spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Membutuhkan Keteladanan sebagai Kunci

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – KEPEDULIAN pada Alam Ciptaan adalah tema Surat Gembala Prapaskah 2026 dari Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo. Surat Gembala Prapaskah yang dibacakan di seluruh paroki di wilayah Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) pada 14-15 Februari 2026 ini menggarisbawahi pentingnya aksi nyata sebagai bentuk pertobatan ekologis.

Merujuk pada Surat Gembala tersebut, KAJ sudah memilih untuk mendalami lima pokok Ajaran Sosial Gereja (ASG) dan mencari jalan-jalan kreatif mewujudkannya selama lima tahun: 2022-2026. Pendalaman ini bertujuan agar umat semakin memahami tanggung jawab sosial dan mampu menerjemahkannya dalam tindakan nyata.

Oleh karena itu, pertobatan ekologis menjadi sangat penting. Kerusakan alam di Indonesia hingga tahun 2025 sudah mengkhawatirkan. Sebagian besar bencana seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem disebabkan oleh kerusakan alam (hampir 99 persen dari 3.116 kejadian). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat yang paling banyak terjadi adalah banjir (1.584 kasus). Bencana ini – yang antara lain juga disebabkan oleh ulah manusia – menyebabkan korban jiwa, pengungsian massal, dan kerugian fisik besar. Sumatera menjadi titik paling parah. Ini memberikan petunjuk bahwa Indonesia merupakan wilayah yang berisiko tinggi,” ujar Kardinal Suharyo.

Kardinal Suharyo menyebut wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sebagai wilayah yang menghadapi masalah lingkungan serius, seperti banjir, polusi udara parah dari kendaraan dan industri, pencemaran air sungai dan air tanah akibat limbah rumah tangga dan industri, krisis sampah dengan timbunan yang terus naik, penurunan muka tanah, dan kerentanan iklim yang mengancam manusia, terutama orang miskin dan rentan.

Untuk menerjemahkan tema itu, Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun ini pun memilih tema “Pertobatan untuk Merawat Bumi, Rumah Kita Bersama”. Menurut Kardinal Suharyo, tema ini memiliki gagasan besar seperti yang dikemukakan oleh Paus Fransiskus, yakni ekologi integral.

Paus Fransiskus, dalam Ensiklik Laudato Si’ yang dikeluarkan pada 2015, menyebutkan bahwa “tidak ada dua krisis yang terpisah, yang satu menyangkut lingkungan (alam) dan yang lain sosial, tetapi satu krisis sosial-lingkungan yang kompleks”. “Relasi kita dengan lingkungan hidup (alam) tidak dapat dipisahkan dari relasi kita dengan manusia lain. Setiap orang di bumi ini (seharusnya) terhubung satu sama lain, dan dari kesadaran ini muncul solidaritas baru dan universal. Masalah lingkungan hidup yang kita hadapi sekarang ini berakar dari tidak adanya solidaritas universal ini,” imbuh Kardinal Suharyo.

Baca Juga:  Kepada TV Italia “Tgcom24”, Paus Leo XIV Mengatakan: Informasi yang Bebas dan Penuh Hormat Adalah Alat untuk Perdamaian

Menurut Kardinal, aksi nyata memainkan peranan penting dalam merawat dan menyelamatkan alam ciptaan sebagai wujud pertobatan ekologis. “Aksi kepedulian terhadap alam ciptaan dapat dikembangkan dengan berbagai cara kreatif yang tidak hanya memberikan dampak positif sosial dan kelestarian alam tetapi juga mendatangkan keuntungan ekonomi, misalnya dengan mengembangkam ekonomi sirkular,” ungkapnya.

Beberapa contoh aksi nyata adalah menanam pohon di lahan kosong, mengembangkan pertanian kota, mengolah sampah, dan menghemat listrik. Dengan demikian, mengupayakan penyediaan tempat sampah terpilah dan memanfaatkannya serta membangun kerja sama dengan bank-bank sampah yang dikelola pemerintah maupun pihak lain menjadi sangat penting.

Tiga Periode

Isu lingkungan hidup juga mendapat perhatian serius di Keuskupan Tanjungkarang. Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo mengatakan dalam Surat Gembala Tahun Ardas IX 2026 bertema “Cinta Kehidupan: Mencintai Manusia dan Lingkungan Hidupnya” bahwa memulihkan, merawat, dan melestarikan alam adalah bentuk kepedulian umat terhadap lingkungan.

Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo

Sama seperti Kardinal Suharyo, Mgr. Avien, sapaan akrab Uskup Tanjungkarang tersebut, juga menyinggung Laudato Si’. “Pesan penting dari Laudato Si dan Laudate Deum menjadi warna dominan gerak kita untuk menjalani tahun Ardas kesembilan ini. Dengan latar belakang bumi yang sedang menghadapi ancaman serius kerusakannya akibat perubahan iklim, pemanasan global, polusi yang secara masif mencemari udara, air, dan tanah kita serta hilangnya makhluk hayati secara besar-besaran, dan yang lebih parah lagi munculnya tata dunia dan tata hidup baru yang memfasilitasi keserakahan egoisme dan individualisme manusia; panggilan kita untuk kembali kepada kesadaran akan nilai-nilai keadilan sosial kemanusiaan dan cinta akan lingkungan alam ciptaan menjadi sangat mendesak dan semakin relevan,” ujarnya.

Umat mengumpulkan sampah yang telah dipilah di Bank Sampah Bhakti Semesta yang dikelola oleh Paroki Rawamangun. (Dok. Bank Sampah Bhakti Semesta)

Sepanjang tahun ini, Mgr. Avien mengajak seluruh rumpun di pusat pastoral untuk bekerja sama menyiapkan materi katekese ASG dan sosialisasinya serta perwujudan nyatanya.

