Lima Faktor Sulit Meminta Maaf

74
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh, pasangan hidup saya rasanya amat sulit untuk meminta maaf. Bukan hanya kepada saya tapi juga kepada anak-anak kami. Saya seperti tertampar oleh anak-anak saat menasehati mereka agar berani mengaku salah dan meminta maaf. Dengan bahasa bocah, mereka selalu bilang, ayahnya tak pernah minta maaf kalau menginjak mainan mereka atau tak menepati janji. Mohon saran pengasuh. Terima kasih.

Adriani, Malang

Ibu Adriani, kami ikut prihatin dengan sikap pasangan hidup Anda. Sikapnya itu kemudian ada kecenderungan dicontoh oleh anak-anak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang sulit untuk mengaku salah dan meminta maaf. Berdasarkan sejumlah artikel dan penelitian, orang sulit mengaku salah dan meminta maaf karena dilatarbelakangi oleh lima faktor.

Pertama, pola asuh orangtua. Keberadaan kita tak mungkin tanpa keberadaan dan peran orangtua. Setiap orangtua memiliki pola asuh tersendiri dalam mendidik anak-anaknya. Ada orangtua yang mendidik buah hatinya dengan menghargai dan mengasihi orang lain tanpa melihat status orang tersebut. Sehingga, memudahkannya untuk mengaku salah maupun meminta maaf.

Sebaliknya, ada orangtua yang mendidik anak bahwa level keluarganya lebih tinggi dibandingkan orang lain. Ini menjadikan anak-anak tak terbiasa untuk meminta maaf kepada orang lain yang statusnya lebih rendah dari mereka.

Kedua, merasa diri memiliki “kekuatan” lebih besar dari orang lain. “Kekuatan” di sini bisa berarti memiliki fisik yang besar dan kekar dibandingkan dengan orang lain, kedudukan atau jabatan tinggi, berpenghasilan banyak, atau peran vital dalam sebuah komunitas. Kekuatan-kekuatan tersebut terkadang menjadi hambatan dalam meminta maaf bila melakukan kesalahan.

Ketiga, citra diri. Hal tersebut merupakan gambaran sikap dan sifat pribadi seseorang sehingga ada yang memiliki citra diri yang tinggi dan rendah. Biasanya orang yang memiliki citra diri tinggi sulit untuk meminta maaf, karena dengan meminta maaf akan dapat menjatuhkan citra diri mereka. Citra diri ini terbentuk karena pola asuh orangtua maupun merasa dirinya memiliki “kekuatan” yang lebih besar dari orang lain.

Keempat, kekecewaan terlalu mendalam. Di sini berkaitan dengan pengalaman masa lalu. Pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial. Ia suka bergaul dan berkomunikasi sehingga tahu ada perasaan bersalah dan meminta maaf. Namun, dalam hidup bersama, seseorang terkadang sudah mengaku salah dan meminta maaf, tapi pihak yang dimintai maaf tak mau memaafkan justru marah dan menyakiti hati. Ini dapat menjadi pemicu orang kecewa. Pengalaman itu kelak membuat orang tersebut sulit atau takut untuk meminta maaf lagi. Berdasarkan pengalaman yang menyakiti hati dan sangat mengecewakan tersebut, menjadikan orang tersebut sulit atau takut untuk mengaku salah dan meminta maaf.

Kelima, jenis kelamin. Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan, sudah menjadi rahasia umum kalau pria tergolong orang yang susah sekali meminta maaf, sekalipun sudah jelas bersalah.

Ibu Adriani yang baik, tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Asal Ibu bersabar dan penuh kasih. Berdasarkan hasil penelitian dan sejumlah referensi, persoalan itu bisa diselesaikan tergantung dari tingkat kedekatan Ibu dengan pasangan. Semakin dekat hubungan Ibu dengan suami semakin mudah untuk berkomunikasi dan memberi pengertian kepadanya untuk berani mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Di samping itu, ajaklah suami untuk aktif dalam kegiatan keagamaan. Dalam arti bukan sekadar ikut beribadah tiap minggu, namun juga aktif terlibat di lingkungan, wilayah, atau kegiatan kemasyarakatan. Semakin giat dalam kegiatan bersama, ia akan semakin mengenal perasaan orang lain dan semakin mengenal dirinya sebagai manusia, yang kadang tak luput dari kesalahan dan pentingnya meminta maaf.

Haryo Goeritno

HIDUP NO.43 2019, 27 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here