Yuventius Tyas Catur Pramudi : Dari Gamelan Menjadi E-GamelanKU

239
Menduniakan Gamelan: Yuventius Tyas Catur Pramudi dan tim memainkan E-GamelanKU di Taiwan.
[NN/Dok.Pribadi]
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.com – Yuventius Tyas Catur Pramudi mengembangkan budaya musik khas Jawa dengan menciptakan Elektronik Gamelan Kampus Udinus (E-GamelanKU). Berkat upaya Tyas, gamelan dikenal hingga mancanegara.

Tyas kecil sudah mengenal seni budaya musik gamelan dari orangtua. Sang ayah yang berprofesi sebagai guru di SMP Pangudi Luhur, Ambarawa, Semarang mengajar ekstrakurikuler gamelan. Di rumah, juga terdapat satu set gamelan lengkap yang sering digunakan latihan. Dari sanalah, Tyas belajar memainkan alat musik gamelan.

Beranjak dewasa, Tyas yang bekerja sebagai dosen di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Semarang semakin sulit menemukan perangkat gamelan di kampusnya. Seiring berjalannya waktu, muncul kekhawatiran akan hilangnya seni gamelan. Untuk itu, berbagai cara dilakukan Tyas guna menjaga dan melestarikan warisan budaya gamelan.

Tahun 2009, Tyas mulai mencari inovasi gamelan melalui internet. Dari sana, lahir ide untuk mengembangkan gamelan dalam bentuk multimedia. Pria kelahiran Semarang, 10 Oktober 1967 ini kemudian mengajak dosen dan mahasiswa Udinus untuk mengajukan proposal penelitian Hibah Prioritas Nasional yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan.

E-GamelanKU
Selang beberapa waktu, proposal penelitian Tyas dan teman-teman dinyatakan lolos seleksi. Ia lalu melakukan penelitian terutama mengenai gamelan Pusaka Keraton. Tyas bertemu dengan Gusti Mung dan Gusti Puger di Keraton Surakarta Hadiningrat. Ia kemudian mendapat izin untuk mengembangkan gamelan dalam bentuk multimedia.

Selain gamelan Pusaka Keraton, Tyas juga merekam gamelan milik PT Lokananta Surakarta yang biasa dipakai untuk memproduksi rekaman gending gamelan Jawa. Setelah itu, Tyas mengambil gambar gamelan satu per satu dan diolah menjadi produk multimedia yang diberi nama “E-GamelanKU”. Tahun 2012, Udinus mengantongi izin untuk mematenkan E-GamelanKu.

Demi mengembangkan E-GamelanKu, bersama mahasiswa Udinus, Tyas terus melakukan uji coba. “Dari uji coba, kami terus memperbaiki desain maupun implementasinya. Kami buat E-Gamelan-Ku dalam dua versi yaitu online yang perkembangannya dilakukan melalui Ipad dan versi offline yang dibagikan secara cuma-cuma kepada pihak yang ingin menggunakan E-GamelanKu,” ujar ayah dua orang anak ini.

E-GamelanKu sendiri adalah perangkat multimedia pembelajaran seni gamelan Jawa dengan pendekatan individual learning. Pengguna E-GamelanKu versi iPad dijual dengan harga 50 ribu rupiah. Dan hasil penjualan akan dibagikan kepada pihak Keraton Surakarta Hadiningrat sebesar 50% untuk perawatan gamelan pusaka Keraton.

Pendekatan E-GamelanKu menggunakan enam tahap pembelajaran yaitu pengenalan, belajar notasi, mendengarkan gending, mengamati, berlatih menabuh sendiri dan mengadakan konser gamelan secara bersama-sama. Teknik memukul tidak berbeda jauh dengan menabuh gamelan dengan mengklik onyek gamelan agar mengeluarkan bunyi. Sedangkan untuk versi iPad tentu saja lebih mudah yaitu dengan menyentuh obyek yang akan ditabuh.

Tampil di Mancangera
Saat ini, pengembangan E-GamelanKu dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa E-GamelanKu (UKM EG) Udinus yang beranggotakan lebih dari 50 mahasiswa. Bersama UKM EG, Tyas dan mahasiswa lainnya juga aktif memperkenalkan E-GamelanKu hingga ke mancanegara.

Terbukti pada 2010, UKM EG tampil memainkan E-GamelanKu dalam acara Indonesia Day di Chung Yuan Christian University (CYCU) Taiwan. Kemudian kembali tampil pada acara Enchanting Indonesia IV di Kedutaan Rebuplik Indonesia di Singapura. Dan tahun 2011, UKM EG tampil dalam Pentas Seni Malaysia Indonesia.

Umat dari Paroki St Petrus Sambiroto, Semarang ini menuturkan agar image terhadap musik gamelan itu kuno atau tradisional harus dihilangkan. Anak-anak muda harus semakin dekat dan mengenal gamelan dengan membuat transformasi dari musik tradisional menjadi modern. “Jika anak muda menyenangi game online, maka gamelan harus didekatkan dengan cara yang lebih modern,” tandas suami dari Tjatur Endah Andjani ini.

Ketua Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Semarang ini juga menegaskan bahwa keberadaan E-GamelanKU bukan menggantikan seni gamelan yang sesungguhnya. Tujuan E-GamelanKu, hanya lah batu loncatan untuk meningkatkan sikap affektif dan psikomotorik generasi muda. “Jika anak muda sudah mengenal, menyukai dan biasa menabuh dalam bentuk multimedia maka dengan sendirinya akan terdorong untuk menabuh gamelan asli,” demikian Sekretaris Umum Ikatan Peneliti Pemerintah Indonesia Jawa Tengah ini.

Tyas berharap agar Pemerintah terus melakukan penelitian yang berkaitan dengan pengembangan industri kreatif berbasis kearifan lokal. “Semoga pengembangan ini juga bisa menjadi acuan dalam inkulturasi di Gereja Katolik. E-GamelanKu diharapkan semakin membumi, tidak hanya dikidungkan di sekitar pulau Jawa tetapi di seluruh dunia,” harap Tyas.

Yuventius Tyas Catur Pramudi

TTL : Semarang, 10 Oktober 1967
Isteri : Tjatur Endah Andjani
Anak : Gabriel Tyas Yudistira Darmesta dan Rafael Tyas Dharmika Senaruci

Pendidikan:
• Universitas Diponegoro
• Sekolah Tinggi Teknologi Informasi Benarif Indonesia (STTIBI) Jakarta
• Universitas Merdeka Malang

Pekerjaan:
• Dosen di Universitas Dian Nuswantoro Semarang

Penghargaan:
• Dosen Berprestasi (2013)
• Pemenang Kreanova Kota Semarang (2011)

Organisasi:
• Ketua Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Semarang
• Sekretaris Umum Ikatan Peneliti Pemerintah Indonesia Jawa Tengah
• Dewan Pembina Badan Pembina Olah raga Mahasiswa (BAPOMI) Jawa Tengah
• Dewan Pembina Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Jawa Tengah

Aprianita Ganadi

HIDUP NO.10 2014, 9 Maret 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here