Cinta Lingkungan, Cinta Sesama

36
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – APPN 2022 mengajak Gereja Katolik di Indonesia untuk menjadi sederhana dan peka terhadap bumi serta sesama di tengah pandemi.

SETIAP kali memasuki Masa Pra-Paskah, umat Katolik di Indonesia diajak masuk dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP). “Memulihkan Kehidupan,” dengan ajakan “Bumi Sehat – Kita Sejahtera” menjadi tema APP Nasional 2022 yang dicanang oleh Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Sekretaris Eksekutif PSE KWI, Romo Ewaldus menjelasakan, ada dua pertimbangan tema ini diangkat di tengah pandemi.

Pertama, pemilihan tema ini berangkat dari sebuah pertanyaan reflektif, bagaimana memulihkan dunia yang menderita dari kesusahan yang telah diperlihatkan dan dikuakkan oleh pandemi Covid-19?

Selama ini, usaha baik yang dilakukan pemerintah dan masyarakat sungguh luar biasa sehingga pandemi dapat diatasi meskipun belum tuntas. Pemulihan tersebut bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga masa depan kehidupan umat manusia yang lebih sehat dan tangguh, lebih sejahtera,  berkeadilan dan berkelanjutan (regeneratif).

Kedua, tema ini diinspirasikan oleh ajakan Paus Fransiskus, yang mengajak umat beriman untuk menghadapi dan mengatasi krisis, kesulitan yang dihadapi dengan melakukannya dalam terang Injil, keutamaan iman dan prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja (ASG).

“Kita semua dipanggil dan diutus oleh Yesus untuk terus mewujudkan karya keselamatan-Nya, yakni karya penyembuhan dan pemulihan baik secara fisik, sosial maupun spiritual. Pemulihan kehidupan untuk lebih baik dan sejahtera merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan semua orang,” tambah Romo Ewal

Menuntut Aksi Nyata

APP selalu meminta ada tindakan konkret yang mesti dilakukan sebagai wujud pertobatan, solidaritas, dan keterlibatan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.  Setiap keuskupan memiliki konteksnya sendiri maka yang dapat ditawarkan adalah hal-hal yang sifatnya umum dan terbuka. Beberapa tawaran berikut diinspirasikan oleh semangat Ensiklik Laudato Si’ serta ajakan Paus Fransiskus dalam konteks pertobatan ekologis. Tentu ada banyak hal yang masih dapat dilakukan selama Masa Pra-Paskah ini sebagai wujud nyata dan upaya untuk memulihkan kehidupan pasca pandemi Covid-19.

Menurut Romo Ewal, seringkali tema-tema APP Nasional maupun keuskupan-keuskupan sudah baik, aktual dan menyentuh persoalan hidup sehari-hari tetapi setelah Masa Pra-Paskah terlupakan dan disimpan baik-baik sebagai dokumentasi. Tidak ada keberlanjutan, padahal, harusnya berlanjut sebagai bagaimana iman berpuncak pada Paskah dan Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

APP selalu menuntut gerakan dan aksi nyata sebagai wujud dari pertobatan, solidaritas, dan keterlibatan nyata dalam kehidupan bermasyarakat dimana saja.

Romo Ewal menjelaskan, misalnya tantangan yang masih dihadapi bersama adalah konsumerisme.

“Konsumerisme merupakan sebuah ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang secara berlebihan, tanpa sadar dan berkelanjutan. Pembelian barang hanya berdasarkan nafsu/keinginan bukan kebutuhan (Bdk. Wikipedia). Nah, Paus mengajak kita semua melakukan pertobatan, menjadikan konsumerisme sebagai pengorbanan. Pengorbanan yang kita lakukan hendaknya berbuah pada kemurahan hati untuk berbagi,” ungkapnya.

Komisi PSE KWI sendiri, sebagai salah satu organ pastoral sosial KWI  menerjemahkan gerakan APPN dengan tema di atas dalam berbagai program dan kegiatan. Program tersebut berbentuk animasi (pendalaman iman) dan juga pemberdayaan ekonomi umat berbasis kekuatan yang dimiliki.

