Gereja AS Kecam Trump

45
Umat Katolik Gereja St. Dominic Washington, Amerika Serikat mengikuti gerakan People’s Climate March pada 100 hari pemerintahan Presiden Trump, Mei 2017.
[Dok.Global Catholic Climate Movement]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Langkah Trump menarik AS dari Kesepakatan Iklim Paris dinilai tidak masuk akal dan akan menimbulkan konsekuensi dan bencana bagi kehidupan di bumi.

Sejak 2017, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan ingin menarik negaranya dari Kesepakatan Iklim Paris. Proses ini telah dimulai Senin, 4/11 lalu. “Sesuai ketentuan perjanjian, AS akan mengajukan pemberitahuan resmi terkait pengunduran diri tersebut kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pengunduran diri ini akan mulai berlaku satu tahun sejak pengiriman pemberitahuan,” kata Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo.

Gereja Katolik di AS pun mengecam kebijakan ini. Langkah tersebut dinilai tidak masuk akal dan akan menimbulkan konsekuensi dan bencana bagi kehidupan di bumi. Asosiasi para pemimpin kongregasi religius perempuan Katolik di AS menilai langkah ini sebagai kegagalan AS dalam memenuhi komitmennya pada 2015, yang akan memalukan bangsa dan mengancam rumah bersama.

“Ajaran Katolik jelas: perubahan iklim adalah masalah moral yang serius yang mengancam komitmen kita untuk melindungi kehidupan dan martabat manusia, berpihak pada yang paling rentan, mempromosikan kebaikan bersama, dan memelihara ciptaan Tuhan,” kata Suster Carol Zinn, SSJ, dalam sebuah pernyataan. Sementara itu, badan bantuan internasional para uskup AS, Catholic Relief Services (CRS) menyebut, pihaknya sangat menentang pemerintah AS untuk keluar dari Kesepakatan Paris. Mereka juga mendesak pemerintah untuk bergabung kembali sesegera mungkin sebab memelihara planet ini adalah tanggung jawab bersama. “AS tidak boleh memunggungi dunia pada saat tindakan mendesak dibutuhkan,” ujar Wakil Presiden Eksekutif CRS, Bill O’Keefe.

Melalui Kesepakatan Paris yang dibuat pada 2015 dalam Konferensi Perubahan Iklim COP21 PBB, 195 negara sepakat mengurangi emisi gas rumah kaca untuk menjaga ambang batas suhu bumi di bawah dua derajat Celcius. Dengan perjanjian ini, negara-negara anggota PBB berupaya menekan hingga satu setengah derajat Celcius di atas suhu bumi.

Ancaman terhadap kehidupan yang muncul akibat pemanasan global umumnya dialami pertama kali dan paling parah oleh mereka yang miskin dan rentan. Padahal orang-orang ini hanya berkontribusi sedikit terhadap masalah tersebut. Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ tahun 2015 mendesak semua orang untuk mendengar tangisan bumi dan jeritan orang miskin. Paus menawarkan dukungan penuh Takhta Suci pada Perjanjian Paris. Para uskup dalam Sinode Vatikan untuk Amazon, akhir Oktober lalu juga menyebutkan, perubahan iklim mengancam kehidupan di ekosistem.

Kantor Maryknoll untuk Kepedulian Global, yang mewakili jaringan para suster, pastor, bruder, dan misionaris Maryknoll juga mengungkapkan, sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar dalam sejarah, tidak adil bila AS mundur dari Kesepakatan Paris dan dari kebijakan iklim lainnya, yang dimaksudkan untuk melindungi “rumah bersama” dan masyarakat yang terkena dampak perubahan iklim.

Hermina Wulohering

HIDUP NO.46 2019, 17 November 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here