KATEKIS YEREMIAS JENA: SUKACITA PASKAH SELALU BERWAJAH GANDA

127

HIDUPKATOLIK.COM – Hari-hari selama Pekan Suci adalah momen doa dan refleksi. Selain berpartisipasi aktif dalam setiap perayaan gerejani, kita bisa mengisi waktu kita dengan berbagai bacaan rohani, Kitab Suci, mendengarkan lagu-lagu dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya di keluarga kita masing-masing.

Saya menyempatkan diri membaca beberapa tulisan rohani mengenai penderitaan/salib, wafat dan kebangkitan Tuhan, dan salah satu yang menarik bagi saya adalah buku berjudul The 10 Best Books to Read for Easter: Selections to Inspire, Educate, and Provoke. Buku edisi kindle ini diterbitkan oleh HarperOne, sebuah anak penerbit (imprint) dari Penerbit HarperCollins, yang khusus fokus pada buku-buku agama dan spiritualitas.

Buku kumpulan karangan yang diedit dan diberi Pengantar oleh Pastor James Martin, SJ ini cocok mengisi hari-hari kita selama pekan suci dan hari-hari Minggu di masa Paskah.

Buku yang adalah kumpulan karangan ini sebenarnya diambil dari berbagai bab buku yang pernah diterbitkan sebelumnya oleh kelompok HarperCollins, yakni (1) Together on Retreat: Meeting Jesus in Prayer karya Pastor James Martin, SJ: (2) Mere karya C.S. Lewis; (3) Simply Jesus karya N.T. Wright; (4) Made for Goodnes yang ditulis bersama oleh Desmond Tutu dan Mpho Tutu; (5) Not Less Than Everything karya Catherine Wolff; (6) The Myth of Persecution karya Candida Moss; (7) The Greatest Prayer karya John Dominic Crossan; (8) God Wants You Happy yang ditulis oleh Pastor Jonathan Morris; (9) Will There be Faith? karya Thomas G. Groome; (1) The Jesuit Guide to (Almost) Everything karya Pastor James Martin, SJ.

Menurut saya, buku ini menarik dan cocok dibaca selama Pekan Suci dan minggu-minggu Paskah karena tiga alasan utama.

Pertama, dihimpun dan diberi pengantar oleh James Martin, SJ, seorang imam Yesuit asal Amerika Serikat yang sangat terkenal. Dia seorang tokoh publik (public figure) dengan ratusan ribu followers di media sosial, sering menjadi narasumber di media-media mainstream di AS ketika membicarakan isu-isu kegerejaan. Selain itu, James Martin juga seorang penulis yang karya-karyanya seperti Learning to Pray (2021), Seven Last Words: An Invitation to a Deeper Friendship With Jesus (2016), The Jesuit Guide to (Almost) Everything (2010) dan banyak buku lainnya adalah The New York Times Bestselling. Jadi, dapat dikatakan bahwa sosok James Martin menjamin kualitas konten dan tingkat keterjualan buku ini.

James Martin. SJ, seorang pastor Yesuit, penulis buku-buku bestseller, dan tokoh publik.

Kedua, buku ini diedarkan secara gratis dalam versi kindle. Jadi, dapat diakses secara luas oleh umat Kristiani ketika mempersiapkan diri melalui jalan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Meskipun demikian, sebagaimana juga dikatakan James Martin dalam kata pengantar, hal yang gratis itu tidak identik dengan murahan. Nukilan-nukilan bab dalam buku ini justru membantu kita mempersiapkan diri merayakan Minggu Paskah dan hari-hari Minggu setelah Paskah.

Ketiga, saya sendiri mengusulkan teman-teman pembaca untuk mengunduh (download) buku ini dari website libgen.rs dengan cara membuka website tersebut (http://libgen.rs) lalu mengetik frasa “James Martin, SJ” di papan pencari. Rekan-rekan akan diarahkan ke buku tersebut dan buku-buku lainnya yang ditulis James Martin. Silakan mengunduh buku tersebut ke perangkatmu (gawai, laptop atau pc). Jika tidak memiliki aplikasi atau pembaca kindle, teman-teman bisa mengunggah (upload) file buku tersebut ke google play book. Buku ini sudah dalam format epub, jadi akan sangat enak dan nyaman untuk dibaca di google play book yang ada di gawai atau laptop teman-teman.

***

Untuk saat ini, saya ingin membagi apa yang saya baca dari nukilan buku Pastor James Martin, SJ yang diambil dari buku Together on Retreat: Meeting Jesus in Prayer, terutama dari bab 6 buku tersebut yang dia beri judul “The Breakfast by the Sea”. Konteksnya adalah perikop Injil Yohanes 21: 1-19, yakni kisah mengenai Yesus menampakan diri kepada murid-murid-Nya di Pantai Danau Tiberias, dan perintah Yesus kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Tentang hal ini, saya mau membagikan 5 poin refleksi dari tulisan James Martin tersebut serta refleksi saya sendiri.

Pertama, para murid Yesus yang adalah para nelayan itu berada dalam pengalaman kekecewaan yang sangat besar setelah peristiwa sengsara dan wafat Yesus. James Martin menggunakan kata demoralized yang memang cocok menggambarkan pengalaman ini. Singkatnya, Yesus yang selama ini mereka andalkan ternyata mengalami kematian seperti penjahat.

Kedua, para murid itu melewati malam-malam di danau tanpa menangkap seekor ikanpun. Dengan ini, James Martin mau menegaskan bahwa bahkan setelah para murid itu mengikuti seluruh karya Yesus dan pengalaman akan Allah pun mereka tetaplah orang-orang tanpa pengalaman rohani.

Ketiga, kisah itu memperlihatkan betapa para murid tidak bisa apa-apa tanpa Yesus. Pada saat Yesus menampakan diri-Nya dan memerintahkan para murid menebarkan jala ke sebelah kanan perahu yang berujung pada tangkapan yang melimpah, para murid diliputi perasaan kegembiraan yang luar biasa (overjoyed). Petrus langsung meloncat ke danau untuk menghampiri dan menyalami Yesus.

Keempat, penekanan pada pertanyaan “apakah engkau mengasihi Aku” sebanyak tiga kali mengingatkan penyangkalan Petrus di malam penangkapan dan pengadilan Yesus. Dalam konteks ini, Petrus adalah murid yang sangat terluka tetapi kemudian dipulihkan. Dia melewati pengalaman sakit karena telah menyangkal guru dan Tuhannya kepada sukacita telah diampuni. Petrus kemudian menerima tanggung jawab untuk menggembalakan domba-domba karena pengalaman pengampunan telah menyembuhkan dan memulihkan relasi dengan Tuhan. Petrus dan para murid lainnya dipulihkan, kembali kepada komunitas dan memulai hidup baru sebagai orang-orang Kristen yang disatukan oleh warta kebangkitan Tuhan.

Kelima, dalam tulisannya itu, James Martin memberi fokus pada dimensi pengampunan (forgiveness). Bagi dia, seluruh sukacita kebangkitan tidak akan menjadi kabar sukacita bagi kita, jika relasi kita dengan Kristus tidak dibangun di atas pengalaman pengampunan. Ini adalah pengalaman kerapuhan kita ketika sebagai orang berdosa, kita mengalami apa yang telah dialami para murid Yesus. Sama seperti mereka, kita telah merayakan Paskah, tetapi kembali kepada kehidupan lama kita. Kita bisa menjadi orang-orang yang kecewa, putus asa, hilang harapan, dan dalam arti itu, kita sebenarnya tidak mengalami kebangkitan Kristus. Alih-alih membebaskan dan membawa sukacita, Paskah justru membuat kita semakin terpuruk dan terkungkung dalam pengalaman kekeringan rohani, pengalaman melewati malam-malam tanpa satu tangkapan ikan pun.

***

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan James Martin dalam tulisannya ini. Bagi saya, Paskah adalah pengalaman kegembiraan luar biasa, apa yang ilustrasikan James Martin sebagai overjoyed. Inilah pengalaman di mana sukacita kita mendapatkan kepenuhan sejati, karena (1) telah runtuh dan terhapusnya dosa dan semua salah kita oleh kemurahan hati Allah melalui sengasara, wafat, dan kebangkitan Putra-Nya; dan (2) sukacita yang dibagikan dan dialami bersama orang-orang di sekitar kita, mulai dari keluarga dan komunitas Kristiani dan perlahan-lahan meluas ke seluruh masyarakat.

Bagi saya, sukacita Paskah itu selalu berwajah ganda: pengalaman diampuni oleh Tuhan sendiri dan pengalaman mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

Selamat merayakan Paskah!

Yeremias Jena, Katekis/Staf Pendidik Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here