Jika kita berkunjung ke Basilika Santa Maria Maggiore di Roma pada 5 Agustus, kita akan menyaksikan “salju” yang turun dari kubah basilika setinggi 75 meter saat Gloria dinyanyikan.

Di jantung kota Roma, di atas Bukit Esquilinus, berdiri megah salah satu permata iman Katolik, Basilika Kepausan Santa Maria Maggiore. Bukan hanya karena umurnya yang lebih dari 1600 tahun. Bukan hanya karena keindahan mozaiknya. Juga bukan hanya karena lukisan terkenal Maria Salus Populi Romani. Tetapi karena di tempat inilah, setiap tanggal 5 Agustus, surga seolah “turun” ke bumi dalam bentuk kelopak mawar putih. Ini kisah tentang iman, ketaatan dan mukjizat yang tidak pernah padam.
Mimpi yang mengubah sejarah
Bermula pada 4 Agustus 352. Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga orang di saat bersamaan melalui mimpi. Mereka adalah Paus Liberius (352-366) dan sepasang suami istri, umat di Roma yang belum memiliki anak. Bunda Maria menyampaikan pesan yang sama kepada tiga orang itu. “Besok pagi di Bukit Esquilinus akan turun salju. Disana, bangunlah sebuah gereja untuk menghormatiku.” Begitu pesan Bunda Maria. Saat itu di Roma musim panas, tidak mungkin turun salju.

Namun mukjizat itu benar-benar terjadi. 5 Agustus 352, di tengah terik matahari musim panas, salju benar-benar turun, hanya di satu bukit. Polanya membentuk denah sebuah basilika.
Paus Liberius segera pergi ke lokasi dan menancapkan tongkatnya di atas salju. Di tempat itulah batu pertama Basilika Santa Maria akhirnya diletakkan. Karena basilika itu kemudian menjadi basilika Maria terbesar di Roma, maka kemudian disebut Maggiore (yang terbesar).
Sejak saat itu setiap 5 Agustus ditetapkan sebagai Pesta Pemberkatan Basilika Santa Maria Maggiore, yang juga dikenal sebagai Santa Maria ad Nives (Bunda Maria dari salju).
Harta iman di dalam basilika
Selama 17 abad, basilika ini menjadi rumah bagi harta rohani yang tak ternilai. Ada 4 hal yang menjadikan basilika ini istimewa. Pertama, lukisan Salus Populi Romani (keselamatan umat Roma). Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus ini dipercaya dilukis oleh Santo Lukas Penginjil saat Bunda Maria masih berada di Yerusalem. Setiap paus, termasuk Paus Fransiskus, selalu berziarah kesini sebelum dan sesudah perjalanan. Inilah yang menjadi pelindung Kota Roma. Kedua, relikui palungan suci. Di Nativity Chapel (kapel kelahiran), tersimpan 5 potong kayu yang dipercaya merupakan bagian dari palungan tempat Bayi Yesus dibaringkan di kandang Betlehem. Ketiga, langit-langit berlapis emas. Emas pertama yang dibawa Christopher Columbus dari “dunia baru” digunakan untuk melapisi langit-langit basilika. Hingga hari ini pun emas tersebut masih berkilau. Keempat, mozaik yang dibuat pada abad ke-5. Mozaik di pelengkung kemenangan adalah yang tertua dan terindah di Roma, yang menceritakan kisah Perjanjian Lama dan Bunda Maria.
Tradisi La Nevicata Di Petali (Salju Kelopak Mawar)
Inilah yang paling ditunggu umat Katolik dari berbagai penjuru dunia saat mengunjungi Basilika Santa Maria Maggiore setiap 5 Agustus, yaitu turunnya “salju” saat Gloria dinyanyikan untuk mengingat peristiwa tahun 352. Karena mustahil mengulang mukjizat untuk menurunkan salju, maka sejak abad 17 Gereja menggantinya dengan kumpulan kelopak mawar putih yang ditebarkan dari atas kubah setinggi 75 meter.
Ribuan kelopak mawar putih berputar, beterbangan hingga jatuh memenuhi lantai basilika dengan iringan nyanyian Gloria yang megah dan khidmat. Tak ketinggalan, seketika itu juga basilika dipenuhi aroma wangi mawar. Di saat itulah semua lonceng gereja di Roma pun ikut dibunyikan.
Peristiwa ini seringkali membuat umat yang hadir menangis terharu. Mereka merasa seolah “surga” sedang menyentuh mereka yang hadir. Mawar putih melambangkan kesucian Bunda Maria dan sebagai simbol dari salju yang pernah turun saat musim panas 352.
Basilika Santa Maria Maggiore dan Paus Fransiskus
Santa Maria Maggiore merupakan salah satu dari empat basilika kepausan utama di Roma. Paus Fransiskus memilih basilika ini sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Berbeda dengan kebanyakan paus yang dimakamkan di Basilika Santo Petrus, Paus Fransiskus memiliki ikatan yang sangat istimewa dengan gereja Maria terpenting di Roma ini.

Sehari setelah terpilih sebagai Paus, ia datang berziarah ke basilika tersebut. Pada tahun 2020, ia bahkan berjalan kaki menuju gereja itu untuk berdoa di hadapan Maria Salus Populi Romani, memohon berakhirnya pandemi COVID-19. Kini makamnya terletak di samping kapel tempat lukisan tersebut disimpan.
Paus Fransiskus pernah menjelaskan makna simbolis dari peristiwa turunnya kelopak mawar setiap 5 Agustus, “Salju adalah lambang rahmat. Rahmat adalah sesuatu yang tidak dapat diperoleh dengan usaha ataupun dibeli. Rahmat hanya dapat diterima sebagai anugerah. Karena itulah rahmat sepenuhnya tidak terduga, sama seperti salju yang turun di Roma pada pertengahan musim panas.”
Perayaan 2026
Pada tahun ini, Misa perayaan akan dipimpin oleh Kardinal Rolandas Makrickas dari Lituania, yang menjabat sebagai Archpriest (Imam Agung) Basilika Santa Maria Maggiore.
Dalam sebuah wawancara, ia juga menceritakan kesannya mengenai Paus Leo XIV, “Saya percaya beliau sangat tersentuh oleh satu detail khusus di basilika ini. Tidak jauh dari makam Paus Fransiskus terdapat sebuah altar yang dipersembahkan kepada Santo Fransiskus dan di dekatnya ada altar lain yang dipersembahkan kepada Santo Leo.”
Penutup
Jika Anda suatu hari berada di Roma tanggal 5 Agustus, datanglah mengantri sejak pagi dan bawalah hati terbuka. Ketika kelopak mawar pertama jatuh dari langit-langit, pejamkan mata sejenak. Bayangkan, hampir 1700 tahun lalu, di tempat yang sama, yang jatuh adalah salju. Tanda bahwa Bunda Maria tidak pernah melupakan janjiNya. Tanda bahwa doa orang sederhana didengar. Tanda bahwa di tengah panasnya dunia, Tuhan masih bisa menurunkan kesejukan.
Santa Maria Maggiore, Santa Maria della Neve, Bunda Maria dari Salju, doakanlah kami. ***

Bene Xavier dari Vienna Austia





