Tantangan Sekolah Katolik: Menjadi Saksi Kristus dalam Pelayanan Pendidikan

578
5/5 - (5 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – BANYAK sekolah di berbagai tempat mengalami proses transformasi kelembagaan yang tidak mudah di tengah-tengah perubahan zaman yang begitu cepat dan dinamis. Teknologi dalam revolusi industri 4.0 menggoda banyak lembaga pendidikan untuk melakukan perubahan dalam skala kecil maupun besar. Pendidikan di tingkat usia dini, dasar, dan menengah, sekarang sedang mengalami proses modernisasi pendidikan secara masif dan terstruktur. Proses modernisasi dalam banyak segi dipengaruhi oleh logika instrumental yang berbasis pada teknolog kekinian guna mendukung pengadaan sarana prasarana yang dibutuhkan. Dalam menghadapi perubahan yang begitu cepat dan dinamis, apakah sekolah-sekolah Katolik berkenan masuk ke dalam pusaran arus perubahan zaman? Pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan memperhatikan beberapa aspek di dalamnya, mulai dari identitas lembaga, sampai arah dan tujuan mengapa sekolah Katolik didirikan.

Sekolah Katolik berdasarkan Kanon 803, §§ 1-2, didefinisikan sebagai suatu lembaga pendidikan formal yang dipimpin oleh otoritas gerejani yang berwenang atau oleh badan hukum gerejani publik atau yang diakui demikian oleh otoritas gerejani melalui dokumen tertulis. Dalam sekolah Katolik, pengajaran dan pendidikan dilaksanakan berdasarkan azas-azas ajaran Katolik. Para pengajar atau pendidik diharapkan menjadi teladan hidup, dan unggul dalam ajaran kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka dalam lingkungan sekolah Katolik berupaya menjawab kebutuhan masyarakat kontemporer — yang dicirikan oleh depersonalisasi dan mentalitas produksi massal yang begitu mudah dihasilkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi — secara baik dan benar.

Dalam mengejar percepatan kemajuan zaman, pimpinan lembaga pendidikan perlu mengambil sikap jelas, yaitu melakukan transformasi lembaga dengan memperhatikan akar tradisi yang sudah baik, dan berkembang selama ini di dalam sekolah. Transformasi tersebut dibuat guna menjawab tantangan zaman, dengan tetap memperhatikan dimensi moralitas Kristiani. Nilai-nilai moral menurut Magliano (dalam angelusnews.com, 2018), ditanamkan secara komprehensif ke dalam mata pelajaran dan suasana keseluruhan lembaga pendidikan, memiliki potensi kuat untuk membentuk para murid tidak hanya peduli dengan karir masa depan mereka, tetapi jauh lebih penting, tentang kesejahteraan dan kebaikan setiap orang secara keseluruhan.

Pimpinan sekolah Katolik dalam tugas pokok dan fungsi, guna mengawal secara cermat proses transformasi melakukan perencanaan dan tindakan strategis dalam berbenah memperbaiki kualitas layanan pendidikan. Pengurus yayasan bersama unsur pimpinan sekolah sebaiknya tidak ceroboh dalam menanggapi perubahan. Perubahan zaman ditanggapi secara wajar dan proporsional, dengan tetap memperhatikan kehati-hatian, sebab kalau tidak, dapat saja transformasi malah merusak maksud dan tujuan mengapa sekolah Katolik tersebut didirikan. Transformasi terhadap layanan pendidikan dilakukan secara bertahap. Dalam perbaikan layanan edukatif, sekolah Katolik perlu memperhatikan kompas pendidikan Kristiani, yaitu formasi yang berorientasi pada nilai-nilai keutamaan hidup dan moralitas mulia yang dapat diterima secara universal.

Sekolah Formasi Otentik

Dalam situasi dunia yang mudah berubah, sekolah Katolik diharapkan dapat berkembang menjadi sekolah formasi otentik bagi para murid yang dilayani. Para formator di tingkat satuan pendidikan terlibat aktif mengembangkan aneka potensi para murid agar mereka dapat bertanggung jawab dan sekaligus mampu menggunakan hati nurani secara baik dalam diskresi, yakni memilih dan memilah hal-hal yang luhur untuk semakin besar kemuliaan Allah. Dalam konteks tersebut, sekolah sebagai rumah formatif formal dapat berfungsi secara baik membentuk pribadi para murid belajar membuka hati terhadap kehidupan nyata apa adanya, dan dalam diri mereka tercipta sikap hidup yang pasti terhadap kehidupan sebagaimana mestinya. Dalam Amsal 9:9, sangat jelas diuraikan bahwa nasihat bagi orang bijak membuat pribadi yang bersangkutan menjadi lebih bijaksana; dan mengajarkan orang benar, menjadikan pengetahuannya bertambah.  Sesungguhnya para murid adalah pribadi yang bijak dan benar pada tingkat usia mereka. Oleh karena itu pendidik yang arif bijaksana dapat membantu mereka bertumbuh untuk menjadi lebih bijak, dan benar sesuai keutamaan moral dan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Guru sebagai pendidik di zaman kerap berubah perlu mengajarkan para murid memahami suara tersembunyi alam semesta, Pencipta yang diungkapkan. Melalui ilmu sains, para murid diharapkan semakin dapat mengenal Tuhan dan manusia secara lebih baik. Dalam kehidupan sekolah sehari-hari, para murid perlu belajar menjadi saksi hidup kasih Allah bagi sesama melalui tindakan yang mencerminkan kasih Kristus terhadap dunia, karena bagaimanapun manusia dapat menjadi kepanjangan Tangan Tuhan, dalam karya keselamatan Allah. Bapa Suci, Paus Fransiskus (dalam catholicnewsagency.com, 28/05/2022) mengatakan bahwa Catholic schools should not be Christian in name only, but in fact. Sekolah-sekolah Katolik seharusnya tidak hanya dalam nama (Katolik) saja, tetapi juga pada kenyataannya. Paus menegaskan bahwa pendidik dalam sekolah Katolik, pertama-tama adalah seorang saksi, dan dia disebut guru sejauh dia menjadi saksi Kristus. Paus menambahkan bahwa pendidik yang berjalan bersama Kristus hidupnya diubah dan pada saatnya guru tersebut dapat menjadi ragi, garam, dan terang bagi para murid dan pemangku kepentingan yang dilayani.

