Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo: Kekuatan untuk Setia Mengikuti Yesus

54
Ignatius Kardinal Suharyo (HIDUP/Karina Chrisyantia)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COMMinggu, 10 April 2022, Minggu Palma Yes.50:4-; Mzm.22:8-9, 17-18a, 19-20, 23-24; Flp.2:6-11; Luk.22:14-23:56

HARI Minggu Palma Tahun Liturgi C dibacakan kisah sengsara menurut Lukas. Kita dapat bertanya mengapa kisah sengsara menurut keempat penginjil semuanya panjang? Beberapa alasan dapat diberikan.

Pertama, sudah sejak awal Gereja memahami sengsara dan wafat Yesus sebagai wujud kasih Allah: “… Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:6-8).

Kedua, sengsara dan wafat Yesus ternyata membantu atau bahkan menjadi dasar bagi Gereja untuk menggali makna pengalaman-pengalaman hidupnya. Sejak awal Gereja tidak pernah lepas dari penderitaan (lihat misalnya Kis. 4-5; 6-7; 8:1b-3 dst). Pengalaman-pengalaman seperti itu tentu menggoncangkan, dan maknanya tidak selalu jelas dengan segera. Apa yang harus dilakukan? Gereja membaca pengalaman-pengalaman itu dalam terang sengsara dan wafat Yesus.

Dalam terang itu, Gereja sampai kepada kesimpulan bahwa penderitaan mereka adalah bagian dari penderitaan Yesus (Kis. 4:23-30). Paulus secara pribadi mengatakan: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematiann-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Flp. 3:10-11). Di dalam suratnya yang lain Paulus menulis: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus” (Kol. 1:24).

Ketiga, perenungan seperti itu tidak terjadi tanpa tantangan. Yang paling mudah adalah mengatakan bahwa salib adalah kebodohan dan kekalahan. Berhadapan dengan sikap semacam itu, mau tidak mau Gereja harus terus berusaha untuk memperdalam keyakinan akan makna sengsara dan wafat Yesus, sehingga tetapdapat berkata, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kamu memberitakan Kristus yang disalibkan untuk orang-orang Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia” (1 Kol. 1:22-25).

Sementara itu, dibandingkan dengan kisah-kisah penginjil yang lain, kisah sengsara Lukas mempunyai pesan khusus bagi kita untuk dengan setia mengikuti Yesus. Ajakan itu dirumuskan dengan teliti oleh Lukas dalam kalimat-kalimat yang ia pakai untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa. Misalnya, waktu Yesus pergi ke Bukit Zaitun, Lukas menulis “murid-murid-Nya juga mengikuti Dia” (22:39).

Tidak seperti Matius dan Markus, Lukas tidak pernah menceritakan bahwa ketika Yesus ditangkap, para murid melarikan diri (Bdk. Luk. 22:47-53 dst.). Sebaliknya dikatakan bahwa “Petrus mengikuti” (22:54) meskipun dari jauh. Sangat menarik juga bagaimana Lukas mengisahkan peristiwa yang menyangkut Simon dari Kirene.

Simon dari Kirene ditampilkan sebagai teladan seorang murid yang memenuhi syarat yang diajukan oleh Yesus: “Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus” (Luk. 23:26).

Simon bukan sekadar seorang tukang angkat barang yang dipaksa membawakan salib Yesus tetapi ditampilkan sebagai teladan murid yang “memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Yesus” (Luk. 9:23).

Pertanyaan yang dapat muncul ialah dari manakah kita para murid Yesus dapat menerima kekuatan untuk terus setia mengikuti Yesus? Menurut Lukas jawabannya adalah pengalaman dikasihi oleh Tuhan. Inilah yang disampaikan dalam kisah penyangkalan Petrus menurut Lukas.

Pada akhir kisah penyangkalan ini, Lukas menyatakan “Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya, “Sebelum ayam berkokoh pada hari ini engkau telah tiga kali menyangkalAku” (Luk. 22:61).

Lukas tidak hanya berkisah mengenai Petrus yang dulu menyangkal Yesus, dan berbalik setia karena dikasihi (=dipandang) oleh Tuhan tetapi mengenai kita juga petrus-petrus dan petra-petra kecil pada zaman sekarang ini yang diundang untuk terus mensyukuri kasih Tuhan dan dengan demikian tetap setia mengikuti-Nya.

“Simon bukan sekadar seorang tukang angkat barang yang dipaksa membawakan salib Yesus tetapi ditampilkan sebagai teladan murid yang memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Yesus (Luk. 9:23).”

HIDUP, Edisi No. 15, Tahun ke-76, Minggu, 10 April 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here