Memandang Wajah Yesus

33
Arnold Darmanto (HIDUP/Katharina Reny Lestari)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – TERCEMPLUNG selama belasan tahun ke dalam sebuah gerakan tak membuat Arnold Darmanto jenuh. Justru hal ini semakin mengasah kepekaan sosial dan intelektualnya. Dan perasaan ini semakin mendalam ketika ia tak lagi berkarya sebagai Ketua Umum Gerakan Orang Tua Asuh untuk Seminari (Gotaus) sejak awal Mei 2024 lalu.

Umat Paroki Meruya, Jakarta Barat, ini terpilih sebagai Ketua Umum Gotaus, sebuah gerakan umat awam – mitra dari Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) – yang peduli terhadap pembinaan para calon imam di Indonesia, pada tahun 2019. Sebelumnya, ia pernah menduduki posisi Wakil Ketua Umum sejak tahun 2007.

Saat itu ia berkarya sebagai Ketua Seksi Panggilan Gereja Maria Kusuma Karmel. Suatu hari, seorang teman mengajaknya mengikuti sebuah retret. Ia pun ikut tanpa banyak bertanya. Dan seperti retret pada umumnya, sesi sharing menjadi salah satu agenda penting. Seolah-olah tak mau kehilangan kesempatan, ia memanfaatkan momen ini untuk bercerita tentang panggilan.

Ternyata apa yang ia sampaikan menarik perhatian khususnya para petinggi Gotaus, yang memiliki visi menjadi gerakan umat awam yang terorganisir sebagai wujud partisipasi umat awam dalam mempersiapkan para imam yang handal dan kontekstual. Akhirnya mereka meminta dia untuk terlibat dalam gerakan yang memiliki misi menanamkan tangggung jawab umat awam berlandaskan pada kesadaran diri, suara hati, dan kehendak bebas dalam pengembangan pendidikan seminaris tersebut.

Itulah awal mula laki-laki yang kini berusia 64 tahun ini mengenal dan terlibat dalam Gotaus. “Saya malah senang tercemplung lama di Gotaus. Saya merasa terpanggil untuk berpartisipasi dalam pendidikan para calon imam. Ternyata banyak keprihatinan. Misalnya, ada seminari yang masih nampak kumuh seperti panti asuhan. Walau bagaimana pun, masih ada seminari yang kekurangan dana, apalagi di daerah terpencil,” ujarnya.

Meski demikian, ia senang melihat masih ada orang muda yang mau menjadi imam dengan menempuh pendidikan di seminari. “Ini keren sekali. Tidak banyak jumlahnya. Di Paroki Meruya, misalnya, selama saya menjadi Ketua Seksi Panggilan, tidak ada panggilan satu pun. Kering,” kenangnya.

Rupanya keprihatinannya ada kaitannya dengan keinginannya di masa lampau. “Semacam ‘balas dendam.’ Waktu kecil saya ingin masuk seminari. Dulu saya misdinar di Paroki Gedangan, Semarang. Setiap tahun, selama empat tahun, saya menghantar teman-teman misdinar ke Seminari Mertoyudan, Yogyakarta. Tapi saya sendiri tidak berani (masuk seminari), mungkin intelektual saya tidak mampu. Sekarang, kenapa saya tidak membantu mereka supaya jadi imam?” kenangnya.

Baginya, keberadaan para seminaris sangat penting bagi masa depan Gereja Katolik. Ia pun mengutip sebuah ayat Kitab Suci: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” 

Tujuan yang ingin ia capai jelas. “Memberdayakan para seminaris. Saya memandang wajah Yesus. Meski ada tantangan, saya harus terus berjalan. Pandanglah wajah Yesus supaya kita selalu ingat akan tujuan kita,” ungkap ayah dari dua anak ini.

Katharina Reny Lestar

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 21, Tahun Ke-78, Minggu, 26 Mei 2024

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here