web page hit counter
Jumat, 20 Februari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Agung Samarinda Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF: Godaan Klasik dan Laten

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 22 Februari 2026 Hari Minggu Prapaskah I Kej.2:7-9; 3:1-7; Mzm.51:3-4,5-6a,12-13,14,17; Rm.5:12-19 (panjang) atau Rm.5:12,17-19 (singkat); Mat.4:1-11

KUTIPAN Injil pada pada hari Minggu Pertama Masa Prapaskah ini mengajak kita merenungkan tentang godaan dan sikap yang harus diambil. Sebelum menjalankan tugas perutusan dari Bapa, Yesus dibawa oleh Roh untuk dicobai iblis, sebagai ujian kesiapannya untuk menjalan tugas perutusan itu.

Roh itu kiranya bermaksud menunjukkan siapa Yesus itu dan sikapnya menghadapi godaan yang berat dan mesti menjadi sikap para pengikutnya. Seperti kita ketahui ada tiga macam godaan yaitu mengubah batu menjadi roti, terjun dari bubungan Bait Allah dan menyembah Iblis dengan imbalan memberikan kerajaan dunia yang diklaim sebagai miliknya. Ketiga macam godaan itu amat lazim dan akan selalu ada.

Godaan pertama yang Yesus terima sangat erat dengan keadaan yang dialami Yesus saat itu, yaitu rasa lapar setelah berpuasa selama 40 hari. Menjadikan batu menjadi roti pastilah sebuah tawaran yang amat menarik, karena selain akan menghilangkan rasa lapar, menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kuasa.

Baca Juga:  Vatikan Tegaskan Sikap terhadap Dewan Perdamaian Buatan Presiden Trump

Seandainya Yesus menuruti godaan itu, rasa lapar hilang dan pamer diri sebagai orang yang hebat akan diperoleh dan popularitasnya melambung tinggi. Terhadap godaan itu Yesus menolak dengan tegas, bahkan menjadikannya kesempatan untuk menyampaikan ajaran pentingnya. “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat 4:4).

Jenis godaan yang terkait dengan hal yang kasat mata biasanya menjadi hal yang paling menarik dan menggiurkan, sehingga banyak orang jatuh. Macam godaan ini telah menjatuhkan begitu banyak orang sehingga menipu, korupsi, mencuri, berebut warisan, tanpa berpikir panjang dan mempertimbangkannya dengan baik, seraya melupakan nilai-nilai luhur seperti keadilan, kejujuran, persaudaraan, dan belas kasih.

Harta kekayaan dan uang sering kali berperan besar, bahkan bisa menjadi penentu dalam meniti karier, meraih jabatan atau mendapat kehormatan. Karena itu, godaan macam itu bisa dan sering menimpa siapa pun.

Macam godaan yang tidak kalah menarik adalah mencari kepastian dan  membuktikan bahwa Allah sungguh menjaga dan melindungi, khususnya secara fisik/material. Iblis mengambil bentuk godaan ini tidak main-main; ia mengambil kutipan Mazmur (lih. Mzm 91:11-12). Orang yang ada dalam lindungan Tuhan akan aman, karena malaikat-malaikat Allah akan menjaganya sehingga kaki tidak terantuk pada batu.

Baca Juga:  PESAN PAUS LEO XIV UNTUK MASA PUASA 2026: MENDENGARKAN DAN BERPUASA: MASA PRAPASKAH SEBAGAI MASA PERTOBATAN

Godaan untuk diajukan untuk membuktikan sabda Allah itu benar. Siapa pun yang menuruti godaan itu akan terjebak dalam memaknai perlindungan Allah yang bentuknya tidak seperti itu. Allah pasti berkuasa untuk melindungi dengan cara itu. Pertanyaannya, apakah menjatuhkan diri dan selamat itu diperlukan untuk membuktikan kebenaran sabda Allah itu? Jawabannya, tidak perlu.

Maka Yesus melarang mencobai Tuhan. Yang paling mendasar dan penting adalah percaya akan perlindungan-Nya. Setiap pengikut Kristus tidak boleh mencobai Allah, dan tidak tergiur akan godaan seperti itu.

Kenyataannya, masih ada pengikut Kristus yang untuk percaya masih mencari bukti. Kalau belum mendapatkannya, sulit untuk setia dan mempercayakan diri kepada-Nya. Setelah lolos dari maut ketika kecelakaan, baru percaya; ketika sembuh dari sakit berat baru mau berpasrah.

Baca Juga:  “KWI India” Memilih Kardinal yang Berasal dari Kalangan Dalit sebagai Ketua yang Baru

Macam godaan ketiga ini mengandaikan kebenaran bahwa setanlah pemilik dunia. Dari perspektif orang beriman, sebenarnya dengan mudah akan dinyatakan bahwa itu tidak benar. Namun dalam hidup itu klaim itu dibenarkan, meskipun tanpa disadari.

Sumber keselamatan yang sejatinya hanya ada pada Allah, tidak lagi diakui. Keselamatan diletakkan pada hal-hal duniawi, dan karenanya me-nuhan-kan dunia, menghambakan diri dan bahkan bersujud padanya. Karena menginginkan kekuasaan yang dianggap salah satu bentuk keselamatan, rela melepaskan keselamatan yang sejati, yanga hanya ada pada Tuhan Yesus Kristus.

Sikap menghambakan diri dan menuhankan kemuliaan duniawi tentu merupakan tanda jelas adanya persekutuan dengan “iblis”. Jika sudah sampai ke titik itu, kerakusan berkembang subur, sehingga makin kuatlah hasrat untuk menguasai dunia dan mengklaim sebagai miliknya. Bukankah sikap dan tindakan itu sudah menyerupai klaim iblis: dunia adalah miliknya!

Roh bermaksud menunjukkan siapa Yesus itu dan sikap-Nya menghadapi godaan, dan mesti menjadi sikap para pengikut-Nya.

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.8, 22/2/2025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles