Derinkuyu, “Ghetto” Kota Bawah Tanah Kristen Perdana

63
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – “Derinkuyu” (pengucapan bahasa Turki: [derˈinkuju]) yang berarti “sumur dalam”, juga dikenal sebagai “Elengubu”, dan dalam bahasa Yunani Kapadokia disebut Μαλακοπή “Malakopi”; dalam bahasa Turki: Derinkuyu Yeraltı Şehri) adalah kota bawah tanah kuno bertingkat di dekat kota modern Derinkuyu di Provinsi Nevşehir, Turki, dengan kedalaman sekitar 85 meter (280 kaki).

Pada sensus 2010, populasi distrik ini berjumlah 22.114 jiwa, 10.679 jiwa di antaranya tinggal di kota Derinkuyu.

Distrik ini memiliki luas 445 km², dan ketinggian rata-rata 1.300 mdpl, dengan titik tertinggi di Gunung Ertaş 1.988 mdpl.

 

Kota kuno Elengubu, yang sekarang dikenal sebagai Derinkuyu, terletak lebih dari 85 m di bawah permukaan bumi, mencakup 18 tingkat terowongan.

Inilah kota bawah tanah terbesar yang digali di dunia, hampir terus digunakan selama ribuan tahun, berpindah tangan dari Frigia ke Persia dan ke Kristen di Era Bizantium.

Kota ini akhirnya ditinggalkan pada tahun 1920-an oleh orang-orang Yunani Kapadokia ketika mereka menghadapi kekalahan selama perang Yunani-Turki dan tiba-tiba melarikan diri secara massal ke Yunani.

Tidak hanya ruangannya yang menyerupai gua yang membentang ratusan mil, namun diperkirakan lebih dari 200 kota bawah tanah kecil dan terpisah yang juga ditemukan di wilayah tersebut mungkin terhubung ke terowongan ini, sehingga menciptakan jaringan bawah tanah yang sangat besar.

Keunikan Drinkuyu

Bangunan bersejarah ini cukup besar, mampu untuk menampung 20.000 orang beserta ternak dan persediaan makanannya.

Dapat dikatakan Derinkuyu adalah kota bawah tanah terbesar yang digali di Turki dan merupakan salah satu dari beberapa kompleks bawah tanah yang ditemukan di seluruh Cappadocia.

Kota bawah tanah di Derinkuyu dapat ditutup dari dalam dengan pintu batu besar yang berputar.

Setiap lantai dapat ditutup secara terpisah.

Kota ini dapat menampung hingga 20.000 orang dan memiliki fasilitas yang terdapat di kompleks bawah tanah lainnya di Cappadocia, seperti tempat pemerasan anggur dan minyak, kandang kuda, gudang bawah tanah, ruang penyimpanan, ruang makan, dan kapel.

Keunikan kompleks Derinkuyu dan terletak di lantai dua adalah ruangan luas dengan langit-langit berkubah.

Konon ruangan ini digunakan sebagai sekolah agama dan ruangan di sebelah kirinya adalah ruang belajar.

Mulai dari tingkat ketiga dan keempat terdapat rangkaian tangga vertikal yang menuju ke sebuah gereja di tingkat paling bawah (kelima).

Lubang ventilasi besar sepanjang 55 meter (180 kaki) tampaknya digunakan sebagai sumur.

Lubang tersebut menyediakan air bagi penduduk desa di atas dan, jika dunia luar tidak dapat diakses oleh mereka yang bersembunyi.

Sejarah Ghetto Derinkuyu 

Gua-gua di wilayah Kapadokia kemungkinan besar awalnya dibangun di atas batuan vulkanik lunak di wilayah Kapadokia oleh bangsa Frigia pada abad ke-8 hingga ke-7 SM.

Namun pada periode Romawi, Kota Bawah Tanah Derinkuyu yang didirikan oleh umat Kristen berbahasa Yunani, memperluas gua-gua tersebut menjadi tempat tinggal bertingkat yang dilengkapi dengan kapel dan prasasti Yunani.

Ghetto adalah bagian kota yang menjadi tempat berkumpulnya anggota kelompok minoritas, terutama akibat tekanan politik, sosial, hukum, agama, lingkungan hidup, atau ekonomi.
Ghetto sering kali dikenal lebih miskin dibandingkan wilayah lain di kota.
Versi kawasan terlarang tersebut telah ditemukan di seluruh dunia, masing-masing memiliki nama, klasifikasi, dan pengelompokan orangnya sendiri.

Derinkuyu pada dasarnya merupakan ghetto bagi umat Kristen Perdana pada masa itu.

Kota di Derinkuyu terbentuk sepenuhnya pada era Bizantium, ketika kota ini banyak digunakan sebagai tempat perlindungan orang Kristen Perdana dari Muslim Arab selama perang Arab–Bizantium (780–1180 M).

Derinkuyu terhubung dengan kota-kota bawah tanah lainnya, seperti Kaymakli, melalui terowongan sepanjang 8–9 kilometer (sekitar 5 mil), yang terus menjadi tempat perlindungan bagi umat Kristen selama invasi Mongolia yang dipimpin oleh Timur pada abad ke-14.

Beberapa artefak yang ditemukan di pemukiman bawah tanah ini berasal dari Periode Bizantium Tengah, antara abad ke-5 dan ke-10.

Setelah wilayah tersebut jatuh ke tangan Ottoman, kota-kota tersebut digunakan sebagai tempat perlindungan (Yunani Kapadokia: καταφύγια) oleh penduduk asli.

Pada abad ke-20, kota-kota bawah tanah masih digunakan oleh orang-orang Yunani dan Armenia di Kapadokia untuk menghindari penganiayaan berkala.

Richard MacGillivray Dawkins, seorang ahli bahasa Cambridge yang melakukan penelitian dari tahun 1909 hingga 1911 terhadap penduduk asli berbahasa Yunani Kapadokia di daerah tersebut, mencatat peristiwa yang terjadi pada tahun 1909:
“Ketika berita mengenai pembantaian baru-baru ini di Adana, sebagian besar orang sebagian besar penduduk Axo berlindung di ruang bawah tanah ini, dan selama beberapa malam tidak berani tidur di atas tanah.”

Pada tahun 1923, penduduk Kristen di wilayah tersebut diusir dari Turki dan dipindahkan ke Yunani melalui pertukaran populasi antara Yunani dan Turki, yang kemudian terowongan tersebut ditinggalkan.

Pada tahun 1963, terowongan tersebut ditemukan kembali setelah seorang penduduk di daerah tersebut menemukan sebuah ruangan misterius di balik dinding rumahnya saat sedang melakukan renovasi.

Penggalian lebih lanjut mengungkapkan akses ke jaringan terowongan.

Pada tahun 1969, situs ini dibuka untuk pengunjung, dan sekitar setengah dari kota bawah tanah dapat diakses pada tahun 2016.

Wisata Derinkuyu 

Bepergian dengan mobil adalah cara termudah untuk mencapai Kota Bawah Tanah Derinkuyu.

Dari Kayseri, ambil D805 ke Gülbayir dan menuju barat menuju Derinkuyu.

Perjalanan akan memakan waktu sekitar satu setengah jam, dan kota ini hanya berjarak 10 menit berkendara dari Kaymakli.

Ya sekarang, sebagaimana dapat kita baca pada situs pariwisata “Kota Bawah Tanah Derinkuyu”, kita dapat mengunjungi dan menyaksikan sendiri pemandangan yang menakjubkan kota kuno di bawah tanah sebagai keajaiban dunia itu, hanya dengan 60 lira Turki (£2,80).

Kita dapat turun ke dalam terowongan sempit dan pengap, dengan dinding yang kian menghitam karena jelaga akibat penerangan obor selama berabad-abad, dan kita dapat merasakan sendiri sensasi klaustrofobia yang asing perlahan akan mulai muncul.

Namun, kita juga akan menyaksikan betapa cerdas berbagai kerajaan jaman dulu yang memperluas wilayah Derinkuyu menjadi kota bawah tanah yang berjaring-jaring.

Lorong-lorong pendek dan sempit yang sengaja dibuat memaksa pengunjung untuk menavigasi labirin koridor dan tempat tinggal sambil membungkuk dan berbaris – jelas merupakan posisi yang tidak menguntungkan bagi para penyusup.

Diterangi remang-remang oleh cahaya lampu, batu-batu besar berbentuk lingkaran seberat setengah ton menghalangi pintu di antara masing-masing 18 tingkat dan hanya dapat dipindahkan dari dalam.

Lubang-lubang kecil dan bulat sempurna di tengah pintu-pintu besar dan kuat ini memungkinkan penduduk untuk menombak penyerang sambil menjaga perimeter aman..

Sungguh sebuah peninggalan peradaban arkaik yang menakjubkan..!

I. Sandyawan Sumardi 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here