Uskup Terpilih Labuan Bajo akan Melayani 25 Paroki dan Tetap Kolaborasi dengan Keuskupan Induk

1170
Uskup Terpilih Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus (Foto: Pukat Ruteng)
1.5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – TAKHTA Suci telah mengangkat Uskup Labuan Bajo, Pastor Maksimus Regus yang dengan begitu secara yuridis terbentuk keuskupan baru, yaitu Keuskupan Labuan Bajo.

Terbentuknya Keuskupan Labuan Bajo menjadi langkah maju bagi karya pastoral di Keuskupan Ruteng di Flores Barat yang saat ini membawahi tiga wilayah di Kabupaten Manggarai Raya dengan total umat Katolik sekitar 853 ribu jiwa dan menjadi keuskupan terbesar jika dibandingkan dengan populasi Katolik di Indonesia.

Pembagian wilayah gerejani ini berdampak pada pelayanan pastoral yang semakin efektif dan efisien, wilayah pelayanan semakin mudah dijangkau dan semakin mudahnya koordinasi antarpelayan pastoral, parokial, dan umat.

Keuskupan baru ini meliputi 25 paroki di wilayah Kabupaten Manggarai Barat dengan jumlah umat Katolik di wilayah itu adalah 218.535 jiwa atau sekitar 79 persen dari total 276.284 jiwa, dengan penduduk Katolik terbanyak di wilayah Kecamatan Lembor.

Pemisahan ini berdampak pada kemandirian Keuskupan baru yang terbentuk baik kemandirian finansial, personalia, maupun program-program pastoral yang akan dijalankan. Namun, mengingat prinsip kesatuan teologis, hostoris, kultural, dan lain-lain dan hasil Sinode III yang belum selesai diimplementasikan, maka dirasa penting tetap adanya program pastoral bersama antar dua keuskupan.

Pelayan Pastoral baik Paroki, DPP, maupun Umat telah memahami dan menyadari pola pastoral yang dikembangkan oleh Keuskupan Ruteng dengan menerapkan pola 3 M (Melihat, Menilai, Memutuskan) serta pola monitoring dan evaluasi yang terukur dan berkelanjutan.

Beberapa program pastoral yang dapat dilakukan bersama-sama, seperti, pertemuan berkala Kuria dua Keuskupan yang ditentukan berdama untuk membahas kebijakan-kebijakan kelulusan menyangkut kebijakan dan program bersama seperti on going formation untuk para imam, retret, Festival Golo Koe dan Golo Curu, aset, hari stidi, dan lain-lain.

Selain itu, ada pertemuan berkala Puspas dua Keuskupan yang ditentukan bersama untuk merancang, memonitor, dan mengevaluasi program pastoral bersama, terutama program yang bersinggungan langsung dengan konteks kedua Keuskupan. Seperti pastoral ekologis, pastoral pariwisata, pastoral budaya, dan inkulturasi, dan lain-lainnya. Termasuk dalam hal ini dua keuskupan akan bekerjasama dalam pendampingan dan pembinaan (on going formation) para imam (retret, hari stidi, pelatihan), termasuk kerja sama soal festival religi Golo Koe.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here