Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM: Perpisahan yang Mendatangkan Berkat

215
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 22 Mei 2022 Minggu Paskah VI, Kis.15:1-2,22-29; Mzm.67:2-3,5,6,8; Why.21:10-14,22-23; Yoh.14:23-29

 BETAPA sedihnya hati kita apabila harus berpisah dengan mereka yang kita cintai. Kita merasa kehilangan seseorang yang sudah menjadi bagian hidup kita. Seorang misionaris dari luar negeri yang berpuluh-puluh tahun telah hidup menyatu dengan umat, bila berbalik kembali ke tanah airnya dan tidak akan kembali lagi, akan diratapi oleh umat. Umat merasa berat sekali melepaskan pastor yang puluhan tahun bersama mereka. Maka perpisahan dengan pastor yang dicintainya membawa kesedihan yang mendalam.

Demikiaan pula para rasul. Kata-kata Yesus amat menyentak hati mereka, “Hai anak-anak hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu…” ( Yoh. 13: 33 )…sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh. 14:12 ). Inilah kata-kata perpisahan Tuhan Yesus yang tidak diharapkan oleh para murid-Nya. Ucapan Yesus itu menimbulkan macam-macam perasaan. Rasa gelisah dan takut, berhadapan dengan bayang-bayang masa depan yang menantang dan mengancam hidup mereka. Dalam perjalanan ke depan mereka merasa kehilangan seorang andalan, sementara terbayang di depan mereka ancaman dan penolakan.

Namun Tuhan tidak berhenti dengan kata-kata tersebut di atas. Ia meneruskan dan melengkapinya dengan kata-kata yang menguatkan hati para murid. “…tetapi Penghibur yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” ( Yoh. 14:26 ).

Perpisahan ternyata bukan saja saat kehilangan seseorang yang membuat kita sedih, tetapi mengandung makna lebih dalam dan lebih luas melewati batas kesedihan belaka. “Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku…” (Yoh. 14: 28 ). Mereka akan bersukacita karena walaupun Tuhan Yesus akan berangkat meninggalkan mereka secara jasmani, tetapi akan terus tetap tinggal bersama mereka.

Tuhan akan tinggal dengan para murid melewati batas ruang dan waktu. Di mana dan kapan pun mereka berada, Tuhan akan bersama mereka. Ini adalah cara kehadiran yang berbeda dibandingkan dengan yang sekarang. Ia akan bersama dengan para murid-Nya melalui Roh Kudus-Nya. Roh Kudus itu adalah daya kekuatan Ilahi-Nya yang membantu menyertai perjalanan perutusan para murid selanjutnya.

Roh Penolong

Dia adalah Roh penolong kita dalam perjalanan sebagai murid sekaligus utusan-Nya. Ia akan mengingatkan para murid apa yang pernah disampaikan Yesus kepada mereka. Ia memberi terang pencerahan budi dan hati di kala menghadapi persoalan dan membutuhkan penjelasan. Bahkan Roh itu memberi pembelaan pada waktu mereka  menghadapi tantangan dan ancaman di tengah kesaksian imannya.

Karunia Roh Kudus itu berharga sekali bagi para murid-Nya sepanjang zaman, sejak zaman para rasul sampai zaman kita sekarang ini. Telah lebih dari 20 abad persekutuan orang-orang yang percaya – Gereja Yesus Kristus – dalam perjalanan sejarahnya tidak punah oleh karena Roh Kudus selalui menyertainya.

Dalam sejarahnya, Gereja mengalami kesulitan, penolakan, pengejaran bahkan penganiayaan di mana-mana, namun Gereja tetap memperlihatkan keberadaannya di tengah dunia. Karya Roh Tuhan itu luar biasa dalam hidup kita maka kita pantas bersyukur dan bersukacita.

Bacaan Pertama yang diambil dari Kisah Para Rasul memperlihatkan bagaimana Gereja perdana menghadapi persoalan yang muncul di tengah umat Yahudi, yang menuntut orang- orang yang bukan Yahudi harus menjalani salah satu adat istiadat bangsa itu, yakni bersunat. Masalah ini tidak mudah dipecahkan bagi Petrus dan kawan-kawannya. Namun berkat bantuan Roh Tuhan yang memberi pencerahan melalui sebuah penglihatan, masalah pastoral itu dapat diselesaikan dan dapat diterima oleh orang Kristen yang berbangsa Yahudi.

