spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Mengapa Kita Sulit Hening

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Banyak orang berseloroh bahwa mereka lebih rela ketinggalan dompet daripada ketinggalan ponsel. Candaan itu sebenarnya menyimpan kenyataan. Sejak bangun pagi hingga menjelang tidur, perhatian kita nyaris tak pernah lepas dari layar. Ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan telah menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari keseharian. Notifikasi pesan masuk, berita, media sosial, video pendek, hingga berbagai informasi yang datang silih berganti memenuhi ruang kesadaran. Tanpa disadari, pikiran terus bekerja, memproses begitu banyak hal, bahkan ketika tubuh sedang beristirahat.

Praktik meditasi di alam terbuka.

Fenomena ini tampak jelas dalam sebuah rekoleksi bagi kaum muda bertajuk “Discover, Finding God in All Things” yang diikuti oleh 54 peserta dari berbagai paroki di Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Bogor, pada pertengahan bulan Juni 2026 lalu. Ketika mereka diminta mengungkapkan alasan mengikuti kegiatan tersebut, sebagian besar memberikan jawaban yang serupa. Ada yang ingin menemukan ketenangan, ada yang berharap dapat lebih fokus, ada pula yang mengaku sulit tidur karena pikirannya tidak pernah benar-benar berhenti. Di balik beragam ungkapan itu tersimpan satu kerinduan yang sama: kerinduan akan keheningan.

Sulit Hening

Mengapa kerinduan itu begitu kuat muncul pada generasi sekarang? Jawabannya bukan karena generasi muda lebih rapuh dibandingkan generasi sebelumnya. Sebaliknya, banyak dari mereka adalah pribadi-pribadi yang cerdas, kreatif, berprestasi, komunikatif, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Yang berubah bukan kualitas manusianya, melainkan dunia yang mereka hidupi.

Peserta meditasi

Generasi terdahulu bertumbuh ketika arus informasi masih terbatas. Buku, percakapan, dan siaran berita menjadi sumber utama pengetahuan. Ritme hidup memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat. Kini keadaan berbalik. Dalam sehari seseorang menerima ribuan informasi dari berbagai arah, sementara media sosial dan pesan instan membuat dunia seolah tak pernah berhenti berbicara.

Yang bertambah bukan hanya informasi, melainkan juga tekanan batin. Banyak orang hidup sambil terus membandingkan diri dengan orang lain; membandingkan karier, pencapaian, penampilan, relasi, bahkan kehidupan rohaninya. Tanpa disadari, mereka memikul beban arus informasi yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya dalam skala sebesar sekarang.

Panitia pelaksana

Di masa lalu, kehidupan menyediakan banyak jeda alami. Saat menunggu kendaraan, berjalan kaki, menunggu teman datang, atau sekadar duduk sendirian, seseorang mengalami saat-saat hening tanpa merasa perlu mengisinya. Kini hampir setiap jeda langsung dipenuhi dengan membuka layar ponsel. Lama-kelamaan, keheningan menjadi sesuatu yang asing. Bukan karena manusia tidak mampu diam, melainkan karena kesempatan untuk mengalami diam semakin jarang tersedia. Di tengah kenyataan inilah meditasi menjadi jawaban.

Meditasi sebagai Ruang Perjumpaan

Meditasi menawarkan sesuatu yang semakin langka dalam kehidupan modern, yaitu keheningan. Bukan sekadar tidak adanya suara, melainkan ruang batin tempat seseorang berhenti sejenak dari tuntutan untuk terus berlari, terus menghasilkan, terus menjadi lebih baik daripada kemarin. Di ruang batin itulah seseorang belajar hadir sepenuhnya pada saat ini.

Bagi orang beriman, pengalaman hening memiliki makna yang lebih dalam. Keheningan bukan sekadar teknik relaksasi atau sarana mengurangi stres. Keheningan adalah ruang perjumpaan. Di sanalah manusia perlahan menyadari bahwa Allah telah hadir lebih dahulu, bahkan sebelum ia mulai berdoa, berbicara, atau melakukan sesuatu. Dalam keheningan itu pula hati belajar mendengarkan, menerima, dan memandang hidup dengan kejernihan yang baru.

Karena itu, mendampingi generasi muda pada masa kini tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat atau membandingkan mereka dengan generasi sebelumnya. Yang jauh lebih penting adalah memahami dunia yang mereka hadapi. Pendampingan yang sejati selalu berawal dari pengertian, bukan dari penilaian. Mungkin, kebutuhan terbesar generasi ini bukanlah semakin banyak kata-kata. Di tengah dunia yang semakin bising, yang paling mereka rindukan justru adalah ruang untuk hening, kehadiran yang sungguh mendengarkan, dan komunitas yang membantu mereka menemukan kembali damai yang selama ini tertutup oleh hiruk-pikuk kehidupan. Sebab hanya dalam keheningan, manusia kembali menemukan dirinya. Dan di sanalah ia juga menemukan Tuhan yang sejak awal tidak pernah meninggalkannya.

Komunitas Meditasi Kristiani Indonesia

Semangat inilah yang dihidupi oleh Komunitas Meditasi Kristiani Indonesia melalui berbagai kegiatan meditasi bersama dan pengenalan doa hening. Komunitas Meditasi Kristiani Indonesia adalah komunitas yang mempraktikkan doa hening sebagaimana ditemukan kembali dan diajarkan oleh Pater John Main OSB (1926-1982). Praktik doa hening ini didasarkan pada tradisi kristiani yang dilakukan oleh Bapa Padang Gurun pada abad ke-4. Berpusat di Bonnevaux, Perancis, Komunitas Meditasi Kristiani masuk ke Indonesia sejak tahun 2003, dan kini telah berkembang di 19 keuskupan di Indonesia dan juga menyebar di tingkat paroki dan beberapa sekolah.

Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo (kelima dari kanan) dan Pastor Laurence Freeman OSB (keenam dari kanan)

Pada Februari 2026, Pastor Laurence Freeman OSB, penerus Pastor John Main sekaligus Direktur World Community for Christian Meditation (WCCM), berkunjung ke Indonesia.

Selama empat hari ia menyapa para meditator di Jakarta dan Surabaya, menyampaikan pengajaran bertema “The Future of Religion in Our Changing World”, serta bertemu dengan Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo dan Uskup Surabaya Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo.

Erwin Susilo (Panitia) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles