Uskup Bagi Para Migran

118
Beato Giovanni Battista Scalabrini.
[catholikblog.blogspot.com]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ia lahir dan tumbuh di tengah keluarga sederhana. Dikenal cerdas, ia terus memperdalam pengetahuannya. Saat menjadi uskup, fokus pastoralnya ditujukan kepada para migran.

Giovanni Battista Scalabrini lahir di Fino Mornasco, Como, Italia Utara, 8 Juli 1839, dari suami-istri Luigi Scalabrini dan ibunya Colomba Trombetta. Ia anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya, Luigi Scalabrini bekerja di sebuah toko anggur.

Kehidupan iman di keluarga ini tumbuh subur.Ayah dan ibunya disiplin dan ketat dalam menjalankan kehidupan iman Katolik. Tak pelak, anak-anaknya pun dididik seturut tradisi kesalehan orangtuanya. Orangtua Scalabrini sejak dini menanamkan nilai kristiani kepada sang buah hati.

Scalabrini mengenyam pendidikan dasar di kampung halamannya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Liceo Volta, Como. Meski disibukkan dengan berbagai tugas sekolah, Scalabrini tak pernah absen berdoa dan mengikuti ibadat, serta perayaan Ekaristi.

Saat masih mengenyam bangku sekolah, Scalabrini dikenal sebagai siswa yang cerdas. Berbagai prestasi ia sabet dengan gemilang. Selain itu, tradisi kesalehan keluarganya lekat dalam kehidupan keseharian.

Scalabrini dinobatkan sebagai siswa teladan di sekolah. Pada musim gugur 1857, ia memutuskan masuk Seminari Menengah St Abbondio, Como. Usianya yang masih tergolong belia, ia sudah mempelajari berbagai hal tentang kekatolikan.

Haus Pengetahuan
Tapak-tapak panggilan imamatnya berjalan mulus. Pada 20 September 1862, Scalabrini menerima tahbisan sebagai diakon. Lalu, pada 30 Mei 1863, ia menerima tahbisan sebagai imam dari Uskup Como, Mgr Giuseppe Marzorati (1818- 1865). Sebagai imam muda, Pastor Scalabrini sudah didapuk sebagai prefek atau pamong sekaligus guru Sejarah, Bahasa Latin dan Yunani, di seminari menengah almamaternya. Ia sangat fasih berbahasa asing. Selain pelajaran dua bahasa yang diampunya, ia juga paham Bahasa Ibrani dan Perancis.

Pada 17 Mei 1895, di Katedral Clerment- Ferrand, Perancis, Pastor berdarah Italia itu berkhotbah dalam Bahasa Perancis dengan aksen yang begitu indah. Banyak umat berdecak kagum karena kemahiran bicaranya. Ia berbicara Prancis seperti seorang anak yang lahir di Prancis. Demikian pujian yang terungkap dari umat yang mendengarnya berkhotbah.

Karir Scalabrini melesat. Pada 6 Oktober 1868, ia diangkat menjadi Rektor Seminari St Abbondio. Meski aktivitas hariannya begitu padat, ia tak henti memperdalam pengetahuannya di bidang teologi, filsafat, sejarah, dan politik. Dari buah ketekunannya, ia melahirkan sejumlah karya monumental, antara lain: dua ceramah tentang Konsili Vatikan I (KV I) yang ia presentasikan di Katedral St Maria Assumpta, Como. Hasil presentasinya itu kelak dibukukan dan diterbitkan pada tahun berikutnya, atas permintaan para imam diosesan di sana.

Selain itu, Scalabrini juga berhasil menulis sejumlah komentar dan refleksi tentang “Summa Theologia” karya St Thomas Aquinas, homili St Chrisostomus, surat- surat St Athanasius, dan berbagai persoalan katekese.

