Deklarasi Abu Dhabi : Jembatan Antar Umat

43
Sesi foto bersama para pembicara dan para Dubes negara-negara Asia untuk Takhta Suci Vatikan. [Dok Pers KBRI Vatikan]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Hubungan antar manusia sekarang ini semakin mengkhawatirkan. Pasalnya muncul diskriminasi lalu merambat ke ketidakadilan sosial, kesenjangan ekonomi. Tidak hanya itu, moralitas yang berkurang dan terorisme menjadi keprihatinan bagi beberapa orang, terlebih bagi Paus Fransiskus. Demikian antara lain cuplikan makalah Syafiq A. Mughni dalam Seminar Internasional “Interreligious Dialogue: Perspectives from Asia” yang diselenggarakan 18 Juni 2019 di Universitas Urbaniana, Italia (18/6).

Dalam makalahnya, Syafiq mengungkapkan untuk menanggulangi masalah tersebut maka terbitlah Dokumen tentang Persaudaraan Manusia bagi Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama (Deklarasi Abu Dhabi) yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Ahmad Al-Tayyeb (4/2).

Seperti yang dilaporkan oleh Pelsaksana Fungsi, Penerangan, Protokol dan Konsuler Kedutaan Besar RI untuk Vatikan, Muhammad Ferdien kepada Redaksi Hidupkatolik.com melalu email, Syafiq menjelaskan, guna mengatasi tantangan tersebut diperlukan “Community-based Approach” yang didasari empati, rasa percaya, cinta, dan harapan. Dalam konsep ini, partisipasi komunitas sangat penting sehingga upaya manipulasi agama untuk menimbulkan konflik dapat dihindari.

Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Mgr Miguel Ángel Ayuso Guixot, M.C.C.J, menambahkan, dalam makalah yang dibacakan Pastor Markus Solo, SVD menyatakan bahwa nilai-nilai dialog antaragama juga tercermin dalam Deklarasi Abu Dhabi, yakni penekanan atas pesan persaudaraan. Hakikat manusia adalah bersaudara. Maka dengan dibangunlah ‘jembatan’ untuk menjaga kesadaran toleransi dan meruntuhkan tembok-tembok ketakutan dan ketidakpedulian.

Dalam sambutan penutup, Mgr Paul R. Gallagher, Kementrian Luar Negeri Takhta Suci, menggarisbawahi kembali aspek dialog antaragama dalam Deklarasi Abu Dhabi. Bahwa dialog, pemahaman, dan penyebarluasan mengenai toleransi, saling menerima, dan hidup bersama secara damai dapat berkontribusi secara signifikan untuk mengurangi banyak masalah ekonomi, sosial, dan politik.

Mgr Paul juga mengutip pesan Paus Fransiskus dalam suatu kesempatan bahwa dialog antaragama merupakan hal yang diperlukan bagi perdamaian dunia dan tugas bagi umat Katolik dan juga komunitas keagamaan lainnya.

 

Karina Chrisyantia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here