Baca Juga:  Sekolah Tarakanita 3 Gelar Aksi ”Pengolahan Sampah Jadi Berkah”, Wujud Nyata Pertobatan Ekologis APP 2026

Ada tiga periode. Pertama, Desember 2025 hingga Maret 2026. Fokus pada pendalaman ASG melalui studi dan katekese Laudato Si’, Frateli Tutti, dan Laudate Deum. Kedua, April-Juli 2026. Fokusnya pada penyusunan program praktis dan strategis sebagai gerakan masyarakat sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas bagi kehidupan sosial dan lingkungan. Ketiga, Agustus-November 2026: berjalan bersama dalam persaudaraan sejati.

Gerakan Serupa

Selain surat gembala, Laudato Si’ juga mendorong munculnya berbagai gerakan, baik global maupun nasional dan lokal. Indonesia memiliki Gerakan Laudato Si’ Indonesia. Gerakan yang dimotori oleh Cyprianus Lilik Krismantoro Putro ini berdiri pada tahun 2021. Saat itu Covid-19 masih menghantui negeri ini, juga dunia.

Setahun sebelum Gerakan Laudato Si’ Indonesia berdiri, Lilik menghadiri sebuah pertemuan persiapan penyelenggaraan perayaan 50 Tahun Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) di Kamboja. Di sana ia bertemu koordinator Asia Pacific Global Catholic Climate Movement (GCCM), yang mengatakan bahwa gerakan semacam itu belum ada di Indonesia.

Ia pun berinisiatif untuk membentuknya. Langkah pertama bertemu Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KKPPMP)saat itu, Mgr. Dominikus Saku. Ia juga mengikuti pelatihan Laudato Si’ Animators.

Bersama seorang rekan, Lilik membuat pelatihan serupa dengan menggunakan modul yang telah diterjemahkan sebelumnya. Dalam pelatihan ini, ia menggandeng KKPPMP Keuskupan Agung Semarang. “Kami mengadakan pelatihan pertama. Pesertanya 118 orang. Yang lulus 22 orang. Mereka kemudian menjadi Tim Kerja Nasional. Kami sepakat membuat gerakan. Saat itu Vatikan mengeluarkan Laudato Si’ Action Platform (LSAP). Lalu kami membuat pelatihan ini sebanyak 12 kali pertemuan. Ini pelatihan LSAP pertama dan satu-satunya karena negara lain belum ada saat itu,” ujarnya.

Sejak saat itu, Gerakan Laudato Si’ Indonesia rutin mengadakan pelatihan setiap tahun: tingkat dasar (Laudato Si’ Animators) dan tingkat menengah atau Training for Trainers (Animator of Animators). Gerakan ini sudah menciptakan 1.700 alumnus. Mereka melakukan beragam gerakan di tempat masing-masing. “Di tingkat keuskupan kami menyebutnya chapter. Di paroki, sekolah, stasi, komunitas, dan lainnya kami menyebutnya circle. Kami tidak membawa isu bersama. Masing-masing punya minat. Jadi ada yang mengangkat ekoenzim, bank sampah, konservasi burung, perlindungan sungai, kebencanaan, dan stunting. Kami berbagi gerakan. Ini menjadi semangat kami dari awal. Maka concern kami adalah networking, kampanye berbagai pengetahuan, edukasi,” tambah Lilik.

Baca Juga:  Tidak Cukup Sampai pada Kesadaran Ekologis Saja

Keteladanan sebagai Kunci

Laudato Si’ Indonesia memiliki tiga lingkaran gerakan. Pertama, pertobatan ekologis. Kedua, perubahan gaya hidup. Ketiga, aksi kenabian atau perjuangan profetik. “Beberapa tahun lalu kami ikut menandatangani kesepakatan yang mendorong Gereja melakukan divestasi bisnis tidak ramah lingkungan dan juga perusahaan berbahan bakar fosil. Ini kampanye dunia. Kami berhati-hati jika menyangkut advokasi. Tiga lingkaran itu menjadi core activities kami, tapi kami melakukannya secara bijak,” ujar Lilik.

Menurut Lilik, upaya pelestarian lingkungan membutuhkan keteladanan. “Dengan situasi politik saat ini, kerusakan alam luar biasa, ini menjadi persoalan besar. Kami dihadapkan pada tembok. Tidak ada kemauan politik soal ini. Cukup menyulitkan kami. Kami adalah Gerakan akar rumput, kami menyapa hierarki dan berkolaborasi dengan mereka. Maka panggilannya bukan kepada masyarakat, tapi para penguasa, baik internal maupun eksternal. Juga policy,” imbuhnya.

Berbagai gerakan tak akan berarti jika tak ada keteladanan. “Kalau saya berteriak tentang lingkungan hidup, tapi pemerintah mengubah lahan menjadi perkebunan sawit, lantas apa arti perjuangan kami? Tantangannya, pertama, kami harus bisa meneguhkan komitmen kami. Kami harus terus berjuang supaya gerakan tetap hidup. Bagaimana terus menyalakan api ini. Kedua, apa pun yang terjadi di dunia, kami yakin bahwa kami sedang memperjuangkan kebaikan. Gerakan ini adalah gerakan persaudaraan bagi kami yang punya komitmen. Ketiga, kami meng-upgrade skills kami. Siapa pun yang masuk gerakan ini harus sadar bahwa mereka akan menjadi pemimpin. Maka mereka harus mampu melakukan perubahan,” ungkapnya.

Katharina Reny Lestari

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.11, Minggu, 15 Maret 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles