spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Mengendus Misi Redemptoris di Media Sosial

5/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Semua platform digital berlomba-lomba untuk menawarkan keistimewaannya. Ada yang sudah ketinggalan, kemudian berjuang lagi untuk mendapatkan kembali pengakuan dari publik. Ada yang sudah maju dan terus diperbarui. Berbagai cara digunakan demi mempertahankan popularitas masing masing platform digital.

Misalnya, platform tiktok yang pernah diblokir di Indonesia karena dinilai menyebarkan isu pelecehan agama sampai pada penyebaran video bernuansa pornografi. Lalu, usaha dari pihak tiktok (Zhang Yiming) adalah mengadakan pertemuan dengan pemerintah Indonesia yang kemudian menghasilkan beberapa keputusan berikut ini; (1) mengurasi konten yang mau dibagikan di tiktok. 2) memberikan batasan usia minimal pengguna tiktok, yang sebelumnya 12 tahun menjadi 16 tahun, dan (3) mendirikan kantornya di Indonesia dengan tujuan untukmemperlancar komunikasi antara pemerintah Indonesia dan pemilik platform tiktok.

Tak hanya itu, usaha dari pihak tiktok (Zhing Yiming) dan pemerintah Indonesia adalah bekerja sama untuk memperkenalkan tempat-tempat wisata yang ada di Indonesia (Gayala, 2019). Usaha seperti ini membuat eksistensi platform tiktok menempati posisi ketiga sebagai platform yang paling banyak diminati oleh publik. Tentu saja platform-platform lain memiliki tantangannya sendiri beserta penyelesaiannya.

Berkat atau Kutuk

Semua platform digital berkat atau kutuk? tentu saja ‘ya’ dan ‘tidak’ dengan alasan-alasan rasional. ‘Ya’ bila penggunanya bijak dalam menggunakan platform digital yang dipakainya dan ‘tidak’ ia melakukan hal yang sebaliknya. Gayala (2019), dalam e-Hipwee, mengatakan bahwa mereka yang menggunakan platform digital (misalnya tiktok) mampu mengubah nasib seseorang menjadi artis (populer) dan menjadi tulang punggung keluarga.

Artinya, mereka yang menggunakan platform digital secara bijak dapat menghasilkan uang (finansial), yang bisa membantu mereka menghidupi keluarga. Ada banyak contoh baik orang bisa sukses dalam menggunakan platform digital dengan baik. Misalnya, banyak video yang memperlihatkan perjuangan untuk membela hak orang kecil, mendidik, menghibur, dan memberikan tutorial untuk memecahkan persoalan hidup seseorang. Dalam hal ini platform digital menjadi berkat.

Baca Juga:  Sekolah Tarakanita 3 Gelar Aksi ”Pengolahan Sampah Jadi Berkah”, Wujud Nyata Pertobatan Ekologis APP 2026

Jawaban yang kedua, melalui platform digital, mereka yang ingin memeras orang lain, mencari nafkah hidup dengan cara yang keliru, mereka yang mencari korban pelecehan, mereka yang mau menebarkan kebencian pun diberikan kemudahan. Praktik Penipuan, praktik bodong, praktik penistaan agama dan kasus-kasus kejahatan lain pun tidak lepas dari jalur platform digital. Mereka yang ahli menggunakan platform digital secara keliru tak akan berhenti juga untuk berjuang sebelum mereka mendapatkan apa yang menjadi keinginan mereka.

Sebagai contoh, seorang wartawan yang menjadi korban penipuan hingga mencapai kerugian sebesar 66,5 juta dan platform yang digunakan pelaku dalam menguras wartawan tersebut adalah Instagram (Kausar, 2024). Masih banyak kasus lain yang lebih memprihatinkan yang sering kali tidak terselamatkan. Mereka yang bisa bersuara akan bisa diselamatkan, sedangkan mereka yang tidak bisa bersuara akan memilih diam dan meratapi nasib. Pada posisi inilah penggunaan platform digital menjadi kutuk bagi setiap orang. Sangat memprihatinkan, tetapi itulah fakta yang terjadi.

Misi Redemptoris di Tengah Peliknya Dunia Digital

Andaikan saja Yesus hidup pada zaman ini, mungkin Ia akan memiliki nomor kontak sendiri yang bisa dihubungi oleh siapa pun dari seluruh dunia. Ia pasti memiliki akun WA, IG, FB, TikTok, X, dan lain sebagainya dan melalui itu semua pasti membantu Dia untuk mengadakan mujizat dari jarak jauh. Misalnya, kisah tentang Yesus yang menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum (Mat. 8:5-13).

Baca Juga:  Kepada TV Italia “Tgcom24”, Paus Leo XIV Mengatakan: Informasi yang Bebas dan Penuh Hormat Adalah Alat untuk Perdamaian

Dalam kisah itu Tuhan Yesus tidak pergi sama sekali ke rumah perwira itu, tetapi karena iman perwira yang begitu kuat akhirnya hambanya disembuhkan meski pun ada jarak yang begitu jauh. Saat ini, orang yang beriman sungguh radikal, mereka tidak melihat wajah Yesus yang sesungguhnya, tetapi dengan nama-Nya saja mereka sungguh percaya dan bahkan rela mati demi nama itu.

Maka, sangat mungkin bagi Tuhan Yesus untuk sukses mengadakan mujizat dalam jarak dan waktu yang tak terbatas. Bagi Tuhan tidak ada ruang dan waktu yang membatasi karya Nya. Ia menembus segalanya. Semuanya bisa mungkin bagi Dia karena Ia mahakuasa, mahatahu, dan mahahadir.

Jenderal Redemptoris terdahulu, Pastor Michael Brehl, C.Ss.R., menuliskan dalam sebuah surat seruannya kepada semua Redemptoris yang berkarya di seluruh dunia: “kita tidak dapat meremehkan pentingnya terlibat dalam dunia digital untuk memastikan bahwa kita tetap relevan dan bernubuat saat ini.” Ia menegaskan juga bahwa media sosial ada sisi baik dan sisi buruknya. Maka, peluang yang digunakan adalah memanfaatkan media sosial untuk menjangkau dan menyentuh hidup orang (Brehl, 2018).

Konstitusi Redemptoris no. 15 (Konstitusi dan Statuta Serikat Sang Penebus Maha Kudus, 1986), dikatakan juga kebebasan untuk menggunakan sarana yang memungkinkan para Redemptoris dalam mewartakan penebusan yang berlimpah limpah kepada semua orang, sehingga membuka kemungkinan adanya rekonsiliasi pemikiran yang kemudian membawa semua orang pada jalan keselamatan, yakni Yesus Kristus.

Baca Juga:  Menjelang Kunjungan Apostolik ke Benua Afrika, Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Perdamaian, Bukan Perang dan Kehancuran

Tidak ada pilihan, agar seruan penebusan yang berlimpah limpah tetap relevan, menjangkau hidup orang, dan menyentuh serta mampu menyelamatkan jiwa dari peliknya perkembangan teknologi, maka kita mesti berani masuk pada dunia digital demi memastikan penebusan berlimpah-limpah sampai pada hidup orang. Saat ini slogan “aku klik, maka aku ada” (Hardiman, 2021) makin mengikat hidup orang, bahkan mungkin bisa saja lebih dari itu, yakni “aku harus klik agar aku ada.”

Solusi yang mesti ditempuh sekaligus menjadi tawaran sebagai salah model hidup baru yang bisa digeluti oleh para Redemptoris muda saat ini adalah berani berdialog dengan dunia (khususnya dunia digital) sebagaimana sudah diatur dalam konstitusi Redemptoris no. 19.

Oleh karena itu, misi Redemptoris di tengah peliknya dunia digital adalah misi yang berani masuk dan terbuka terhadap setiap perubahan yang ada, misi yang fleksibel, misi yang tetap eksis untuk menyentuh hidup setiap orang yang dijumpainya – misi yang mau berjumpa dengan Kristus yang hadir melalui media sosial. Tidak ada pilihan lain selain berani masuk pada dunia yang kotor dan terluka sebagaimana yang telah dilakukan Tuhan Yesus sendiri selama hidup-Nya.

Persiapan adalah hal yang sangat perlu bagi para Redemptoris bersama semua orang yang menjadi rekan kerja mereka (awam) dalam menebarkan misi Redemptoris, yakni mewartakan penebusan yang berlimpah limpah kepada semua orang. Semoga misi Redemptoris makin menemukan cara-cara baru yang mampu membawa warta penebusan berlimpah-limpah kepada semua orang.

Fr. Martinus Dendo Ngara, C.Ss.R, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Fakultas Teologi Wedabhakti

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles