Para Pengungsi Pun Diajak Berlari pada CC5K

357
Garis start CC5K (Foto: Adhi Irawan Anondo)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – CC5K merupakan ajang lari tahunan yang diselenggarakan oleh Canirunner, sebuah komunitas lari alumni Kolese Kanisius. Setiap tahun CC5K selalu membawa pesan sosial dalam tema mereka.

Setelah dua tahun tidak terlaksana karena pandemi, CC5K tahun ini mengambil tema Run with Refugee. Harapannya mereka bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat luar bahwa ada pengungsi di sekitar mereka.

“Kami mau memberikan awareness kepada masyarakat bahwa refugee itu adalah orang baik yang bernasib kurang baik sehingga terdampar di negara kita.” begitulah kata Pak Glenn Sebastian, alumnus CC98 dan juga panitia penyelenggara kegiatan ini.

Pengungsi yang ikut CC5K (Foto: Adhi Irawan Anondo)

Lari maraton 5Km ini sudah yang keenam kalinya terlaksana. Pertama kali kegiatan lari ini diadakan pada tahun 2015, lalu sempat vakum saat pandemi Covid-19 melanda dunia. “Selama pandemi, para alumni lebih memilih untuk menyelenggarakan vaksinasi massal daripada lomba lari marathon. Maka dari itu CC5K 2022 ini adalah yang pertama kali sejak pandemi berlangsung,” kata Romo Heru Hendarto, SJ, mantan rektor Kolese Kanisius.

Ada peserta yang ikut dengan kursi roda.(Foto: Adhi Irawan Anondo)

CC5K tahun ini diikuti setidaknya oleh 1300 pelari yang terdiri dari keluarga besar Kanisius (pengelola, guru, siswa, alumni dan keluarga), alumni dan keluarga sekolah-sekolah lain seperti SMA Santa Ursula, SMA De Britto Yogyakarta, SMA Kolese Loyola, dan lain sebagainya pengungsi dan staf dan aktivis dari organisasi pengungsi dan masyarakat umum. Setidaknya ada kurang lebih 30 pengungsi yang ikut berlari bersama dalam acara ini.

Lari maraton dimulai pada pukul 06.00 WIB di Kolese Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat. Panitia menyediakan enam pelari pacer dalam tiga jenis waktu yang berbeda. Pacer merupakan pelari yang menjadi patokan, tolok ukur, ataupun motivasi bagi pelari lain yang berstatus peserta lomba. Para pacer menggunakan balon sebagai penanda mereka. Ada pacer untuk waktu 25 menit, 30 menit dan 35 menit.

Para pemenang kategori pelari putri.(Foto: Adhi Irawan Anondo)

Setelah berlari, para pengungsi membuka stan di pinggir lapangan futsal Kolese Kanisius. Mereka menyediakan makanan khas Afganistan yang bernama Bolani secara gratis. Bolani merupakan roti pipih yang diberi isi dengan bermacam bahan, kemudian digoreng.

Selain itu, Jesuit Refugee Service sebuah karya yang dikelola oleh para Jesuit untuk melayani para pengungsi juga membuka stand di dalam gedung olahraga Kolese Kanisius. Mereka menjual beberapa karya tangan para pengungsi seperti gantungan kunci, tas, dan sebagainya.

Para pemenang kategori pelari pria. (Foto: Adhi Irawan Anondo)

Acara lari ini diakhiri dengan penyerahan hadiah untuk tiga pelari putra dan tiga pelari putri yang tercepat. Dari golongan pelari putra, Wilder Karolis menjadi yang tercepat dengan waktu 16 menit 55 detik. Disusul oleh Ernesto Irawan dengan catatan waktu 17 menit 54 detik dan Martin Gabriel dengan catatan waktu 18 menit 2 detik.

Untuk para pelari putri, Evani Tama menjadi pelari putri yang tercepat dengan catatan waktu 22 menit 13 detik, disusul oleh Monica Felicia dengan waktu 22 menit 15 detik dan Novi Rosita Dewi dengan catatan waktu 22 menit 21 detik.

Feliks Erasmus Agra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here