Merasakan Ulos Saat Misa di Gereja Alam Sutera

395
5/5 - (9 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Hari masih pagi, saat aku tiba di parkiran. Kulirik jam baru menunjukkan pukul 07.10. Aku bergegas memasuki halaman gereja. Ada pemandangan berbeda pagi ini, sangat nampak keceriaan dari beberapa umat yang mengenakan pakaian adat Batak, dengan ulos dan topi yang khas. Beberapa pria nampak menggunakan jas dan berdasi serta tak ketinggalan ulos.

Perarakan menuju gereja

Hari itu adalah Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam dan Gereja Laurensius Paroki Alam Sutera pada Misa pukul 08.30 merayakannya secara meriah dengan menerapkan   nuasa adat Batak. Jauh hari sebelumnya kepada umat sudah dihimbau agar dapat menggunakan pakaian bercorak adat Batak. Sedangkan petugas liturgi akan dipakaikan ulos.

Suasana di dalam gereja

Ulos, sebuah kata yang cukup sering kudengar. Namun baru kali ini aku berkesempatan menyentuh, memegang, dan memakainya. Kain hasil tenun khas masyarakat Batak ini ternyata cukup tebal. Lebarnya sekitar 30 cm dengan panjang sekitar 2 meter. Saat kain tenun berwarna merah gelap bercampur benang-benang emas bersanding di pundak kananku, ada  rasa nano-nano berkecamuk dalam hati. Senang, takjub, tak percaya, terharu sekaligus juga rasa hangat. Menurut mbah google, ternyata salah satu fungsi ulos memang untuk menghangatkan tubuh pemakainya.

Iringan musik tradisional Batak Toba

Kehadiran ulos yang dominan berwarna merah dengan kombinasi benang emas  dan motif tenun yang indah,  membuat kami yang berada di ruang ganti pakaian,  ikut merasakan kegembiraan. Kami saling melempar celotehan serta sibuk berfoto ria setelah mengenakan ulos ini. Maklum, ini pengalaman pertama bagi hampir semua dari kami yang hari itu bertugas.

Anggota kor

Bagi sebagian besar umat, sepertinya ini juga kali pertama mereka mengalami Misa dengan nuasa adat Batak. Terbukti saat prosesi memasuki gereja dan berjalan di koridor menuju altar, hampir semua umat yang berdiri di kanan-kiri koridor, memegang HP untuk mengambil foto-foto atau merekam video. Mereka enggan melupakan dan ingin menyimpan momen indah ini.  Foto dan video ini pasti akan dibagikan pula kepada kerabat dan teman, karena bangga menjadi bagian dari peristiwa langka ini.

Nuasa Batak tidak hanya tercermin dari pakaian, namun juga terasa dari hiasan interior gereja. Kain-kain tenun berukuran besar beraneka motif tergantung di dinding railing balkon sayap kanan dan kiri gereja. Beberapa tiang kolom di aula juga diberi hiasan kain tenun.

Anggota kor

Selain hiasan ada juga alat musik khas Batak yakni kecapi, suling, dan taganing yang melengkapi keyboard gereja. Alat-alat musik ini mengiringi koor yang hampir semua anggotanya menggunakan pakaian adat berwarna merah meriah. Mereka menyanyikan lagu-lagu liturgi dengan indahnya.   Beberapa lagu bahkan aransemennya pun diubah bernuasa Batak yang bernada riang.

 

Misa dipersembahkan secara konselebran oleh tiga imam, dengan Romo Hadi Suryono, selaku Pastor Kepala sebagai konselebran utama. Romo nampak sukacita, wajahnya berseri, menyapa dengan horas.

Romo Hadi Suryono (depan kanan) disambut menunju GKP untuk ramah tamah.

Di awal homilinya, Romo Hadi menyampaikan rasa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang telah berhasil dalam KTT G20. Sekaligus juga bangga karena Gereja Laurensius dapat menampilkan dan melibatkan berbagai unsur anggota Gereja. Walau jumlah umat Batak di Paroki Alam Sutera tidak banyak, namun mampu menampilkan nuansa adat Batak secara memukau.

Bagi Romo, apa yang di tampilkan dalam gereja saat itu, tak kalah indahnya dibanding suasana GWK saat makan malam peserta KTT G20.

Ia berharap di masa mendatang, paroki dapat menyelenggarakan Misa dengan nuansa adat lain, sehingga keberagaman suku-suku Indonesia dapat diangkat, dialami oleh umat.

Suasana Misa terasa lebih menyentuh hati, karena Misa kali ini juga bertepatan dengan penyelenggaraan Misa bersama UBK.

Lektris dan pemazmur yang tampil adalah dari UBK. Sementara di sayap Maria, duduk rekan-rekan tunarungu yang didampingi oleh juru bahasa isyarat. Tak mau kalah, mereka pun  melengkapi diri dengan menggunakan ulos.

Manortor (menari) bersama saat ramah tamah.

Selesai Misa, semua umat diundang untuk mengikuti ramah-tamah di GKP. Ada pertunjukan tarian dan nyanyian. Serta menikmati makanan khas Batak.

Senangnya boleh mengalami sedikit nuansa adat Batak kali ini. Apalagi ini diusahakan oleh paroki. Sebagai satu anggota Tubuh Kristus, kami dapat saling menghargai.

Fidensius Gunawan (Kontributor, Tangerang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here