spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Surabaya Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo: Diutus Menjadi Saksi Kerahiman Ilahi

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Hari Minggu Paskah II (Hari Minggu Kerahiman Ilahi), 12 April 2026, Kis.2:42-47; Mzm.118:2-4, 13-15, 22-24; 1Ptr.1:3-9; Yoh.20:19-31

DI Minggu Paskah II ini, kita mendapatkan peneguhan dari Santo Petrus. Bersama Umat Allah di Asia Kecil kita memuji Allah. Yang karena rahmat-Nya yang besar kita telah dilahirkan kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. Kita menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kita semua(1 Petrus 1:3-4).

Pada saat surat tersebut di tulis, umat yang tersebar di wilayah Asia Kecil sedang mengalami penderitaan di bawah tekanan sosial, politik, dan persekusi kekuasaan Kaisar Nero. Karena iman kepada Kristus hidup mereka menjadi tidak mudah dan tidak aman. Meskipun di Roma, Rasul Petrus juga mengalami hal yang sama, tetapi terus menyadarkan umat akan identitas dan martabat para murid Kristus, yakni  ‘Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib’ (1Petrus.2:10).

Baca Juga:  Menggali Daya Imajinasi Melalui Latihan Koor

Di manapun Murid Kristus berada, dari abad pertama hingga kini, karena iman, sering hidup kita tidak selalu mudah. Di Indonesia kita juga mengalami hal serupa. Tidak selalu mudah dan nyaman. Situasi perang di Timur Tengah saat ini berdampak pula bagi kehidupan kita.

Sejak  zaman Kekaisaran Romawi hingga zaman modern, kekerasan terhadap martabat manusia dipertontonkan melalui kecanggihan alat-alat pembunuh dan perusak. Sungguh mengerikan. Sedahsyat itu kejahatan dan kemampuan manusia merusak rasa damai. Aneka kejahatan juga ada di sekitar kita. Semakin canggih kemampuan manusia berbuat jahat, menipu dan berdosa. Pada Agustus 2002, Paus Santo Yohanes Paulus II telah menyerukan bahwa dunia saat ini sangat membutuhkan Kerahiman Ilahi.

Bacaan Injil pada Minggu Paskah II menunjukkan tindakan-tindakan dahsyat Tuhan Yesus yang merupakan Kerahiman Allah. “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!”

Baca Juga:  Warga Binaan Kristiani Membarui Janji Baptis Saat Misa Paskah di Rutan

Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

Sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh.20:19-23). Kita dapat memetik hal menarik dari kisah ini.

Pertama, seperti para murid kita sering ‘menutup pintu’ dan bersembunyi menghadapi situasi mengancam. Dalam situasi tersebut Tuhan Yesus berinisiatif  hadir menembus ketertutupan. Dia tidak mempersalahkan kelemahan mereka. Tidak mengungkit masa lalu tetapi mengajak lahir baru dalam shalom. Para murid menerima damai yang mengalir dari hati-Nya. Para Murid diajak masuk ke dalam ruang formasi  ‘Kerahiman Ilahi’.

Baca Juga:  BUKAN MANAJER, BUKAN DONATUR

Kedua, Tuhan Yesus tidak malu mensharingkan luka-luka masa lalunya. Bukan untuk mempermalukan para murid tetapi untuk menyatakan kebenaran identitas diri-Nya. Damai dan sukacita sejati datang dari penerimaan dan pengampunan atas luka-luka yang terjadi di masa lalu.

Ketiga, Para murid bersukacita ketika melihat Tuhan. Namun Tuhan mengajarkan bahwa sukacita hendaknya bukan hanya karena melihat hal yang melegakan tetapi melihat  dan menyadari perutusan. Dalam situasi apa pun, tidak lagi takut dan menutup pintu tetapi berani terbuka dan pergi keluar menjalankan misi istimewa.

Misi Kerahiman Ilahi. Sama seperti Bapa mengutus Yesus demikian juga Tuhan Yesus mengutus  aku.  Untuk itu Roh Kudus dihembuskan kepada kita, sehingga kita selalu dimampukan untuk tidak mengadili dan terus menerus mengampuni. Amin.

Sukacita hendaknya bukan hanya karena melihat hal yang melegakan tetapi melihat  dan menyadari perutusan.

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.15, Minggu, 12 April 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles