Rabu Abu di STARKI: Allah Mengakrabi Langsung Kelemahan Manusia

658

HIDUPKATOLIK.com – UNTUK memulai masa Prapaskah yang menjadi penanda masa tobat selama 40 hari dalam Gereja Katolik, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari (STIKS) Tarakanita atau Sekolah Tinggi Tarakanita (STARKI) menggelar Misa Rabu, di Aula Bintang Samudera, Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretaris (STIKS) Tarakanita atau Sekolah Tinggi Tarakanita (STARKI) Kompleks Billy & Moon, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Rabu, 6 Maret 2019.

Tampak kain warna ungu mewarnai latar altar sebagai penanda pertobatan pada Misa hari itu.

Tampak hadir dalam Misa ini, Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Tinggi Tarakanita (YPTT) Margaretha Margawati van Eymeren, Ketua Sekolah Tinggi Tarakanita STARKI Sr Brigitta Veronica Raimundawati CB, Wakil Ketua 1 Bidang Akademik STIKS Tarakanita Jakarta Agustinus Rustanta, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan Sr Lucia Yeni Wijayatri CB, perwakilan dosen dan karyawan, karyawan YPTT, para mahasiswa, dan umat Gereja Katolik di sekitar kampus STARKI.

Misa dipimpin oleh Pastor Rekan Gereja St Anna, Paroki Duren Sawit, Jakarta, Pastor Antonius Dhimas Hardjuna SJ. Dalam awal khotbahnya, Romo Dimas, biasa disapa,  menyinggung salah satu gaya hidup anak muda yang sedang marak yaitu budaya minum kopi di mall-mall. Karena marak, sampai banyak kafe-kafe yang tumbuh.

Yang menarik dari pengamatan Romo Dimas, budaya minum kopi di mall, menurut cerita salah satu pengalaman orang muda, bisa menjadi pengalaman menghadirkan keheningan atau kesendirian bagi para penikmatnya di tengah keramaian-keramaian. “Bisa menjadi biara di tengah keramaian dunia,” ujar Romo Dimas menirukan kisah orang muda tersebut.

Biasanya, lanjut Romo Dimas, kopi yang dinikmati oleh para kaum muda justru yang disenangi adalah kopi pahit. Dengan minum kopi pahit, beberapa orang muda merefleksikan bahwa dari pahitnya kopi bisa muncul kenikmatan atau manisnya kehidupan. Dari pahitnya kopi orang bisa mengakrabi realitas penderitaan yang kadang pahit.

Bila dikaitkan dengan Misa Rabu Abu yang diselenggarakan di kampus STARKI ini, Romo Dimas menyatakan bahwa lewat liturgi-liturgi, bacaan, simbol-simbol, dan abu yang akan disematkan pada dahi, Gereja mau memberi kesaksian bahwa Allah yang diimani umat Katolik adalah Allah yang berani bergaul dengan kedosaan manusia atau manusia yang rapuh dan lemah dan berdosa ini.

Dari peristiwa ini, Allah ingin terus mau bekerja dan mendampingi manusia. Bahkan Allah mengutus Putera-Nya Yesus sendiri untuk bisa mengakrabi secara langsung kelemahan manusia,” ungkap imam yang ditahbiskan pada 19 Juni 2017 lalu.

Maka pada masa Prapaskah ini, Romo Dimas mengingatkan agar semua orang Katolik melihat realitas hidupnya, kerapuhannya, kedosaannya sambil tetap percaya bahwa Allah mau melihat hidup manusia.

Dalam masa ini, diharapkan semua orang Katolik juga mau merenungkan tentang Yesus yang tersalib yang selalu melihat hidup manusia, melihat dosa, dan kelemahan manusia.

“Oleh karena itu selama 40 hari ini, marilah kita berefleksi. Tuhan izinkan aku bersama-Mu melihat sejarahku juga kesalahan-kesalahan yang sudah kubuat. Jangan biarkan aku melihat dari kacamataku sendiri, tetapi lewat Engkau yang sudi memberikan kekuatan kepada kami. Di situlah ditempatkan pantang dan puasa yang akan kita buat supaya kita berani bertobat, pungkas Romo kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, 22 Juni 1985 ini.

Usai khotbah, dilanjutkan dengan pemberkatan abu dan proses penerimaan abu kepada umat.

Romo Dimas didampingi Ketua Sekolah Tinggi Tarakanita STARKI Sr Brigitta Veronica Raimundawati CB, berkenan menerimakan abu kepada umat yang hadir. Usai penerimaan Abu, upacara hari itu dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi.

Laporan: A. Nendro Saputro
Fotografer: Yohanes Sigit

Antonius Bilandoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here