanita saling melengkapi dalam kehidupannya,” ucapnya.

Kegiatan bincang santai semakin menarik dengan pandangan dari Ketua OSIS dan siswa berprestasi. Sebuah kata akhir bapak uskup mengacu pesan Paus “Jangan jemu berbuat baik yakni mengasihi sesama.”

FX Triyas Hadi Prihantoro (Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here