Merayakan 100 Tahun WKRI, Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo Mengingatkan: Tugas WKRI Tidak Sekitar Altar

158
Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo menerima potongan tumpeng dari Ketua DPD Lampung, Elisabeth Sri Puryanti. (HIDUP/Fransiska, FSGM)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – PERARAKAN enam vandel Merah Putih dan WKRI yang mewakili dari setiap Bakorcab menuju altar. Pagi kemarin,  Kamis, 4/7/2024, DPD Lampung menggelar Perayaan Syukur 100 Tahun Wanita Katolik, di Gedung Serba Guna Xaverius Way Halim. Perayaan yang dihadiri sekitar 400 orang ini dipimpin oleh Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo. Ia didampingi oleh Pendamping Rohani Devosional Keuskupan Tanjungkarang, Pastor Anggoro Ratri SCJ.

Perarakan Bendera Merah Putih dan vandel WKRI menuju altar dalam Perayaan Syukur 100 tahun WKRI. (HIDUP/Fransiska FSGM)

Dalam homilinya Mgr. Vinsensius mengatakan ada dua karya pelayanan di dalam Gereja: internal dan eksternal. Yang internal mengambil bagian dalam ajaran, liturgi atau ibadah dan juga paguyuban atau persekutuan. Sedangkan karya yang ke luar atau eksternal adalah karya diakonia: pelayanan dan kesaksian.

“WKRI sebagai ormas tugasnya ke luar, ke masyarakat. Tujuan akhirnya menuju kesejahteraan bersama, kebaikan bersama . WKRI, huruf K singkatan dari Katolik, tugasnya tidak seputar altar, mendekor gereja, mengurusi makanan uskup, bersih-bersih gereja, misalnya. Lakukanlah karya pelayanan yang ada di dalam AD ART itu,” tegas Uskup.

Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, didampingi Pastor Anggoro Ratri SCJ memimpin Perayaan Syukur 100 tathun WKRI. (HIDUP/Fransiska FSGM)

Tema nasional 100 Tahun WKRI adalah ‘Wanita Katolik RI Mewujudkan Peradaban Kasih Dengan Membangun Pribadi Yang Berkarakter’.

Tema itu menurut Uskup, pemilik peradaban kasih adalah yang punya hukum kasih. “Kita belajar dari Sang Kasih: Allah. Ini bukan slogan, bukan pernyataan iman, bukan rumusan teologis. Tetapi pribadi yang hidup: Yesus sendiri, yang bisa kita contoh, teladani dan wujudkan. Kasih sejati yang kita persembahkan kepada dunia untuk membangun peradaban kasih. Tidak lain adalah ketika kita mewartakan Kristus dalam hidup kita,” tegas Uskup.

Pemukulan gong oleh Ketua Dinas PPPA Lampung, Fitrianita Damhuri. (HIDUP/Fransiska, FSGM)

Uskup mengatakan, WKRI menjadi sarana bantu yang paling efektif untuk menjadi garam dan terang dunia. Karena sudah masuk dalam status ormas maka WKRI memiliki pintu dan tugas yang sangat jelas.

“Ini yang harus kita manfaatkan. Bukan berarti iman tidak harus diterima dengan cara menobatkan banyak orang. Tetapi menjadi garam dan terang dunia itu bermanfaat bagi masyarakat,” tandas Uskup.

Doa Umat dalam Perayaan Syukur 100 tahun WKRI. (HIDUP/Fransiska, FSGM)

Gereja, kata Uskup, ada untuk kebaikan bersama. Sebagai ormas, WKRI menjadi sarana yang paling efektif untuk membangun kesejahteraan bersama. “Kita jadi bermanfaat, berguna bagi orang lain. Sehingga Gereja bukan lagi menjadi orang asing tempat di mana kita berada, yang tidak lain adalah masyarakat dan provinsi Lampung ini,” kata Uskup.

Bersinergi

Uskup berharap agar WKRI bisa bekerja sama dengan organisasi yang lain sebagai bentuk dan upaya untuk membangun kesejahteraan bersama.

Salah satu anggota FKUB mengambil persembahan dari penari Sigeh Pengunten sebagai tanda kehormatan. (HIDUP/Fransiska, FSGM)

“Ini sesuatu yang sangat luar biasa khususnya di Bandarlampung. Di kota banyak orang yang tersingkir karena kalah dalam persaingan hidup dan tidak punya pekerjaan tetap. Maka kita bekerja sama dengan elemen-elemen lain agar kita dapat menolong orang-orang yang berkekurangan,” harap Uskup.

Semetara itu Ketua Presidium Wanita Katolik RI DPD Lampung, Elisabeth Sri Puryanti dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan WKRI tidak lagi ke dalam tetapi juga ke luar.

“Kami berani seperti ini karena memang mandat atau pesan-pesan dari leluhur kami. Selain itu, dalam AD ART juga dikuatkan sebagai organisasi di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol),” ujarnya.

Kepada pemerintah Provinsi Lampung,  ia berharap agar lebih dilibatkan dalam program-program kesejahteraan masyarakat terutama perempuan dan anak. “Gandenglah kami para Wanita Katolik RI. Kami siap melaksanakan tugas-tugas baik pemerintahan, organisasi, khususnya untuk kesejahteraan, kesehatan, keselamatan perempuan dan anak. Tugas utama kami untuk kesejahteraan umum,” imbuh Elisabeth.

Cinta Budaya

WKRI DPD Lampung mengambil tema “Wanita Katolik RI Mewujudkan Kasih Di tengah Keberagaman Melalui Cinta Budaya dan Tanah Air.” Tema ini sejalan dengan Arah Dasar Keuskupan Tanjungkarang tahun 2024: “Tahun Pendidikan Cinta Budaya dan Kaderisasi Politik Cinta Tanah Air”.  Pada Perayaan ini petugas liturgi mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah.

Tari Nusantara dipersembahkan siswa Xaverius 3 Bandarlampung. (HIDUP/Fransiska, FSGM)

Usai Misa, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan pemukulan gong oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung (PPPA) sekaligus mewakili Pejabat Gubenur Lampung, Fitrianita Damhuri. Acara ini jdihadiri oleh Wakil FKUB, Istutiningsih.

Usai acara seremonial, kegiatan dilanjutkan dengan Lomba Menyanyi Lagu Daerah dan Lomba Administrasi Organisasi Antar DPC.

 Sr. M. Fransiska, FSGM (Lampung)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here