Robotika dan Kecerdasan Buatan

47
Paus Fransiskus membuka pertemuan yang diadakan Akademi Kepausan untuk Kehidupan di Vatikan.
[Dok. Vatican Media]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Paus Fransiskus mendesak agar AI, robotika, dan inovasi teknologi lainnya digunakan membantu berkontribusi pada layanan kemanusiaan dan perlindungan rumah kita bersama.

Hamparan isu perkembangan sosial, politik, bahkan kasus pelecehan seksual oleh para rohaniwan telah mendominasi ruang diskusi publik dewasa ini. Masyarakat bahkan tidak ambil pusing dan berpikir bahwa gagasan tentang robot yang mengambil alih dunia tidak menjadi persoalan penting ditengah masifnya perkembangan teknologi yang begitu cepat. Namun, sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Akademi Kepausan untuk Kehidupan pada tanggal 25 Februari tengah memberikan tanda berbeda, yakni isu robotika dan kecerdasan buatan atau yang dikenal dengan Artificial Intelligence (AI) menjadi momok yang serius.

Akademi ini dibuat 25 tahun lalu oleh St Yohanes Paulus II sebagai respons terhadap perubahan cepat dalam biomedis. Ia mempelajari masalah, termasuk kemajuan dalam teknik pengeditan genom manusia. Teknik-teknik ini secara kontroversial diklaim telah digunakan oleh ilmuwan asal Tiongkok, He Jiankui, untuk mengubah gen gadis kembar sehingga mereka tidak bisa terkena HIV.

Sebelumnya, Paus Fransiskus telah menunjukkan minatnya terhadap masalah ini. Dalam sebuah pesan kepada Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Januari 2018, ia mendesak agar AI, robotika, dan inovasi teknologi lainnya digunakan untuk membantu berkontribusi pada kemanusiaan dan perlindungan bumi rumah bersama.

Perdebatan Sengit
Konferensi dimulai dengan mencampuradukkan antusiasme dengan kehatihatian mengenai perkembangan terkini AI, sekaligus menekankan pentingnya menempatkan kembali pribadi manusia sebagai pusat perkembangan. Pada pembukaan pertemuan, Paus Fransiskus menyampaikan surat berjudul Humana Communitas ‘Komunitas manusia’.Ia menguraikan paradoks kemajuan dan memperingatkan pengembangan teknologi. Dalam surat itu, Paus menekankan perlunya mempelajari teknologi baru: teknologi komunikasi, nano, bioteknologi dan robotika. Ia menuliskan, ada kebutuhan besar untuk memahami perubahan dan perbatasan baru untuk menentukan bagaimana menempatkannya pada pelayanan pribadi manusia, sambil menghormati dan mempromosikan martabat intrinsik semua orang.

Selain itu, seruan untuk aliansi baru humanisme dan teknologi menjadi inti pidato pengantar dari kepala akademi, Uskup Agung Italia, Mgr Vincenzo Paglia. Pidatonya membuka lokakarya yang berlangsung selama dua hari, 25–26/2, mengenai ‘Etika Robotika: Manusia, Mesin, dan Kesehatan”. Lokakarya ini mengundang beberapa insiyur, pengembang, dan ilmuwan perintis baik dari kalangan Katolik dan bukan untuk membahasa bidang AI yang terus berkembang.

Di antara pembicara adalah Hiroshi Ishiguro, inovator Jepang di bidang android dan robotika interaktif. Dia dikenal secara global karena robot hiper-realistisnya yang mampu mempertahankan 10 hingga 15 menit percakapan dengan manusia. Direktur Laboratorium Robot Cerdas di Osaka ini juga terkenal karena membuat salinan AI dirinya sendiri. Ia mengklaim “kembarannya” telah dikembangkan tidak hanya untuk menghindari perjalanan, tetapi juga untuk menggali rahasia dan misteri dari pikiran manusia. “Saya ingin membuat masyarakat simbiotik robot-manusia,” ungkap Ishiguro seperti dilansir cruxnow, 26/2,

Hiroshi berharap menciptakan robot yang penuh kasih yang dapat dengan mudah lulus tes turing. Hal ini berarti robot mampu menipu manusia untuk berpikir bahwa itu bukan mesin.

Ishiguro, yang beralih dari inovator ke futuris, bertanya kepada para peserta, “Apa yang akan terjadi dalam 100.000 tahun?” Ia memberikan pandangannya sendiri pada perkembangan masa depan umat manusia. Bagi inovator, inovasi terbesar dapat diharapkan dari pengeditan gen dan robotika. Dengan antusias, Ishiguro merenungkan kemungkinan akhirnya mengganti otak manusia dengan komputer. “Kita akan mendapatkan keabadian,” tuturnya.

Ide Ishiguro sontak mendapat pertentangan dari Uskup Agung Paglia sebab mustahil untuk membagi tubuh dan jiwa. Daging adalah tubuh dengan jiwa dan jiwa adalah roh dengan daging. Tubuh sangat penting bagi manusia, melalui tubuh yang kita cintai dan rangkul untuk berkomunikasi satu sama lain. “Mimpi ini adalah mimpi yang mengerikan. Kami sadar di satu sisi, hal ini adalah kemajuan, tetapi di sisi lain kami merasa ada risiko, yakni manusia akan lupa bahwa kita adalah makhluk, bukan pencipta,” ungkapnya seperti dilansir www.bbc.com, 24/3.

Mitra Etika
Vatikan baru-baru ini bermitra dengan Microsoft untuk menawarkan hadiah internasional mengenai etika dan kecerdasan buatan, setelah pertemuan pribadi antara Paus Fransiskus dan Presiden Microsoft, Brad Smith pada tanggal 13 Februari. Pertemuan ini membahas sentralitas pribadi manusia dan kebutuhan etika dalam kecerdasan buatan. Pelaksana tugas Direktur Kantor Berita Vatikan, Alessandro Gisotti mengatakan, Smith membahas topik kecerdasan buatan untuk melayani kepentingan umum dan kegiatan yang bertujuan menjembatani kesenjangan digital yang masih bertahan di tingkat global. Pertemuan ini juga menghasilkan kesepakatan antara Smith dan Mgr Paglia untuk mensponsori sebuah penghargaan bagi disertasi doktoral terbaik yang membahas kecerdasan buatan dalam pelayanan kehidupan manusia.

Pada hari Kamis, 16/5, Akademi Kepausan Ilmu Sosial (PASS) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan berkolaborasi menyelenggarakan konferensi multidisplin internasional bertema, “Robotika, AI, dan kemanusiaan: sains, etika, dan kebijakan” di Casino Pio IV, Vatikan. Sebuah catatan menjelang konferensi menjelaskan, kemajuan baru dalam pembelajaran mesin (AI), dan robotika telah membangkitkan minat dan perdebatan luas mengenai manfaat dan kelemahan mereka pada kemanusiaan seperti dilansir www.vaticannews.va, 16/5.

Teknologi yang muncul ini, memiliki implikasi di sektor seperti kedokteran dan perawatan kesehatan, pekerjaan, transportasi, manufaktur, pertanian, dan konflik bersenjata. Untuk itu, konferensi ini bertujuan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang koneksi keduanya dan kemungkinan akan konsekuensi bagi kemanusiaan. Selain memeriksa batas-batas penelitian saat ini dalam AI dan robotika, konferensi ini akan membahas kemungkinan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat, risiko terhadap perdamaian dan pembangunan berkelanjutan, serta dimensi etika dan agama.

Di antara isu-isu lain, peserta akan fokus pada implikasi hubungan manusia-robot dalam masyarakat, dengan mempertimbangkan perbedaan pertimbangan antara negara berpenghasilan rendah dan tinggi, masyarakat pedesaan dan perkotaan, serta kaum muda dan orang tua. Konferensi ini sekaligus akan memeriksa AI dan robotika dalam karakter perang yang berubah hari ini. Selain dua pertemuan ini, Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan menyelenggarakan konferensi mengenai “Kekuatan dan Keterbatasan AI” pada bulan Desember 2016 dan lokakarya lainnya pada bulan Maret 2018 tentang “AI dan Demokrasi.”

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.22 2019, 2 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here