Tahbiskan Tiga Imam dan Tujuh Diakon, Uskup Bogor Tekankan Pentingnya Kerendahan Hati dalam Melayani Umat

521
Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Syukur Bruno, OFM berfoto bersama Romo Nicholaus Yudi Ardhana Mahandika, Romo Timothy Faber, CSE; Romo Eusebius Paulus, CSE ; para imam dan tujuh diakon baru. (HIDUP/A. Sudarmanto)
5/5 - (4 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – USKUP Bogor, Mgr. Paskalis Syukur Bruno OFM menahbiskan tiga imam dan tujuh diakon. Mereka  yang ditertahbiskan menjadi imam adalah  Romo Nicholaus  Yudi Ardhana Mahandika, Romo Timothy Faber, CSE; Romo Eusebius Paulus, CSE sedngkan para dioakon adalah Ignatius Bahtiar Tumanggor, Benediktus Raditya Wijaya, Bartholomeus Richard Patty, Dismas Aditya, Chrispin Pio, CSE; Sebastianus Paulus,CSE; Peregrinus Lutgar, CSE

Misa penahbisan digelar pada Kamis (4/5/2023) di Gereja Santo Fransiskus Asisi, Sukasari, Bogor. Mgr. Paskalis didampingi Romo Nikasius Jatmiko selaku Rektor Seminari Tinggi Petrus Paulus dan Romo Sergius Paulus, CSE selaku Pelayan Umum CSE.

Dalam homilinya, Mgr. Paskalis menegaskan  pentingnya kerendahan hati  dari imam dan diakon dalam pelayanan.

Ia mengangkat moto yang diambil dari pujian syukur Bunda Maria. Setelah Maria mengalami belas kasih Allah yang Mahaagung, dia dilibatkan Allah dalam karya penyelamatan-Nya. Karena itu dalam roh kerendahan hati yang penuh sukacita. Bunda Maria berseru. “ Magnificat Anima Mea Dominum”.

“Sosok Bunda Maria merupakan sosok penting, dalam keseluruhan perjalanan panggilan kita mengikuti Kristus Tuhan,” katanya.

Penumpangan tangan sebagai puncak tahbisan imam. (HIDUP/A.Sudarmanto)

Menurutnya, para imam dan diakon  dipanggil secara khusus  oleh Tuhan. Mereka dipanggil untuk suatu tugas khusus melayani dan mengabdi  kepada persekutuan Gereja-Nya. Tugas pengabdian dan pelayanan itu menciri khususkan imamat mereka, maka disebut “ imamat ministerial “ (imamat untuk melayani).

Lebih lanjut Sekretaris Jenderal KWI ini menegaskan dalam pelayanan hendaknya seorang imam jangan terjebak pada administrasi, pelayanan dengan tarif-tarif.

Ia juga mengharapkan para imam di Keuskupan Bogor untuk menjaga kesehatan dan terhindar dari penyakit obisitas. Jangan terlalu gemuk nanti akan menyulitkan dalam misi pelayanan ke pelosok-pelosok.

Ia berharap seorang imam atau diakon mesti memiliki energi yang berlimpah-limpah untuk melayani, bukan untuk dilayani. Tujuan utama dari pelayanan adalah menghantar umat agar semakin bersatu dengan Tuhan dan umat yang  digembalakan semakin teguh dalam iman akan Yesus Kristus serta mencintai Gerejanya.

Sementara di tempat yang sama Romo Yustinus  Dwi  Karyanto selaku Romo Paroki Sukasari mengatakan merupakan suatu kebanggaan dan sukacita bagi Paroki St. Fransiskus Asisi, Sukasari karena dipercaya menjadi penyelenggara peristiwa tahbisan ini. Terlebih peristiwa ini bertepatan dengan perayaan semarak 60 tahun Paroki Santo Fransiskus Sukasari yang mengambil tema berakar, bertumbuh dan berbuah, yang juga menjiwai semangat peristiwa tahbisan ini.

A. Sudarmanto (Bogor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here