HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Peralihan Sabat Ke Minggu, Mengapa?

322
Peralihan Sabat Ke Minggu, Mengapa?
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Mengapa perayaan hari Sabat diubah menjadi Sunday (hari pertama dalam seminggu)? Apakah perubahan itu dilakukan supaya sekadar berbeda dari perayaan orang Yahudi?

Kristoforus T. Forus

Pertama, perlu dicermati bahwa kemiripan bunyi antara Sabat dan Sunday tidak membuat keduanya sama. Hari Sabat tak sama dengan Minggu. Kata shabbat (Ibrani) berarti berhenti bekerja atau beristirahat.

Kedua, perintah Allah kepada Israel, “Kuduskanlah hari Sabat” (Kel 20:8), tak boleh dimengerti sebagai pengudusan hari ketujuh, tapi harus dimengerti dalam konteks karya penciptaan Allah. Allah bekerja menciptakan selama enam hari, lalu Allah beristirahat pada hari ketujuh (Kej 2:2). Apa yang dilakukan Allah harus menjadi teladan bagi manusia. Manusia harus berhenti bekerja dan menguduskan hari ketujuh, artinya hari itu dibaktikan kepada Allah. Inilah pengertian merayakan hari Sabat bagi umat Israel (Kel 20:8-11; Kel 31:16).

Memang hari Sabat dilaksanakan pada hari ketujuh, yaitu hari Sabtu. Sebenarnya, istirahat pada hari ketujuh mempunyai makna yang lebih mendalam daripada sekadar “berhenti bekerja”. Secara teologis bisa dikatakan bahwa tindakan kreatif Allah terus berlanjut mendasari dunia. Allah terus berkarya, seperti ditegaskan Yesus ketika membicarakan perintah Sabat, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh 5:17). Maka, istirahat Allah tak menunjuk kepada Allah yang tidak aktif, tetapi lebih kepada Allah yang seakan menikmati hasil ciptaan-Nya yang “sungguh amat baik” (Kej 1:31), dan secara istimewa atas manusia, mahkota penciptaan. Pandangan Allah ini menyingkapkan “hubungan pernikahan” antara Allah dan manusia, yang diciptakan menurut citra keserupaan-Nya (bdk. Dies Domini, no. 11). Jadi, istirahat Allah di sini berarti Allah menikmati karya- Nya yang begitu indah.

Ketiga, motivasi “mengenang karya Allah” dalam merayakan hari Sabat tampak jelas dalam Ul 5:12- 15, yaitu mengenang karya penyelamatan Allah, “pembebasan dari perbudakan Mesir”. Allah yang beristirahat pada hari ketujuh itu adalah Allah yang sama yang membebaskan Israel dari penindasan Firaun. Pada karya penciptaan maupun karya pembebasan itu, Allah menampilkan diri sebagai mempelai pria yang menghadapi mempelai wanita (bdk. Hos 2:16-24; Yer 2:2; Yes 54:4-8). (DD no. 12).

Keempat, motivasi “mengenang karya Allah” inilah yang mendorong Gereja Para Rasul dengan cepat memindahkan istirahat khusus dari hari ketujuh (Sabat) ke hari pertama (Minggu, Sunday), karena Kristus bangkit pada hari Minggu. Maka hari Minggu mengingatkan para murid pada pembebasan sempurna yang dilakukan Kristus melalui sengsara dan kebangkitan-Nya. Karya pembebasan ini juga dipandang sebagai karya pembaruan ciptaan lama yang sudah dirusak oleh dosa(2 Kor 5:17). Misteri Penciptaan mencapai kepenuhan dalam Misteri Paskah, yaitu wafat dan kebangkitan Kristus. Inilah antisipasi dari kepenuhan definitif pada akhir zaman bila Kristus akan datang dalam kemuliaan (bdk. Kis 1:11; 1 Tes 4:13-17), serta antisipasi pembaruan segala sesuatu (bdk. Why 21:5).

Kelima, sudah sejak zaman para Rasul, perayaan hari Sabat dipindahkan ke hari Minggu, “Pada hari pertama dalam Minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah roti,” (Kis 20:7). Para Rasul juga menyebut hari Minggu itu sebagai hari Tuhan (Why 1:10). Pada awal mula, praktik ibadat hari Sabat di bait Allah berjalan bersamaan dengan praktik ibadat hari Minggu di rumah untuk mengenangkan Kebangkitan Tuhan dengan memecahkan roti (Kis 2:42, 46). Ketika Gereja semakin menemukan kesadaran dan jati diri sebagai murid-murid Yesus, para Rasul menguduskan hari Minggu sebagai hari kenangan akan Kebangkitan Tuhan dengan merayakan Ekaristi. Maka, Gereja Para Rasul beralih dari hari Sabat ke hari Minggu, dari Hari Tuhan (Dies Domini) ke Hari Kristus (Dies Christi).

Petrus Maria Handoko CM

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here