Komitmen Dua Manusia

149
[illustrasi:Mujio]
Komitmen Dua Manusia
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com SENJA, adalah peristiwa di mana matahari akan pergi meninggalkan bumi sebentar dan akan kembali lagi di pagi hari. Senja, adalah alasan di mana aku pergi sebentar dari tempat aku belajar di luar kota untuk kembali ke rumah hanya untuk bertemu dengannya.

Senja, dialah lelaki itu. Lelaki yang sama menaklukan hatiku untuk yang pertama kalinya, hingga aku tidak bisa berhenti memikirkannya. “Hai,” sapaku. “Makan, yuk.” Setelah 7 tahun lamanya aku dan dia tak bertemu, lalu kini aku berdiri di hadapannya. Pria yang kuidolakan sejak kumasuki TK, sainganku dalam meraih prestasi ketika di bangku SD, dan yang kurindukan selama ini. Dia, yang tak bisa aku lupakan.

Aku banyak bercengkerama dengan dirinya, tak semampai tinggiku dengannya. Tumbuh jenggot di dagunya, suaranya yang berubah menjadi lebih berat, dan sikapnya yang berubah 360 derajat dibandingkan waktu kecil dulu. Aku tak pernah berpikir bahwa diriku akan bertemu dengannya.

Padahal selama ini, ajakan yang aku tawarkan padanya selalu dia tolak. Dan sekarang, dia yang mengajakku untuk bertemu. Aku pun terheran-heran bagaimana bisa dia mau bertemu denganku? Apakah ada sesuatu yang ingin membuatnya bertemu denganku? Pertanyaan itu aku simpan di dalam hatiku.

Aku dibuat gila oleh dia. Satu malam itu, dia mengajakku untuk bercerita kehidupanku setelah tidak ada dirinya. Aku pun bercerita tentang masa-masa sekolah dan kuliahku sekarang. Dan dia pun mendengarkan dengan seksama. Tetapi, ketika aku bertanya tentang kehidupannya, ia selalu mengalihkan pembicaraan. Sampai pada akhirnya dia mengatakan, “Kamu beruntung memiliki sahabat yang selalu ada disekitarmu. Teman-temanku selama ini hanyalah memanfaatkan aku.”

Aku terkejut akan pernyataan itu. Aku pun sendiri merasa menyesal bahwa dia memiliki beban yang berat, di mana seharusnya aku sebagai temannya tidak ada di sisi dia. Di saat aku pergi, ternyata dia membutuhkan seseorang yang bisa menjadi pundaknya. Aku menahan tangisan dan memalingkan muka.

Dia pun tahu aku menahan bendungan air mataku, lalu ia pun berkata, “Tidak apa-apa. Ya memang aku selalu sendiri, kok. Jangan khawatir.” Dia tersenyum melihatku, dan aku pun tahu di balik senyumnya itu, ada beban yang ia pikul. Aku pun ingin meminta maaf, tapi aku tidak bisa mengeluarkan kata maaf itu.

Entah rasanya sulit sekali karena menahan tangis. Tetapi sesudah itu, dia mulai mengajakku berbicara hal yang lain, yang membuatku lupa akan kesalahanku meninggalkan dia.

Dulu ketika kecil, tiada hari tanpa beradu argumen dengannya. Terus saja bertengkar, hingga teman-teman di antara kami pun melerai. Senja yang selalu bersaing dalam hal nilai-nilai ulangan denganku. Untuk pelajaran IPA aku boleh kalah, tetapi untuk pelajaran IPS, akulah juaranya. Setiap dibagikan hasil nilai ulangan kami langsung saling meledek dan terus saja beradu pendapat siapa yang salah dan siapa yang benar.

Guru-guru pun sering kewalahan mengatur perilaku kami yang sulit dikendalikan. Lucu sekali mengingat kejadian-kejadian masa itu. Kami tertawa akan kebodohan tingkah laku kami dulu. Sekarang, orang di hadapanku ini benar-benar  berbeda. Dia lebih gentle, perhatian, dan seperti melindungiku. Terlihat dari gesture tubuhnya yang selalu berada disampingku, dan pandangannya yang tidak beralih dari mataku.

Tiap kali aku memergokinya, dia langsung malu karena tertangkap basah melamun memperhatikanku. Tiba-tiba, dia pun bertanya sesuatu yang membuatku tergelak tertawa. “Biasanya kamu memberikan aku cokelat, kok Februari kemarin tidak?”

Hahaha, ternyata masih ada juga sifatnya yang tidak berubah. Ada alasan mengapa aku tidak memberimu cokelat lagi, Senja. Tetapi lagi-lagi, aku tidak bisa mengungkapkan jawaban itu padanya. Aku pun teringat pada perkataan teman-temanku bahwa ia tidak pernah mendekati perempuan ketika di bangku SMP SMA.

Justru para perempuan itu mendekatinya karena kepintarannya yang bisa dibilang ‘tingkat dewa’. Bahkan ia tergolong pendiam di kelas dan tidak aktif berorganisasi. Aku pun semakin bingung, apakah benar dia inilah Senja? Mengapa berbeda sekali dengan Senja yang aku kenal dan Senja yang diceritakan teman-temanku?

Dia pun pada akhirnya bertanya padaku, “Apakah aku lebih baik sekarang dibandingkan dulu?”
“Lebih baik sekarang, kok,” jawabku.
Kemudian aku ganti bertanya, “Pernahkah kamu pernah mendekati perempuan selama di sekolah?”
“Selama ini, perempuan yang aku ajak bicara hingga bertengkar hanya Ibuku dan kamu.”
Jawaban darinya membuatku menghentikan makanku. Aku tak percaya bahwa aku satu-satunya perempuan yang ia jadikan teman. Dan perempuan lain yang kusebutkan itu hanyalah sebatas orang asing di matanya.

Senja, mengapa kamu berulang kali mengejutkan aku di malam ini? Kemudian, kami berjalan-jalan mengitari etalase toko, saling bergurau dan aku memintanya untuk mengantarkan aku pergi ke taman. Di taman inilah, aku memberikannya surat. Surat ini mengisikan seluruh isi hatiku padanya.

Aku sangat berharap dia mengerti maksudku. Kutuliskan perasaaanku padanya selama ini, bahwa aku masih menyayangi dia. Tetapi, tak perlu dia membalas perasaanku, karena aku pun menerima, bahwa sebuah perasaan itu tidaklah harus memiliki.

Tanpa kuduga, dia hanya berkomentar, “Benar bukan kataku, tulisanku lebih bagus dibandingkan dirimu.” Aku pun antara menyesal dia menjawab seperti itu, tetapi apa boleh buat, berarti dia sudah tahu semuanya.

Memang ia adalah lelaki yang tak pernah kumengerti. Selalu misterius dan tak mau membuka diri. Tetapi karena itulah yang membuat aku mencari tahu apa yang dia sembunyikan. Tiap hari kupikirkan dirinya.

Dan sekarang, semua itu terbukti sudah, tak berarti apa-apa bagiku. Lebih baik aku menyerah daripada aku harus menimba beban yang lebih sakit lagi karena hanya terpaku padanya. Aku pun pada akhirnya memutuskan untuk merelakan dia.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Ini saatnya aku pergi. Aku sudah berjanji pada orangtuaku tidak akan pulang larut malam. Aku mengucapkan salam perpisahan padanya. Aku dan dia sama-sama tahu kami tidak mau saling berpisah. Rasanya berat sekali.

Aku pun mengerti kini, bahwa takdirku bukan dirinya. Kami bertemu hanyalah untuk melepaskan kerinduan dan menghilangkan rasa penat dari kehidupan kuliah.
Aku dan dia berbeda agama, dan kami saling mendukung jalan kami masing-masing.
Kami berjanji, bahwa kami masih berteman hingga selamanya.

Aku sangat yakin, bahwa Tuhan telah memberikan jalan yang indah bagi tiap anakNya. Tuhan akan melindungi Dia. Tuhan akan memberikan kebahagiaan untuk kami berdua.
Aku tahu kita sama-sama berharap akan saling bertemu lagi.

Aku pun percaya, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk kita saling bertemu. Meski pertemuan selanjutnya tak bisa kita tahu kapan. Aku bersyukur bisa bertemu dengannya.
Aku berterima kasih pada Tuhan telah mengenalkan diriku padanya. Senja, lelaki yang mengajariku banyak hal. Lelaki yang membuat aku rindu dan mengerti cinta. Terima kasih, Senja. Sampai nanti di lain waktu.

 

Bernadetta Utomo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here