Melindungi Anak dari Pemberitaan Intoleransi

49
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh terkasih, akhir-akhir ini banyak terjadi kasus intoleransi. Peristiwa ini banyak disiarkan di televisi, media daring, dan sosial. Di tengah gempuran informasi seperti itu, bagaimana saya melindungi anak-anak saya dari pengaruh informasi tersebut? Saya tak ingin anak saya, yang baru kelas VIII (2 SMP), punya pandangan keliru atau berpikir negatif terhadap salah satu agama. Lantaran pelaku intoleransi selalu membawa agama dalam mendukung tindakan mereka.

Diana Rusli, Jakarta

Ibu Diana Rusli yang terkasih, saya memahami kekhawatiran Ibu. Saya setuju dengan Ibu bahwa kita perlu melindungi anak-anak kita dari informasi-informasi di lingkungan kita terutama informasi yang keliru mengenai keberagaman agama dan sikap intoleransi terhadap agama lain.

Sarana penting untuk melindungi anggota keluarga kita terkait pemberitaan-pemberitaan tersebut adalah melalui komunikasi (dialog). Tujuan dialog ini adalah pemahaman anak bahwa ia perlu melihat suatu isu atau persoalan secara berimbang. Artinya tak berat sebelah yang sifatnya memojokkan, merendahkan, atau menyalahkan suatu kelompok tertentu. Serta membangun sikap kritis anak terhadap berita-berita tersebut. Agar mereka tak terlalu cepat atau mudah percaya dengan informasi yang diterima.

Ia perlu mencari tahu kebenaran berita tersebut, seperti sumber (siapa) yang menulis atau menyampaikan berita (mempertanyakan apakah narasumber tersebut kredibel?), isi berita (apakah konten berita menunjukkan data yang akurat, logis, dan bisa diandalkan? Apakah berita tersebut bersifat memprovokasi kebencian atau permusuhan), dan dampak emosional atas berita tersebut kepada dirinya, apakah menumbuhkan permusuhan, sikap pengertian, atau persahabatan dengan kelompok lain.

Dalam dialog ini, orangtua mengarahkan anak untuk bisa mencapai tujuan tersebut. Jika anak terlatih berpikir kritis, ia bisa menjadi individu yang tak mudah menghakimi orang lain dan tak gegabah dalam memandang masalah.

Dalam dialog tersebut orangtua bisa melakukan beberapa hal. Pertama, orangtua mendengarkan pendapat anak dengan seksama, memahami poin-poin alasannya bersikap tertentu, sehingga anak merasa diperhatikan, dihargai, dan dimengerti. Tindakan ini merupakan pintu masuk untuk bisa mendapat atensi anak. Sehingga ia bersedia untuk mendengarkan arahan orangtua.

Kedua, orangtua merespons opini dan sikap anak. Apabila anak bersikap mendukung kerukunan dan toleransi beragama, orang tua bisa memberi pujian dan apresiasi. Apabila opini dan sikapnya menunjukkan sikap permusuhan terhadap kelompok agama lain, hendaknya orangtua tak menyerangnya dengan menyatakan bahwa opini atau sikapnya itu salah, namun mengajaknya melihat kembali alasan-alasan yang dikemukakannya itu dengan menggunakan perspektif lain.

Ketiga, orangtua mengarahkan anak untuk bersikap hati-hati dan kritis dalam memandang suatu berita. Usia remaja memungkinkan seseorang berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dipercayainya dalam memahami dan bersikap terhadap suatu hal (informasi). Namun, opini tersebut cenderung belum matang karena keterbatasan atau kurang mendalam wawasan. Pertimbangan emosional pun masih banyak mendominasi dibandingkan pertimbangan rasional. Di sini orang tua perlu mengajarkan anak untuk bersikap lebih obyektif.

Keempat, orangtua mengarahkan anak untuk memahami konteks atau situasi atau latar belakang pelaku intoleransi yang disebut dalam berita tersebut. Anak bisa diajak untuk mempertanyakan motif pelaku intoleransi tersebut. Apakah murni karena dasar ajaran agamanya atau interpretasi subyektif pelaku atas ajaran agamanya, karena motif ekonomi, kebutuhan kekuasaan, atau motif lainnya. Di sini anak belajar bahwa isu intoleransi yang diberitakan tersebut merupakan tindakan individual atau kelompok tertentu yang menggunakan agama sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan-tujuan atau pemenuhan kepentingan-kepentingan pribadi.

Orangtua juga bisa memberikan pengertian kepada anak mengenai sikap Gereja terhadap informasi-informasi yang tak benar (hoax), yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan umat beragama. Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial 2018 yang bertemakan “Kebenaran akan membebaskanmu” menyampaikan, dalam komunikasi kita dengan orang lain hendaknya berdasarkan kebenaran. Berita yang kita sampaikan kepada sesama hendaknya adalah berita yang membawa perdamaian dan pertumbuhan, bukan untuk pemuasan kepentingan pribadi dan kesombongan. Berita-berita saat ini banyak dipelintir dan dimanipulasi oleh pihak-pihak yang jahat untuk mengacau-balaukan situasi dan mengambil keuntungan dari kekacauan tersebut. Sama seperti iblis yang memanipulasi manusia di Taman Eden, sehingga manusia jatuh ke dalam dosa. Mari kita bersama-sama mengajak anggota keluarga untuk bersikap kritis terhadap pemberitaan-pemberitaan di media sosial.

Dr. Angela Oktavia Suryani, M.Si

HIDUP NO.27 2019, 7 Juli 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here