Uskup Piacenza
Pada Desember 1875, Scalabrini menerima kabar mengejutkan dari Takhta Suci. Paus Pius IX (1846-1878) menunjuknya menjadi Uskup Piacenza. Sejak 16 September 1989, keuskupan yang sudah berdiri sejak abad IV ini berganti nama menjadi Keuskupan Piacenza-Bobbio hingga sekarang. Kala itu, usianya masih 36 tahun, baru 12 tahun menjadi imam. Pada 30 Januari 1876, ia menerima tahbisan uskup dari Prefek Kongregasi Propaganda Fide kala itu, Kardinal Alessandro Franchi (1819-1878).

Mgr Scalabrini dikenal sebagai uskup yang memiliki watak keras dan tegas dalam melawan setiap tindakan yang bertentangan dengan ajaran kristiani. Para tokoh gerakan anti-Gereja segan berhadapan dengannya. Ia juga diakui sebagai uskup pemberani. Secara terbuka, ia mengkritik ketidakadilan yang bercokol di tengah masyarakat. Paus Pius IX pun angkat jempol dengan keberanian dan ketegasan sikap uskupnya itu.

Mendirikan Kongregasi
Pada abad XIX di Italia, Gereja dan negara berselisih. Negara yang dipengaruhi sosialisme-marxis menelanjangi dan merampas semua kekayaan Gereja. Situasi itu memicu lahirnya dogma infalibilitas. Dogma ini menegaskan tentang ajaran bahwa Paus tidak akan pernah salah atau sesat dalam hal dogma dan ajaran iman serta moral. Munculnya dogma ini memicu kemarahan Raja Victor Emmanuel.

Pada 20 September 1870, di bawah komando Raja Victor, antek-antek dan serdadu raja merebut Roma dan merampas harta kekayaan Takhta Suci. Akibat pergolakan politik ini, rakyat kecil mengalami kesulitan ekonomi. Banyak di antara mereka jatuh miskin dan menjadi pengangguran, bahkan Kota Abadi pun dilanda gagal panen. Demi menghindari bencana kemanusiaan yang kian parah, banyak warga Italia bermigrasi ke Amerika Utara dan Selatan karena di sana memiliki lahan yang subur dan berkelimpahan.

Pemerintah Italia terkesan lepas tangan terhadap persoalan pelik itu. Padahal Mgr Scalabrini berpendapat, masalah sosial begitu membekap Italia. Jika tak ditangani secara serius, sistematis, dan komprehensif, problem ini bisa menjalar pada kehidupan iman umat. Karena itu, ia dengan tegas menyuarakan persoalan para migran yang harus ditangani secara holistik.

Mgr Scalabrini mengatakan, iman umat akan terkikis apabila dalam waktu yang sangat lama tidak didukung oleh kebudayaan asal para migran. Landasan pastoral Uskup Piacenza terhadap para migran ini kelak diadopsi Gereja Katolik dalam pendampingan umat di perantauan.

Dengan tekun, Mgr Scalabrini lantas mengutus sejumlah imam dan awam asal Italia ke wilayah-wilayah yang menjadi kantong kaum migran untuk memberikan pendampingan dan pelayanan rohani. Demi mengakomodir kebutuhan pastoral para migran di Benua Amerika, ia mendirikan Kongregasi Misionaris St Charles (Scalabrinian, CS) pada 28 November 1887. Kongregasi religius baru ini kemudian disetujui oleh Paus Leo XIII (1878-1903).

Semangat Pendiri
Tahun 1888, Mgr Scalabrini mengirim delapan misionaris Scalabrinian ke Amerika dan Brazil. Namun, tak lama setelah institusi ini mulai berkembang dan melayani banyak umat di perantauan, pada 1 Juni 1905, ia wafat. Pada 16 Maret 1987, Bapa Suci Yohanes Paulus II (1978-2005) mengakui dan mengesahkan dekrit keteladanan hidup, dedikasi, dan keutamaan kristiani Mgr Scalabrini. Saat itu, Takhta Suci menggelarinya Venerabilis.

Lalu pada 9 November 1997, Bapa Suci menganugerahkan gelar Beato kepada Mgr Scalabrini. Gereja mengenangkan Pendiri Tarekat Religius Scalabrinian ini tiap 1 Juni.

Odorikus Holang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here