Satu Jam Delapan Belas Menit Belajar Selalu Beryukur kepada-Mu

220
Foto ini hanya untuk ilustrasi (Ist.)
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – JAM di hape saya menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit, ketika saya baru saja selesai dari aktivitas lari pagi hari ini. Selama satu jam lebih delapan belas menit, saya berlari sendiri menggelilingi jalan-jalan di kompleks rumah.

Hari ini cuaca agak mendung karena saya melihat awan berwarna abu-abu di beberapa bagian langit sedang berkumpul. Terasa semilir angin dingin menerpa wajah ketika saya berlari melewati jalan-jalan di kompleks rumah ini.

Baru tiga puluh menit saya berlari dan tubuh ini terasa panas, tiba-tiba terlihat ada titik-titik halus air turun ikut berlarian pula melintas di depan saya. Sejenak saya berpikir, terus lari atau pulang ya? Saya lalu menengadah ke langit, mencoba untuk meneropong dan menganalisa.. hmmmmm. (agak sok tahu sedikit saya…)

Lalu saya pun memutuskan untuk tetap melanjutkan lari pagi ini. Paling-paling basah kehujanan, pikir saya sambil tersenyum sendiri. Tetapi ternyata pagi ini Tuhan memberikan cuaca yang sangat baik. Matahari mulai beranjak naik dan bersinar dengan sangat teriknya, walaupun sekali-sekali sinarnya tertutup oleh sekelompok awan.

Saya paling senang berlari sendirian di jalan-jalan di dalam kompleks rumah, karena pastilah aman dari kendaraan yang ngebut. Banyak aneka bunga dan pohon buah yang bisa saya lihat di pekarangan rumah tetangga-tetangga di sepanjang jalan yang saya lalui. Warna-warni  bunga dan keasrian pekarangan rumah tetangga memotivasi saya untuk tetap rajin memelihara dan merawat tanaman yang ada di pekarangan rumah.

Saya bertemu dengan banyak orang yang mulai datang dan pergi untuk bekerja. Terlihat banyak juga tetangga-tetangga saya yang rajin memanfaatkan udara dan cuaca pagi hari ini untuk berolahraga dan berjemur.

Saya juga sering bertemu dengan beberapa oma  yang duduk di kursi rodanya  untuk berjemur, walaupun hanya di depan rumahnya. Bisa menyapa  oma-oma ini merupakan suatu sukacita dan suatu berkat buat saya untuk mau belajar menjaga kesehatan tubuh ini.

Selama satu jam lebih delapan belas menit ini saya sangat bersyukur kepada Tuhan Sang Mahakasih. Sambil berlari saya bisa sedikit merenungkan apa arti pemberian kehidupan di dalam hidup saya dan keluarga. Pemberian Tuhan yang cuma-cuma ini apakah bisa saya pahami, pelajari, pelihara dan lakukan dengan baik sesuai keinginan-Nya?

Saya terus berusaha dan belajar untuk bisa mengerti keinginan Tuhan atas hidup ini. Walaupun saat ini masa pandemik Covid-19 belum berakhir dan cenderung mulai bertambah banyak lagi yang terkena virus ini.

Belum lagi di tambahkan efek jangka panjang perang antara Rusia dan Ukraina yang tidak jelas kapan akan berakhir sehingga membuat harga-harga kebutuhan pokok hidup ikut-ikutan naik.

Saya sebagai ibu rumah tangga sudah sangat mengencangkan ikat pinggang supaya setiap bulan kebutuhan ekonomi rumah bisa tercukupkan. Oleh karena itu saya harus lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dan membelanjakan sesuatu.

Saya bersyukur untuk apa? Untuk semua yang telah Tuhan berikan. Karena kesempatan dan Kerahiman Tuhan selalu hadir di dalam hidup ini.

Napas kehidupan yang Tuhan berikan ketika saya bangun dari tidur lelap kemarin malam. Saya masih diberikan kesempatan untuk bisa bertemu kembali dengan suami dan anak-anak.

Kesehatan tubuh dan pikiran yang Tuhan berikan sehingga saya masih bisa berolahraga, beraktivitas, berkarya dan berkomunitas setiap hari, walaupun tubuh ini sudah tidak muda lagi.

Kesempatan yang Tuhan berikan untuk saya bertobat, memperbaiki diri, lebih sabar, lebih bijaksana, mawas diri dan mau berbagi melalui segala talenta yang telah disediakan.

Belum lagi saya juga masih belajar terus untuk bisa memahami keinginan Tuhan, ketika saya berjumpa dengan orang-orang yang tidak baik atau yang menjatuhkan semangat hidup ini. Tetapi saya selalu percaya bahwa setiap perjumpaan dengan banyak orang, baik ataupun tidak baik keadaannya, Tuhan punya maksud tersembunyi.

Tuhan pasti akan memberikan pelajaran yang baik untuk mendewasakan iman saya. Ketergantungan saya akan belas kasih Tuhan sangatlah dalam, untuk bisa memahami dan mengerti semuanya itu.

Percayalah kepada Tuhan dengan sepenuh hatimu. Jangan bergantung kepada pengertianmu sendiri. Ingatlah akan Tuhan dalam segala perbuatanmu, dan Dia akan menunjukkan cara hidup yang baik kepadamu. (Amsal 3:5-6)

Oleh karena itu semua saya sangat bersyukur dalam satu jam lebih delapan belas menit pagi ini, Tuhan selalu mengingatkan saya akan Kuasa dan Kerahiman-Nya di dalam kehidupan ini. Melalui semua kerapuhan dan kelemahan saya, saya belajar memuji dan memuliakan Dia. Dia selalu ada dan hadir untuk hidup saya dan keluarga. Dengan segala mukjizat dan keajaiban yang diberikan-Nya. Hanya karena belas kasih-Mu saya ada sampai saat ini.

Sepenggal syair lagu At My Worst  yang dinyanyikan oleh Pink Sweats,  terdengar saat itu mengiringi langkah serta menutup permenungan sukacita saya pagi ini.

I need somebody who can love me at my worst
No, I’m not perfect, but I hope you see my worth
……..
Oh, oh, oh, don’t
Don’t you worry
I’ll be there, whenever you want me

Terima kasih Tuhan, Engkau selalu baik bagi hidupku dan keluargaku.

Eviantine Evi Susanto, Kontributor, Ibu Rumah Tangga, Alumni KPKS Tangerang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here