Memampukan Kita

Roh Kudus itu pula yang memberdayakan kita sehingga kita mampu menuruti firman-Nya. Firman dalam konteks perikop ini adalah perintah Tuhan untuk saling mengasihi. Kita dimampukan oleh Roh Kudus melaksanakan perintah itu. Menjadi saksi-saksi cinta kasih. Mampu meneladani Yesus Tuhan dan Guru kita yang hidup bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

Kita menyaksikan saudara dan saudari kita yang secara pribadi maupun melalui lembaga-lembaga memperlihatkan kerelaannya untuk melayani dan berbagi dengan sesama, teristimewa bagi yang membutuhkannya. Melalui pelayanan-pelayan cinta kasih itu, kita menyaksikan kembali kehadiran Yesus yang membasuh kaki para murid-Nya dan berkata, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh. 13: 14 ).

Di tengah dunia yang ditandai oleh perebutan kesempatan, bersaing berebut kekuasaan, atau kerakusan menumpuk harta kekayaan untuk dirinya sendiri, Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk melayani, memberikan kesaksian hidup berbagi, hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk sesama juga.

Di banyak tempat kita menjumpai banyak saudara atau saudari yang berjuang dengan susah payah memenuhi kebutuhan pokok mereka sehari-hari, atau mereka yang menderita sakit, atau mereka yang merindukan pendidikan yang memadai bagi anaknya. Dalam situasi demikian, kita dapat menjumpai hadirnya rasa setia kawan dari saudara-saudara lain. Kita menjumpai kehadiran banyak saudara dengan kepeduliannya menemani perjalanan saudara lain yang berkekurangan dan sarat kesulitan dan tantangan.

Menciptakan Damai

Tuhan Yesus juga menjanjikan damai sejahtera bagi para murid-Nya. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu…” (Yoh. 15:27). Damai itu bukan pertama-tama keadaan adem ayem (Jawa: rasa tenteram), senang tenteram tidak ada perang dan tidak ada masalah dan persoalan. Tetapi damai sejahtera yang diberikan Yesus, dalam pengertian dengan daya kekuatan Roh Kudus yang dikaruniakan oleh Tuhan Yesus yang memampukan kita para murid-Nya bisa mengubah sesuatu dari keadaan negatif menjadi lebih positif.

Kita tetap tinggal berpengharapan sekalipun kadang dikecewakan, bertegar hati dan mengalami penghiburan di tengah penderitaan, mampu menghalau kebencian dan rasa dendam serta memiliki kebesaran hati untuk memaafkan bagi mereka yang pernah menyakiti. Kemampuan-kemampuan seperti itu sulit dilakukan dengan kekuatan insani kita tetapi dimungkinkan bagi murid-murid Yesus yang diberi karunia Roh Kudus. Daya ilahi itu memiliki kuat kuasa yang mampu mengubah dan membaharui sikap dan pengalaman hidup kita.

Maka damai sejahtera itu merupakan sebuah pengalaman pembebasan diri dari belenggu- belenggu kejahatan yang menghalangi kita menempuh hidup baru. Kita tetap bisa menempuh jalan kemuridan dengan keteguhan iman, dengan sukacita, dan tetap merasakan kehadiran Tuhan yang menyertai kita.

Marilah kita mohon rahmat Tuhan supaya kerinduan hati kita dikobarkan untuk menerima Roh Kudus yang dijanjikan oleh Tuhan kepada kita.

“Kita tetap tinggal berpengharapan sekalipun kadang dikecewakan, bertegar hati dan mengalami penghiburan di tengah penderitaan, mampu menghalau kebencian dan rasa dendam serta memiliki kebesaran hati untuk memaafkan bagi mereka yang pernah menyakiti. Kemampuan-kemampuan seperti itu sulit dilakukan dengan kekuatan insani kita tetapi dimungkinkan bagi murid-murid Yesus yang diberi karunia Roh Kudus.”

HIDUP, Edisi No.21, Tahun ke-76, Minggu, 22 Mei 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here