spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Salah Fokus Atensi Masyarakat dan Penyesatan Narasi

Rate this post

“Bagi saya, lebih baik memperoleh sepuluh juta rupiah dari hasil yang halal dan penuh berkat Tuhan daripada memperoleh satu miliar rupiah dari hasil menipu sesama dan mengkhianati hati nurani.”

Ada satu pertanyaan yang terus mengusik batin saya. Mengapa manusia begitu mudah tergerak oleh air mata, tetapi sering lupa mencari kebenaran di baliknya? Mengapa sebuah tangisan mampu mengalahkan logika, sementara sebuah kenyataan yang lebih utuh justru tenggelam di balik riuh pemberitaan?

Di zaman ketika setiap orang menggenggam kamera di telapak tangan dan setiap detik dapat diubah menjadi konten, perhatian masyarakat menjadi komoditas yang diperebutkan. Media berlomba menghadirkan kisah paling menyentuh. Influencer berlomba menjadi yang pertama menunjukkan empati. Para pejabat pun terkadang tergoda hadir di tempat yang sedang viral. Namun, di tengah derasnya arus simpati itu, ada satu hal yang perlahan hilang: kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir, dan memahami keseluruhan cerita.

Beberapa waktu lalu, publik Indonesia diguncang oleh sebuah peristiwa tragis di Bali. Yang pertama kali memenuhi layar masyarakat bukanlah kronologi yang utuh, melainkan potongan video seorang anak kecil yang menangisi ayahnya. Suaranya memanggil “Bapak… Bapak…” mengguncang hati siapa pun yang menontonnya. Sulit rasanya menemukan manusia yang tidak tersentuh melihat seorang anak kehilangan sosok ayah. Air mata anak memang tidak pernah berdusta tentang kesedihannya.

Namun, kesedihan bukanlah keseluruhan kebenaran.

Belakangan, berbagai informasi mengenai latar belakang peristiwa itu mulai bermunculan. Publik kemudian mengetahui bahwa kisah tersebut jauh lebih kompleks daripada sekadar narasi seorang ayah miskin yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Peristiwa yang sejak awal dibingkai sebagai tragedi kemanusiaan ternyata menyimpan banyak lapisan yang semestinya dipahami sebelum masyarakat mengambil kesimpulan.

Sayangnya, pada titik itulah perhatian publik sudah telanjur terbentuk. Narasi pertama telah memenangkan hati banyak orang.

Media memahami satu kenyataan sederhana: manusia lebih mudah mengingat air mata daripada data. Foto seorang anak menangis jauh lebih cepat menyebar dibandingkan laporan investigasi yang panjang. Potongan video berdurasi satu menit mampu mengalahkan penjelasan yang membutuhkan sepuluh halaman.

Baca Juga:  Merawat Kebenaran di Tengah Derasnya Arus Informasi: Belajar Menjadi Pewarta yang Berintegritas

Akibatnya, simpati sering kali datang lebih dahulu daripada kebijaksanaan.

Tidak sedikit tokoh publik yang kemudian memberikan bantuan kepada keluarga tersebut. Sebagian melakukannya dengan niat tulus. Sebagian lain mungkin terdorong oleh belas kasih yang spontan. Tidak ada yang salah dengan membantu orang yang sedang berduka. Belas kasihan adalah sifat yang mulia. Namun belas kasihan juga membutuhkan hikmat agar tidak kehilangan arah.

Pertanyaan yang layak diajukan bukanlah, “Apakah anak itu pantas dikasihani?” Tentu saja setiap anak yang kehilangan orang tua layak mendapatkan empati. Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah perhatian kita berhenti hanya pada anak yang kebetulan terekam kamera?”

Di berbagai penjuru negeri, ada begitu banyak anak yang kehilangan ayah karena kecelakaan kerja, penyakit, bencana, atau pengabdian yang jujur. Ada anak-anak dari buruh, petani, nelayan, satpam, guru honorer, bahkan korban kejahatan yang tidak pernah menjadi berita nasional. Mereka menangis tanpa kamera. Mereka berduka tanpa jutaan penonton. Kesedihan mereka tidak pernah menjadi trending topic.

Bukankah air mata mereka sama beningnya?

Di sinilah hati saya terusik.

Mengapa perhatian kita begitu mudah diarahkan oleh apa yang viral? Mengapa algoritma media sosial seolah menjadi kompas moral kita? Sejak kapan jumlah penonton menentukan siapa yang paling layak menerima kepedulian?

Kitab Amsal mengingatkan, “Janganlah menahan kebaikan dari orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” Firman itu tidak mengajarkan kita untuk memberi berdasarkan popularitas, melainkan berdasarkan keadilan. Kasih yang sejati bukanlah kasih yang mengikuti sorotan kamera, melainkan kasih yang hadir bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang menonton.

Sebaliknya, Alkitab juga mengingatkan agar manusia tidak menjadi hakim yang gegabah. Penghakiman massa bukanlah jalan yang dibenarkan. Tidak ada manusia yang diberi hak mengambil nyawa sesamanya. Lukas 6:37 berkata, “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi.” Kekerasan tidak pernah dapat dibenarkan, apa pun kesalahan pelakunya. Negara hukum ada agar keadilan ditegakkan melalui proses yang benar, bukan melalui amarah kerumunan.

Baca Juga:  Ketika Dunia Digital Menguji Generasi Muda

Karena itu, tragedi semacam ini seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Mereka yang melakukan kekerasan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka yang melakukan tindak pidana pun tetap bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Dan masyarakat harus belajar agar tidak terburu-buru memihak hanya berdasarkan potongan video yang menyentuh emosi.

Ironisnya, kita sering begitu berani menghakimi pencuri kecil, tetapi begitu diam menghadapi pencuri berdasi. Kita marah kepada pelaku kejahatan yang tampak di depan mata, namun sering merasa tidak berdaya ketika berhadapan dengan korupsi yang merampas hak jutaan rakyat. Standar moral kita terkadang berubah sesuai posisi pelakunya.

Padahal, jika mau jujur bercermin, setiap manusia pernah melakukan bentuk “pencurian” dalam hidupnya. Ada yang mencuri waktu orang lain dengan terus-menerus datang terlambat. Ada yang mencuri hasil kerja rekan lalu mengakuinya sebagai prestasi sendiri. Ada yang mencuri kepercayaan. Bahkan ada yang mencuri kemuliaan Tuhan dengan menganggap seluruh keberhasilannya semata-mata hasil kekuatan dirinya sendiri.

Kesadaran itu seharusnya membuat kita rendah hati, bukan mudah menghakimi.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu belajar membedakan antara empati dan glorifikasi. Bersimpati kepada keluarga yang berduka adalah tindakan kemanusiaan. Namun simpati tidak boleh berubah menjadi pembenaran terhadap perbuatan yang salah. Belas kasih tidak boleh menghapus tanggung jawab moral. Mengasihi pelaku bukan berarti membenarkan tindakannya.

Yang lebih menyedihkan adalah ketika perhatian publik lebih banyak ditentukan oleh daya tarik visual. Wajah yang fotogenik, tangisan yang dramatis, dan video yang menyayat hati sering kali jauh lebih mudah mengundang bantuan daripada penderitaan sunyi yang tidak pernah direkam kamera. Seolah-olah nilai seorang manusia ditentukan oleh seberapa viral kisahnya.

Baca Juga:  Keuskupan Agung Ende dan Masyarakat Flores Gugat Tiga SK Terkait Aktivitas Geothermal di Pulau Flores ke Mahkamah Agung

Padahal, di luar sana masih banyak keluarga yang hidup dalam kejujuran meskipun bergumul dengan kemiskinan. Ada orang-orang yang memilih bekerja keras dengan penghasilan sederhana daripada mengambil milik orang lain. Mereka tidak pernah menjadi berita utama. Mereka tidak memiliki jutaan penonton. Namun justru merekalah yang sering menjadi teladan tentang arti integritas.

Saya percaya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang mudah menangis, melainkan bangsa yang mampu menyeimbangkan hati dan akal budi. Air mata memang penting, tetapi kebenaran jauh lebih penting. Empati memang mulia, tetapi kebijaksanaan membuat empati itu tepat sasaran.

Literasi bukan hanya kemampuan membaca berita. Literasi adalah keberanian untuk mempertanyakan narasi, memeriksa fakta, memahami konteks, dan menolak menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan potongan video beberapa detik. Jangan biarkan algoritma menentukan hati nurani kita.

Pada akhirnya, setiap orang bebas memilih jalan hidupnya. Ada yang mengejar kekayaan dengan cara apa pun. Ada pula yang memilih hidup sederhana tetapi jujur. Saya tetap percaya bahwa rezeki yang halal, meskipun tidak berlimpah, akan selalu lebih bernilai daripada kekayaan besar yang diperoleh dengan mengorbankan kejujuran dan martabat.

Karena pada hari terakhir nanti, Tuhan tidak akan bertanya seberapa viral simpati kita. Ia akan melihat apakah kita mengasihi dengan bijaksana, menolong dengan adil, dan tetap memegang teguh kebenaran ketika dunia lebih memilih mengikuti arus.

Semoga bangsa ini semakin dewasa dalam berliterasi, semakin bijaksana dalam berempati, dan tidak lagi mudah digiring oleh narasi yang hanya menampilkan sepotong kenyataan. Sebab keadilan tidak dibangun oleh emosi sesaat, melainkan oleh hati yang penuh kasih, akal yang jernih, dan keberanian untuk mencari kebenaran secara utuh.

Caecilia Stella

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles