Memahami Dogma “Maria Dikandung Tanpa Noda”

232
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM -AJARAN Gereja Katolik (Dogma) menyatakan, Maria, Bunda Allah yang kudus itu dikandung tanpa noda dosa. “Tidak mengherankan bahwa di antara para Bapa Suci menjadi lazim  untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa mana pun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk oleh Roh Kudus. Perawan Nazaret itu sejak saat pertama dalam rahim dikaruniai dengan semarak kesucian yang sangat istimewa” (Lumen Gentium 56). Namun di sisi lain, ada juga beberapa dari para Bapa Gereja yang menolak atau berkeberatan akan Ajaran Gereja ini. Hal ini akan kita dalami melalui beberapa penjelasan singkat dalam artikel berikut ini.

Tanpa Noda Dosa

          Gereja mengajarkan sebuah ajaran pokok iman mengenai siapa pribadi Maria yang dikenal oleh umat Katolik. Sebagai seorang mahasiswa, dan juga terutama sebagai anggota dari Gereja Katolik, hal ini sangat perlu untuk kita ketahui. Dokumen Lumen Gentium (LG) artikel 56 merupakan Dokumen Konsili Vatikan II yang menegaskan dogma tentang “Maria Dikandung Tanpa Noda”. Pada tahun 1854, Paus Pius IX menetapkan keyakinan Gereja itu menjadi dogma: “Perawan Tersuci Maria sejak saat perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal” (Bdk. DS 2803).

Pada awalnya, jauh sebelum Gereja mengukuhkan dogma ini, umat Katolik telah merayakan pesta Maria Dikandung Tanpa Noda setiap tanggal 8 Desember. Konsili Trente (1546) menyatakan bahwa berkat karunia istimewa, Maria seumur hidup bebas dari segala dosa, termasuk dosa ringan (Bdk. DS 1573).  Namun, hal itu bukan berarti bahwa Bunda Maria tidak lagi memerlukan penebusan dosa, melainkan bahwa Maria telah ditebus sejak saat pertama keberadaannya di bumi. Dalam ajaran iman dan moral Gereja mengatakan bahwa: Allah tidak bisa bersatu dengan dosa (Stanislaus Surip, 2007). Maria harus mengandung Putera Allah. Oleh karena itu, Ia harus menyediakan rahim yang tidak bernoda oleh dosa asal maupun dosa pribadi dan membuat Maria dikandung tanpa noda. Hal ini tidak terjadi dari pihak orang tuanya, melainkan dari, atas dan oleh kehendak Allah sendiri. Orang tua Maria tetaplah orang berdosa dan berdosa asal.

Dogma ketidakberdosaan ini khusus mengenai diri Maria. Namun, hal itu dapat kita bedakan dengan ketidakberdosaan Yesus Kristus, Putranya. Ketidakberdosaan Yesus terletak dalam diri-Nya sendiri, karena Dia adalah Allah, sedangkan ketidakberdosaan Maria berasal dari luar dirinya yakni karena relasinya dengan Allah, melalui Anaknya, Yesus Kristus. Maria terlindungi dari dosa pribadi dan tidak terkena dosa asal karena kasih karunia Allah. Maria tetap manusia seperti kita manusia, namun Maria memiliki hubungan yang sangat erat dengan Yesus dalam karya penebusan. Maria dibebaskan dari segala noda dari sejak awal hidupnya berkat rahmat penebusan Yesus Kristus yang sudah berlangsung sebelum Yesus sendiri lahir.

Nah, jadi Maria itu suci dan tak bernoda ialah karena Allah dan untuk Allah. Masih bingungkah kita? Ya, bagi kita manusia, hal ini mungkin tidak masuk akal. Namun bagi Allah tidak ada yang mustahil, sebab Allah tidak terikat tempat dan waktu. Meski demikian, Maria yang suci dan takbernoda itu juga mengalami akibat dosa dan terkena kemalangan manusia, seperti penderitaan dan kematian. Maria mati sebagai akibat dari dosa manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa, seperti halnya Yesus. Tetapi, kematian Maria tidak sama dengan kematian Yesus, sebab Yesus mati demi silih atau penebusan dosa-dosa manusia. Kematian Maria ialah kematian fisis-biologis semata dan bukan kematian fisis-teologis. Apa maksudnya? Kematian fisis-teologis ialah terpisah atau terputusnya secara definitif relasi manusia dengan Allah Penyelamat. Sedangkan itu, kematian fisis-biologis adalah kematian alamiah yang dialami oleh setiap makhluk, termasuk manusia karena kodratnya dapat mati. Demikianlah bahwa Maria mati sesuai kodrat manusiawinya yang dapat mati, tetapi ia tidak terpisah dari Allah berkat kasih karunia-Nya yang berlimpah di dalam Yesus Kristus.

Dalam hal ini, pemahaman iman yang dapat kita pelajari ialah bahwa Allah menyucikan hamba-hamba yang akan dipakai-Nya menjadi alat-Nya. Namun di antara hamba itu, Bunda Maria-lah yang suci dan berkelimpahan rahmat bahkan sejak ia dikandung seperti yang disampaikan malaikat “Gratia Plena (Penuh rahmat)/Engkau yang dikarunia” (Lih. Luk 1:28). Demikianlah Gereja mengimani bahwa Bunda Maria adalah suci sejak di dalam rahim ibunya, sebab Allah menyiapkannya untuk rencana-Nya yang lebih besar, yakni mengandung dan melahirkan Allah (Yang Kudus) (Lih. Mrk 1:24) di dan dari dalam rahimnya yang telah disucikanNya. Tentulah hal ini berangkat dari refleksi Gereja bahwa Allah tidak dapat bersatu dengan dosa. Oleh karena itulah, Allah sendiri menguduskan Bunda Maria agar ia layak dan pantas mengandung dan melahirkan Kristus.

Ajakan Meneladan Maria

          Ada dua hal yang perlu kita pelajari dari Bunda Maria. Pertama-tama berkaitan dengan perihal takut. Sebagai manusia biasa, siapa sih yang tidak takut? Demikianlah juga dialami oleh Maria, sebab ia juga manusia biasa. Namun, yang patut kita teladani di sini ialah iman Maria. Ya, dia adalah seorang beriman. Ketakutan Bunda Maria sirna oleh karena imannya kepada Allah. Yang kedua ialah iman.

Iman pada dasarnya merupakan rahmat dari Allah itu sendiri. Namun, iman itu tidak akan ada nilainya, tidak akan berbuah jika hanya melulu dari Allah dan tanpa tanggapan dari manusia. Seperti kisah seorang hamba yang menyembunyikan talenta di dalam tanah atau seperti tanah yang tidak menghasilkan apa-apa ketika benih ditaburkan. Iman itu akan sempurna apabila ada tanggapan dan kerja sama dari pihak manusia. Demikianlah Maria itu adalah lambang dari setiap kita, manusia, yang mau mendengarkan, merenungkan serta melaksanakan firman Allah, yang hingga kepadanya dihadiahi buah hingga seratus kali lipat, yakni tidak bernoda, suci dari sejak ia ada di bumi hingga wafatnya.

Mari kita meneladan iman Bunda Maria, menjadi hamba yang baik bagi Tuan kita, Allah. Mendengarkan, merenungkan, serta melaksanakan sabda-Nya, melakukan pekerjaan kita seturut kehendak-Nya. Hingga saatnya, suatu hari nanti, yakni di hari penghakiman, kita semua didapati-Nya layak dan beroleh mahkota kehidupan.

Iman pada dasarnya merupakan rahmat dari Allah itu sendiri. Namun, iman itu tidak akan ada nilainya, tidak akan berbuah jika hanya melulu dari Allah dan tanpa tanggapan dari manusia.

Frater Dominikus Irpan, Mahasiswa Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang/Calon Imam Keuskupan Agung Pontianak

HIDUP, Edisi No. 15. Tahun ke-76, Minggu, 10 April 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here