Mewarta Melalui Media Sosial

186
Judul : Pedoman Penggunaan Media Sosial; Penulis : Tim Komsos KWI; Penerbit : Komsos KWI & Ditjen IKP Kemenkominfo, 2018. [Dok. mirifica.net]

HIDUPKATOLIK.com LAJU perkembangan dunia teknologi komunikasi dan informasi kian hari kian cepat berubah. Peristiwa yang terjadi di belahan dunia berbeda, dengan cepat sudah dapat dinikmati sebagai informasi dalam hitungan detik. Bahkan, kejadian itu dapat dilihat dalam waktu yang bersamaan ketika sedang berlangsung.

Melalui teknologi komunikasi dan informasi mutakhir, kita dapat dengan mudah dan murah memperoleh informasi yang kita mau. Namun, tak jarang kita justru dibanjiri berbagai macam informasi meskipun tidak kita minta.

Fenomena tersebut semakin menggila dengan adanya media sosial. Kita bisa melakukan banyak hal dengan akun media sosial yang kita miliki. Padahal, kita belum tentu membutuhkan informasi tersebut. Kita mengalami tsunami informasi hingga tak mampu lagi membendungnya.

Fenomena inilah yang melahirkan generasi milenial bahkan pascamilenial–yang sudah mengenal teknologi sejak dini. Gambaran dunia seperti itu tentu membawa dampak positif dan negatif. Kita bisa dengan mudah mendapatkan informasi yang kita butuhkan, sekaligus dibanjiri “sampah”, hoaks, berita palsu, dan sebagainya.

Konten-konten positif dan negatif ada-bersama mengisi sendi-sendi kehidupan kita, baik di ruang publik, komunitas, keluarga maupun privat. Dunia maya dan kehidupan virtual seolah sudah menjelma menjadi ruang publik kedua, di samping kehidupan nyata kita. Oleh karena itu, kita membutuhkan rambu-rambu untuk mengatur, memilah, memilih, dan menentukan sikap.

Dalam konteks inilah, Gereja ditantang untuk terlibat. Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI) pun berinisiatif membidani lahirnya buku Pedoman Penggunaan Media Sosial. Dalam penerbitannya, Komsos KWI bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Buku tersebut diawali dengan paparan realitas virtual yang sekarang kita hadapi. Pengenalan tersebut menjadi titik pijak bagi kita untuk mendalami ajaran dan tradisi Gereja seputar komunikasi.

Khazanah Gereja itu menjadi prinsip dan pegangan untuk menyikapi maraknya fenomena yang terjadi di era digital. Melalui terang ajaran Gereja, kita dapat menentukan rambu-rambu yang secara praktis dapat digunakan bagi pengelola dan pengguna teknologi komunikasi dan informasi.

Setelah merumuskan panduan praktis bermedia sosial, buku yang dibuka dengan “Kata Pengantar” dari Ketua KWI, Mgr Ignatius Suharyo ini ditutup dengan ajakan untuk menyebarluaskan konten positif sebagai pewarta Kabar Baik di media sosial.

Ukuran buku ini dirancang seperti buku saku agar memudahkan para pembacanya. Harapannya, ukuran buku saku dapat sungguh-sungguh praktis digunakan bagi para pemimpin Gereja, terutama yang berkecimpung di bidang Komsos serta pendamping kaum muda.

Meskipun menjadi pedoman praktis, buku ini juga sarat katekese karena berangkat dari ajaran Gereja bagaimana mengelola media komunikasi dalam karya pewartaan di tengah dunia.

 

R.B.E. Agung Nugroho

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here