Dalam dokumen Kongregasi Suci untuk Pendidikan, yang diterbitkan tanggal 19 Maret 1977, kesaksian para pendidik dan tenaga kependidikan merujuk pada nilai-nilai Kristiani yang secara universal dapat diterima. Segenap anggota komunitas pendidikan diharapkan dapat mengomunikasikan core values lembaga lewat hubungan interpersonal dan tulus para anggota di dalamnya, dan melalui kepatuhan individu maupun bersama terhadap pandangan hidup luhur yang meresapi sekolah. Seorang guru yang penuh hikmat Kristen, dipersiapkan baik dalam mata pelajaran-nya sendiri, melakukan lebih dari sekedar menyampaikan arti dari apa yang dia ajarkan kepada para murid. Lebih tinggi daripada yang dikatakan, pendidik membimbing para murid melampaui kata-katanya ke inti “Kebenaran” yang sesungguhnya berasal dari Allah.

Pedagogis Reflektif

Bentuk kesaksian sekolah Katolik dalam menghadirkan Kerajaan Allah dalam komunitas pendidikan diwujudkan melalui pelayanan pendidikan yang penuh kasih, berintegritas dan kemudian berdampak positif bagi para murid yang dilayani. Para pendidik selain mempunyai kecerdasan kognitif yang baik, mereka juga dibekali konsep pedagogis reflektif yang dapat diterapkan dalam kurikulum pembelajaran. Mereka dilatih membuat diskresi, memilah mana bahan ajar yang esensial dan tidak untuk diberikan kepada para murid. Para guru diharapkan dapat melakukan aktivitas pembelajaran lebih daripada sekedar menyampaikan arti dari apa yang diajarkan kepada murid-murid. Mereka, selain menyampaikan bahan ajar, juga membimbing murid-murid melampaui kata-kata, untuk masuk ke inti kebenaran yang sesungguhnya dari apa yang diajarkan. Dalam sekolah Katolik, pengetahuan manusia dianggap sebagai kebenaran yang diupayakan untuk ditemukan. Penemuan dan kesadaran akan kebenaran membawa manusia pada penemuan Kebenaran (yang ilahi) itu sendiri.

Para pendidik dalam kesaksian, menunjukkan kualitas pelayanan pendidikan melalui berbagai bentuk formasi terukur dalam mendampingi para murid. Formasi yang terukur untuk mengembangkan manusia dari kedalaman hati melalui cura personalis atau bantuan personal guna membebaskan para murid dari hal-hal yang menghalangi mereka menjadi manusia seutuhnya. Oleh karena itu proses formasi para murid perlu ditunjang oleh ketersediaan guru-guru yang berkualitas dan berkarakter unggul. Para pendidik berkualitas unggul bukan dibentuk dalam cara-cara yang instan, tetapi melalui formatif yang panjang. Para guru muda dalam sekolah Katolik sejak dini perlu didampingi dalam proses induksi oleh kepala sekolah atau wakil bersama guru senior secara baik dan terukur. Dalam lima tahun pertama diharapkan guru muda tersebut sudah mempunyai orientasi keguruan secara jelas, sehingga mereka mengerti apa yang menjadi tanggung jawab pendidik.

Tak Sekadar Nama

Sebagai catatan akhir, penulis menyimpulkan bahwa sekolah Katolik bukan hanya namanya “Katolik”, tetapi juga secara real mencerminkan kesaksian karya nyata yang berkualitas. Sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas sekolah Katolik perlu memperhatikan kualitas kinerja para pendidik dan tenaga kependidikan dalam mengelola sekolah yang mereka tangani. Pengelolaan pendidikan secara profesional pada satu sisi sangat penting, tetapi bagi sekolah Katolik, sisi nilai-nilai Kristiani yang berorientasi pada dimensi moralitas mulia tetap dipertahankan dan dikembangkan dalam cara bertindak segenap anggota komunitas yang berada dalam lingkup lembaga. Cara bertindak Kristiani merupakan bentuk kesaksian di tengah arus perubahan zaman yang semakin pragmatis dan sekular. Semoga pendidikan di sekolah Katolik — di tengah perubahan zaman yang begitu cepat dan dinamis –, tetap dapat bercirikan nilai-nilai universal yang berbasis pada ajaran Kristiani guna merangkul setiap murid yang belajar dan bersekolah.

Romo Odemus Bei Witono, SJ, Direktur Perkumpulan Strada/Pengamat Pendidikan

HIDUP, Edisi No. 26, Tahun ke-76, Minggu, 26 Juni 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here