spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

 Breaking News: Guru Santo Leo II Jadi Jurnalis?

5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Kosambi, 8 Juli 2026 – Suasana Aula Sekolah Santo Leo II, Kosambi, tampak berbeda pada Rabu (8/7). Bukan hanya siswa yang sibuk mencatat, para guru pun terlihat antusias mengikuti setiap materi yang disampaikan. Pertanyaan pun muncul: Apakah guru Santo Leo II kini menjadi jurnalis?

Jawabannya tentu bukan beralih profesi, melainkan membekali diri dengan keterampilan jurnalistik yang semakin relevan di era banjir informasi. Yayasan Santo Leo bekerja sama dengan Majalah HIDUP menyelenggarakan pelatihan jurnalistik yang diikuti sekitar 100 peserta, terdiri atas guru dan murid dari lingkungan Yayasan Santo Leo.

Pelatihan dipandu oleh Yustinus Wuarmanuk, wartawan Majalah HIDUP, yang mengajak peserta memahami bahwa jurnalistik bukan sekadar menulis berita, melainkan cara berpikir yang kritis, objektif, dan bertanggung jawab. Menurutnya, kemampuan tersebut sangat dibutuhkan oleh tenaga pendidik maupun peserta didik dalam menghadapi derasnya arus informasi di media digital.

Baca Juga:  Paus Leo Akan Menjalani Liburan Musim Panas Hingga 27 Juli 2026

Selama pelatihan, peserta diperkenalkan pada berbagai materi dasar jurnalistik, mulai dari manfaat mempelajari jurnalistik, prinsip-prinsip dasar seorang jurnalis, cara menemukan ide berita, menentukan nilai berita, hingga memahami tahapan reportase dan teknik wawancara. Selain itu, peserta juga memperoleh tips mengambil foto yang mendukung sebuah pemberitaan serta praktik langsung menulis berita berdasarkan fakta yang diperoleh.

Bagi para guru, pelatihan ini memberikan perspektif baru bahwa kemampuan jurnalistik dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Seorang guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mampu menyaring informasi, memverifikasi kebenaran suatu berita, dan membimbing siswa agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Baca Juga:  Iliosfora: Event Basket Tahunan SMA Santo Leo 3 Tingkat Kabupaten Bekasi

Di sisi lain, siswa memperoleh pengalaman langsung mengenai proses penyusunan sebuah berita yang akurat dan berimbang. Mereka belajar bahwa setiap informasi harus melalui proses observasi, wawancara, dan verifikasi sebelum dipublikasikan. Dengan demikian, budaya berpikir kritis dan kebiasaan memeriksa fakta dapat mulai dibangun sejak di lingkungan sekolah.

Pelatihan ini juga menjadi upaya Yayasan Santo Leo dalam meningkatkan literasi, kemampuan berbicara di depan umum (public speaking), serta kecakapan berkomunikasi secara efektif. Di tengah maraknya penyebaran hoaks melalui media sosial, keterampilan jurnalistik menjadi bekal penting agar guru dan siswa mampu menyampaikan informasi secara benar, bertanggung jawab, dan berdasarkan fakta.

Lebih dari sekadar pelatihan sehari, kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya budaya literasi yang lebih kuat di lingkungan sekolah. Guru dapat menjadi teladan dalam menyampaikan informasi yang kredibel, sementara siswa terdorong menjadi generasi yang kritis, kreatif, dan bijak dalam menggunakan media.

Baca Juga:  Sekolah St. Leo III Ajak Murid Mengenal Spiritualitas Sang Pelindung

Jadi, benarkah Guru Santo Leo II menjadi jurnalis? Mungkin bukan dalam arti profesi. Namun melalui pelatihan ini, mereka telah memiliki bekal layaknya seorang jurnalis: mampu berpikir kritis, mengolah informasi secara objektif, serta menyampaikan kebenaran kepada masyarakat. Di era digital saat ini, kemampuan tersebut bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan sebuah kebutuhan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles