spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Merawat Kebenaran di Tengah Derasnya Arus Informasi: Belajar Menjadi Pewarta yang Berintegritas

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Di tengah arus besar informasi yang setiap hari membanjiri ruang digital, menyampaikan sebuah kabar yang benar bukan lagi sekadar keterampilan, melainkan sebuah panggilan.

Kesadaran itulah yang terus dihidupi oleh Tim Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki St. Stanislaus Kotska, Kranggan, Bekasi.

Dengan semangat membangun budaya literasi sekaligus menumbuhkan pewarta-pewarta Gereja yang bertanggung jawab, Tim Komsos menggandeng Majalah HIDUP untuk menyelenggarakan Pelatihan Jurnalis pada Minggu, 2 Agustus 2026.

Sejak pukul 11.00 hingga 14.00 WIB, suasana di lingkungan Paroki St. Stanislaus Kotska dipenuhi antusiasme para peserta. Mereka datang bukan hanya sebagai anggota Komsos, tetapi juga sebagai umat yang memiliki kerinduan untuk belajar menyampaikan kebenaran melalui tulisan.

Di tengah perkembangan media digital yang semakin cepat, pelatihan ini menjadi ruang refleksi sekaligus pembelajaran tentang bagaimana sebuah informasi lahir, diverifikasi, lalu disampaikan dengan penuh tanggung jawab.

Menghadirkan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah HIDUP/hidupkatolik.com, Frans Hasiholan Siagian, pelatihan berlangsung hangat, komunikatif, dan penuh inspirasi. Berbekal pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik, ia tidak hanya membagikan teori, tetapi juga mengajak peserta memahami nilai-nilai yang menjadi fondasi profesi seorang jurnalis.

Salah satu pembahasan yang menarik perhatian peserta adalah mengenai perbedaan antara content creator dan jurnalis. Di era media sosial, keduanya kerap dianggap memiliki peran yang sama. Namun, menurut alumnus STF Driyarkara ini, terdapat perbedaan mendasar yang tidak boleh diabaikan.

Content creator berupaya menciptakan konten yang kreatif dan menarik perhatian audiens di berbagai platform digital. Sebaliknya, seorang jurnalis memikul tanggung jawab moral yang jauh lebih besar.

Setiap informasi yang disampaikan harus bersumber pada fakta, melalui proses verifikasi yang cermat, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Kecepatan memang penting, tetapi kebenaran harus selalu menjadi prioritas.

Lebih jauh, penulis buku Serpihan Jejak Ibu Teresa ini mengajak peserta menyadari bahwa kemampuan menulis tidak lahir semata-mata dari kepiawaian merangkai kata.

Seorang jurnalis yang baik justru dibentuk oleh kepekaan terhadap kehidupan. Mata yang mampu menangkap detail, telinga yang peka mendengar berbagai suara, hati yang mampu merasakan situasi, serta kemampuan mengamati lingkungan dengan saksama merupakan modal paling berharga dalam menemukan sebuah cerita yang layak diberitakan.

“Dari kepekaan itulah sebuah berita menemukan nyawanya.” Pesan tersebut terasa kuat sepanjang sesi pelatihan. Sebab sebelum menjadi tulisan, setiap berita terlebih dahulu lahir dari kemampuan manusia untuk melihat realitas dengan jujur.

Tidak berhenti pada aspek observasi, peserta juga diajak kembali memahami pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penguasaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) menjadi salah satu fondasi utama dalam penulisan berita.

Ketelitian memilih kata, menyusun kalimat yang efektif, hingga menjaga tata bahasa bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bentuk penghormatan kepada pembaca agar informasi dapat dipahami secara jelas dan akurat.

Materi kemudian berlanjut pada prinsip-prinsip dasar jurnalistik yang menjadi roh setiap karya pemberitaan. Sebuah berita tidak boleh dibangun atas asumsi atau opini pribadi, melainkan harus berdiri di atas fakta yang telah diverifikasi. Kredibilitas seorang jurnalis ditentukan oleh ketepatan data, kejelasan narasumber, serta objektivitas dalam proses peliputan. Di tengah maraknya penyebaran informasi instan, nilai-nilai inilah yang menjadi pembeda antara berita dan sekadar kabar.

Sebagai bekal praktis, peserta kembali diajak mengingat fondasi klasik dalam penulisan berita, yakni prinsip 5W+1H: What (apa yang terjadi), Who (siapa yang terlibat), When (kapan peristiwa berlangsung), Where (di mana peristiwa terjadi), Why (mengapa peristiwa tersebut penting), dan How (bagaimana peristiwa berlangsung).

Keenam unsur tersebut menjadi kerangka dasar agar sebuah berita mampu menjawab kebutuhan informasi pembaca secara utuh, runtut, dan mudah dipahami.

Peserta paltihan befoto bersama seusai pelatihan. (Foto: Dok Komsos Paroki Kranggan)

Menjelang akhir pelatihan, suasana berubah menjadi lebih reflektif. Frans Hasiholan Siagian mengajak seluruh peserta untuk melihat media sosial bukan sekadar ruang berbagi informasi, tetapi juga ruang tanggung jawab. Di era ketika satu klik dapat menyebarkan berita kepada ribuan orang dalam hitungan detik, setiap individu memiliki peran penting untuk tidak terburu-buru membagikan informasi yang belum terverifikasi.

Literasi digital, kemampuan memeriksa kebenaran informasi, serta etika dalam bermedia sosial menjadi bekal yang semakin mendesak dimiliki setiap orang. Dengan sikap kritis dan bertanggung jawab, masyarakat dapat bersama-sama membendung penyebaran hoaks dan berbagai informasi yang menyesatkan.

Pelatihan ini menjadi lebih dari sekadar kelas jurnalistik. Ia menjadi ruang pembentukan karakter bagi mereka yang terpanggil menjadi pewarta, baik dalam pelayanan Gereja maupun di tengah masyarakat.

Tim Komsos Paroki St. Stanislaus Kotska  berharap para peserta tidak hanya pulang membawa pengetahuan baru, tetapi juga membawa semangat untuk terus menghadirkan informasi yang benar, akurat, dan membangun.

Sebab pada akhirnya, menjadi seorang pewarta bukan hanya tentang menulis berita. Menjadi pewarta berarti memilih berpihak pada kebenaran, menjaga integritas, serta menghadirkan harapan melalui setiap kata yang dituliskan. Di tengah dunia yang dipenuhi berbagai suara, selalu akan ada ruang bagi mereka yang setia menyampaikan kebenaran dengan hati.

Laporan Laurencia Stefanie, peserta pelatihan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles