Masyarakat Barat Modern: Krisis Iman vs Krisis Kasih

847

HIDUPKATOLIK.COM— Budaya Barat kontemporer cenderung dipandang memiliki krisis iman yang parah oleh beberapa pengamat. Realita yang demikian kian menyebabkan tekanan besar pada hati umat beriman yang melihat orang-orang yang dikasihinya, tetangga, dan budaya yang dengan cepat meninggalkan pandangan dunia transendental. Namun, Kontributor senior website katolik Cruxnow Pastor Jeffrey F Kirby memiliki pendapat berbeda.

Pastor paroki Our Lady of Grace di Indian Land, Carolina Selatan ini mengajak untuk memperlambat langkah dan bertanya dengan tulus: apakah pengamatan ini sudah benar? Apakah ada krisis iman? Jika ada krisis seperti itu, apa artinya bagi dunia Barat?

Terlepas dari keprihatinan mengenai keberadaan maupun praktiknya, iman sebenarnya menjadi bagian yang sangat dominan dan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Barat. Sebagai contoh, masyarakat Barat memiliki keyakinan pada kemampuan dan potensi, keuangan, serta pekerjaan. Mereka juga memiliki keyakinan pada penggunaan kekuatan (power) dan sumber daya yang dimiliki. Dari sini dapat dilihat iman nampaknya sangat hadir secara tegas.

Doktor teologi moral lulusan Universitas Salib Suci Roma ini kemudian mengajukan pertanyaan sebenarnya yakni, apa atau siapa sebenarnya yang diyakini masyarakat Barat?

Bagi Pastor Jeffery, sementara doktrin didekati dengan kecurigaan, tampaknya tidak ada krisis iman yang radikal. Masalah sebenarnya adalah bahwa banyak orang Barat tidak lagi memiliki iman kepada Tuhan, Yesus Kristus, dan Injil yang mengilhami untuk mempertahankan budaya Barat. Sejujurnya, orang Barat telah menetapkan standarnya terlalu rendah dan menaruh hatinya pada realitas yang kurang transenden.

Mengapa ini terjadi?

Jawaban atas pertanyaan itu mengungkapkan krisis yang berbeda. Mungkin dunia Barat sebenarnya bergulat dengan krisis kasih yang mendasar.

Paus Fransiskus dengan tepat mengamati, “Kelembutan Tuhan membuat kita memahami bahwa kasih adalah makna hidup.”  Tanpa iman kepada Tuhan, kita sulit sekali untuk mengalami kelembutan, pemberian tanpa pamrih, dan berusaha menyatakannya sebagai harapan budaya. Paus Fransiskus juga mengajarkan, “Di dalam Tuhan dan hanya di dalam Dia, ada kasih tanpa keraguan dan pemikiran kedua, pemberian absolut dan tak tanggung-tanggung, dibarengi dengan keuletan dan penerimaan penuh.”

Tanpa memiliki kasih Allah sebagai dasar dari rasa kasih manusia dan inspirasi untuk melatih kasih itu sendiri,  kasih dapat menjadi kosong karena kehilangan kompas dan dorongannya. Dalam kekosongan seperti itu, seseorang menjadi terisolir dan mengalami disorientasi eksistensial. Kemudian kasih didefinisikan ulang dan menjadi kata yang salah karena menjadi tempat untuk egoisme, narsisme, dan kontrol. Kasih tidak lagi berdasarkan pada panggilan untuk melayani tanpa pamrih serta untuk hidup berkomunitas,  malahan “kasih”  menjadi jurang pemisah dan kejam tak berdasar.

Krisis, merupakan kata yang berarti persimpangan jalan membawa pertanyan lebih mendalam oleh Pastor Jeffrey yakni, “apakah kita akan bergantung pada diri sendiri dan berfokus pada keinginan kita sendiri, atau apakah kita akan mampu mengasihi di luar diri kita sendiri dan menerima kasih orang lain?”

Krisisnya adalah apakah kita akan memiliki cukup kasih sejati untuk mengatur, mendewasakan, dan membimbing iman kita. Oleh karena itu, Pastor Jeffrey melihat bahwa akar dari krisis budaya barat termaktub dalam sebuah pertanyaan yang mendesak: Apakah masyarakat Barat akan mengakui dan menerima kasih Tuhan? Jawaban substansial untuk pertanyaan ini dimulai dengan apakah kita akan menempatkan kesombongan dan kepercayaan diri kita ke samping dan mulai melihat pemeliharaan Allah dalam hidup kita dan bekerja sama dengan kasih karunia-Nya.

Secara sederhana jawaban dari pertanyaan tersebut menurut alumni magister Universitas Steubenville ini dapat dimulai dengan mempertanyakan apakah kita akan bekerja untuk mengasihi Tuhan kembali. Akankah kita membalas kasih yang Tuhan tawarkan kepada kita? Hubungan timbal balik kasih antara kita dan Tuhan ini merupakan pemberian segenap hati dan jiwa kehidupan di sini dan saat ini. Hal ini memberi bentuk dan struktur bagi kehidupan kita dan kasih yang kita dipanggil untuk miliki bagi orang lain.

Iman dengan sendirinya sudah mati dan jika dibiarkan sendiri hanya akan memuaskan kepentingan dan keinginan diri sendiri. Namun, iman yang dimotivasi oleh kasih akan menginginkan pemenuhan dan penyadaran akan perlunya suatu hubungan dengan Tuhan. Manusia akan berusaha mengenal Tuhan sehingga ia bisa lebih mengasihi Dia. Iman yang dibantu oleh kasih akan selalu mencari dan mencari penerangan wahyu ilahi dan ajaran suci. Hal ini akan menumbuhkan kasih yang lebih dalam dan harapan yang lebih kuat kepada orang tersebut di dalam dirinya.

Seperti yang diajarkan Paus Fransiskus: “Manusia perlu dikasihi tanpa syarat dan mereka yang tidak menerima penerimaan ini membawa ketidaklengkapan tertentu dalam diri mereka sendiri, seringkali tanpa menyadarinya. Hati manusia berusaha mengisi kekosongan ini dengan pengganti, menerima kompromi dan keadaan yang biasa saja hanya akan membawa untuk memiliki pada rasa rasa kasih yang samar-samar.”

Iman dan kasih tidak membangkitkan tindakan mementingkan diri sendiri namun semangat melayani orang lain. Keduanya mengembangkan kreativitas yang tidak terbayangkan di dalam diri kita. Dengan demikian, kedua kombinasi ini akan membawa manusia kepada penemuan identitas diri sehingga berani melakukan perjalanan untuk mengetahui jati diri sebenarnya dan untuk apa tujuan diciptakan dan dipanggil.

Santo Paulus mengajarkan kepada kita bahwa yang paling penting dari semua kebajikan adalah kasih, karena itu adalah satu-satunya yang bertahan setelah kematian.Maka dari itu, kasih adalah pendamping iman dan cara untuk menentukan tujuan. Kasih memberikan manusia tujuan dan standar dalam kehidupan.

 

Oleh karena itu, krisis di dunia Barat adalah mengenai kasih. Ini adalah krisis tentang penerimaan manusia untuk menyambut kasih Tuhan saat ini dan seterusnya. Kemudian berkerja keras untuk mengasihi-Nya kembali sekaligus dalam upaya  mengasihi orang lain dengan murah hati dan dengan hati terbuka menerima kasih orang lain.

Disadur dari komentar CRUXNOW/ Pastor Jeffrey F Kirby 
Penerjemah: Felicia Permata Hanggu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here