Lampu Hijau untuk Medjugorje

108
Peziarah berdoa di depan patung Maria pada tahun 2011 di Bukit Penampakan di Medjugorje, Bosnia- Herzegovina.
[Dok. National Catholic Reporter]
Lampu Hijau untuk Medjugorje
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Vatikan mengatakan otorisasi tidak menandakan ‘otentikasi’ akan dugaan penampakan.

Paus Fransiskus telah memberikan lampu hijau bagi umat Katolik untuk mengatur ziarah ke Medjugorje. Selama ini, situs ini dipercaya sebagai tempat penampakan Maria, meskipun Gereja belum memberikan putusan tentang keaslian penampakan itu. Namun perlu dipahami, tim otorisasi Paus untuk ziarah ke lokasi tersebut bukan serta merta sebagai bentuk persetujuan dari penampakan otentik. Juru Bicara Kepausan, Alessandro Gisotti menyatakan, penampakan di Medjugorje masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, demikian seperti dilansir Catholicherald.co.uk, (12/5).

Gisotti menambahkan, siapa pun yang memimpin ziarah ke Medjugorje harus menghindari menciptakan kebingungan atau ambiguitas di bawah aspek doktrinal. Anjuran ini berlaku juga bagi para imam yang bermaksud merayakan Misa di sana. Ketentuan itu dibuat sebagai pengakuan atas buah-buah anugerah yang melimpah, yang datang dari Medjugorjen, dan untuk mempromosikan buah-buah yang baik itu. Hal ini juga merupakan bagian dari perhatian pastoral khusus Paus Fransiskus kepada Medjugorje.

Pengumuman otorisasi kepausan ini dibuat oleh Visitator Apostolik Vatikan untuk Medjugorje, Mgr Henryk Hoser dan Nuncio Apostolik Bosnia dan Herzegovina, Mgr Luigi Pezzuto. Mgr Henryk adalah Uskup Agung Emeritus Warsawa-Praha. Ia diangkat sebagai Visitator Apostolik untuk Medjugorje oleh Paus Fransiskus pada bulan Mei 2018. Tugasnya adalah untuk mengawasi kebutuhan pastoral di lokasi yang diduga tempat penampakan Maria tersebut. Penunjukan Mgr Henryk ini menjadi kelanjutan dari pelayanannya sebagai utusan kepausan ke situs itu sejak tahun 2017.

Pada bulan Januari 2014, sebuah komisi Vatikan mengakhiri penyelidikan selama hampir empat tahun tentang aspek doktrinal dari penampakan Medjugorje. Komisi ini telah menyerahkan dokumen ke Kongregasi Ajaran Iman. Selanjutnya, Kongregasi Ajaran Iman akan menganalisa temuan-temuan itu lalu melaporkannya kepada Paus. Nantinya, Paus akan membuat keputusan akhir.

Penampakan Bunda Maria Medjugorje diduga dimulai pada tanggal 24 Juni 1981, ketika enam anak di Medjugorje, sebuah kota yang sekarang bernama Bosnia dan Herzegovina, mulai mengalami fenomena yang mereka klaim sebagai penampakan Perawan Maria yang Diberkati. Menurut keenam “pelihat” ini, penampakan-penampakan itu mengandung pesan perdamaian bagi dunia, panggilan untuk pertobatan, doa, dan puasa.

Penampakkan itu juga mencakup rahasia-rahasia tertentu di sekitar peristiwa yang harus dipenuhi di masa depan. Penampakan ini dikatakan telah berlangsung hampir setiap hari sejak kemunculan pertama mereka, dengan tiga dari enam anak sebelumnya – yang sekarang telah dewasa – terus menerima penampakan setiap sore karena tidak semua “rahasia” yang ditujukan untuk mereka telah terungkap.

Sejak awal, fenomena yang diduga sebagai penampakan ini telah menjadi sumber kontroversi dan pertobatan. Banyak orang berbondong-bondong datang berziarah dan berdoa, dan beberapa mengklaim mengalami mukjizat di tempat itu. Sementara banyak yang lain mengklaim penglihatan itu tidak dapat dipercaya.

Paus Fransiskus mengunjungi Bosnia dan Herzegovina pada bulan Juni 2015, tetapi menolak untuk berhenti di Medjugorje selama perjalanannya. Selama penerbangan kembali ke Roma, ia menunjukkan bahwa proses penyelidikan Medjugorje hampir selesai. Dalam penerbangan kembali dari kunjungan ke kuil Maria Fatima pada Mei 2017, Paus berbicara tentang dokumen akhir Komisi Medjugorje, kadang-kadang disebut sebagai “laporan Ruini”, yang mengacu pada Ketua Komisi Penyelidikan Medjugorje, Kardinal Camillo Ruini. Paus menyebut laporan ini “sangat-sangat baik”, dan mencatat perbedaan antara penampakan Maria pertama di Medjugorje dan berikutnya. “Penampakan pertama, yang ditujukan kepada anak-anak, laporan itu kurang lebih mengatakan bahwa ini perlu terus dipelajari, tetapi untuk dugaan penampakan saat ini, laporan itu memiliki keraguan,” tutur Paus.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.20 2019, 19 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here