Romo Ewal turut menjelaskan contoh program yang sudah berjalan selama masa pandemi 2020-2022, antara lain ketahanan pangan dalam keluarga dan komunitas untuk membantu sesama yang terdampak ekonomi keluarganya. Bentuknya seperti pertanian, kuliner, perikanan, UMKM, dan sebagainya. Program-program tersebut adalah buah dari pertobatan dan wujud nyata solidaritas antar umat, yang membagikan apa yang dimiliki untuk memulihkan kehidupan bersama.

Berpihak kepada yang Miskin

Dalam Leaflet APPN 2022, Paus Fansiskus memberi tiga saran untuk perubahan dalam hidup supaya berbuah cinta kasih terhadap bumi dan masyarakat miskin. Mengganti konsumsi dengan pengorbanan, keserakahan dengan kemurahan hati, dan pemborosan dengan semangat berbagi.

Memaknai ini, Romo Ewal memaparkan ada tiga hal pokok dalam puasa, yakni doa atau Sakramen Tobat atau rekonsiliasi, pantang dan puasa, serta derma atau sedekah. Ketiganya integral. Lalu dalam gerakan APP puasa tersebut dimaknai dalam bentuk pertobatan, solidaritas, dan pengembangan manusia seutuhnya.

“Melalui gerakan APP ini, saran Paus dapat kita maknai. Makan secukupnya, belanja sesuai kebutuhan, hidup sederhana. Ubah keserakahan dengan kemurahan hati. Contoh Zakeus si pemungut cukai dapat menjadi model. Ingat juga harta benda dikaruniai Allah untuk kesejahteraan semua orang. Jangan serakah dan pelit!” terang Romo Ewal.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa kekayaan yang dimiliki selalu memiliki nilai sosial.   Membiarkan orang tetap miskin atau bahkan dimiskinkan dengan mengabaikan hak-hak mereka, bahkan merampasnya demi atas apapun menurut Romo Ewal itu sebuah kejahatan  dan tidak manusiawi.

“Idealnya tidak ada orang miskin, namun jika masih ada setidak-tidaknya kita ada bersama dan dipihak mereka. Itulah perjuangan kita bersama sebagai orang beriman untuk memulihkan kehidupan yang bermartabat,” ungkap imam yang ditahbiskan di Ngabang, 1 Februari 1992 ini

Memulihkan Relasi

Bagi Romo Ewal, masa tobat yang disediakan oleh Gereja  selama Masa Pra-Paskah merupakan kesempatan untuk memulihkan kembali relasi  pribadi – pribadi dengan Allah Bapa, dengan sesama dan alam semesta. Melalui tema APPN 2022 mengingatkannya pada ajakan Paus untuk melakukan pertobatan ekologis.

Anggota YOUCAT Indonesia melakukan aksi nyta merawat lingkungan dengan menyiram tanaman di sekitar Base Camp YOUCAT Indonesia di Surabaya.

Hal-hal biasa yang dapat dilakukan sebagai bentuk pertobatan seperti mengonsumsi makanan secukupnya, mengurangi penggunaan plastik, penggunaan air secukupnya, penggunaan AC seperlunya, membiasakan diri menggunakan transportasi umum, dan sebagainya (LS 211). Gereja dipanggil untuk hidup sederhana, bahagia dengan barang-barang secukupnya, dan secara rohani bebas dari obsesi konsumtif (LS 222).

“Saya mulai mewujudkannya dari hal-hal biasa dalam keseharian menyangkut konsumsi, mencintai sesama dengan memberi perhatian dan berbagi dari apa yang saya punya dan bisa lakukan, hidup sederhana dan seterusnya. Mari kita melakukan pemulihan kehidupan di bumi ini seperti yang diminta oleh Bunda Teresa: mulailah melakukan hal-hal  kecil demi kebaikan sesama dan bersama asal dengan cinta,” tutup kelahiran Jelimpo, 11 November 1963 ini.

Karina Chrisyantia

HIDUP, Edisi No. 16, Tahun ke-76, Minggu, 17 April 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here