Katekese Baptis Bayi

47
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Paus Fransiskus menyampaikan, tangisan bayi di dalam Gereja adalah khotbah yang indah. Ia juga mengingatkan, peran orangtua amat besar dalam pertumbuhan iman anak.

Paus Fransiskus membaptis 32 bayi di Vatikan pada saat Pesta Pembaptisan Tuhan, 12/1. Bapa Suci memberikan sakramen ini pada 15 bayi perempuan dan 17 bayi laki-laki. Pesta ini memperingati baptisan Yesus di Sungai Yordan. Tindakan ini sekaligus menjadi sikap pembelaan yang jelas tentang ajaran Gereja mengenai baptisan bayi. Paus mengatakan, pemberian Sakramen Baptis bayi akan memberi rahmat dan bantuan untuk tumbuh dalam iman ketika mereka semakin bertambah besar.

Dalam homilinya, Paus menyampaikan, bahwa
membaptis anak adalah tindakan keadilan, karena
melalui baptisan kita memberi mereka harta. Dalam baptisan kita memberi mereka janji: Roh Kudus. Anak-anak ini diutus dengan kekuatan Roh Kudus di dalam dirinya. Roh yang akan membela mereka, membantu mereka, sepanjang hidup mereka. “Inilah sebabnya mengapa begitu penting untuk membaptis mereka sebagai anak-anak karena mereka akan bertumbuh dengan kekuatan Roh Kudus,” tuturnya.

Meskipun diperdebatkan di antara denominasi-denominasi Kristen, para sejarawan percaya, bahwa baptisan bayi dimulai sejak abad ke-1 atau
ke-3. Dalam agama Kristen modern, sebagian besar denominasi mempraktikkan baptisan bayi, termasuk Katolik Roma, Ortodoks Timur, Anglikan, Lutheran, Metodis, Episkopal, Presbiterian, dan
Gereja Asyur di Timur, serta 23 Gereja Katolik Timur dalam persekutuan penuh dengan Roma.

Namun, ada beberapa penolakan terhadap praktik
tersebut sejak Reformasi. Sejumlah Gereja memilih
untuk pembaptisan orang dewasa atau “pembaptisan orang percaya”. Praktik ini dijalan di dalam Gereja Baptis, Pentakosta, Advent Hari Ketujuh, Saksi-Saksi Yehuwa dan Gereja Zaman Akhir Orang Suci.

Para pengkritik Baptisan Bayi sering berpendapat,
bahwa tidak ada dasar Alkitabiah untuk itu. Pada usia yang begitu, bayi tidak mampu percaya pada iman di mana mereka dibaptis ke dalamnya. Beberapa juga berpendapat, bahwa praktik ini, walaupun sudah menjadi tradisi di banyak Gereja, tidak lagi diperlukan, mengingat angka kematian bayi hampir tidak setinggi pada abad-abad awal Kristen.

Dalam homilinya yang singkat, yang berlangsung
kurang dari lima menit, Bapa Suci mengatakan kepada orangtua, pesan utama adalah pentingnya membaptiskan anak-anak, adalah karena Roh Kudus akan berdiam di dalam diri anak-anak. Paus
juga sekaligus mendesak para orangtua untuk bertanggung jawab atas pertumbuhan iman anak-anak. Paus ingin memastikan, anak-anak tumbuh dengan cahaya, dengan kekuatan Roh Kudus melalui katekismus, bantuan, pengajaran, dan teladan yang diberikan kepada mereka di rumah.

Seperti pengalaman yang Paus miliki di masa lalu, ia juga mendesak para orangtua untuk tidak takut membawa anak-anak mereka jika mereka menjadi rewel atau kesal selama Misa. “Mereka tidak terbiasa ditutup di ruang yang juga agak panas, mereka tidak terbiasa berpakaian seperti ini untuk acara khusus,” katanya, mengatakan kepada orangtua untuk tidak khawatir jika anak mereka menangis atau merengek, tetapi membuat mereka merasa nyaman dan menyusui mereka jika diperlukan. “Ini adalah khotbah yang indah ketika seorang anak menangis di gereja,” imbuhnya, seperti diberitakan cruxnow.com, (12/1).

Sebagai catatan kaki liturgi, dengan desain Kapel Sistine, Misa Pembaptisan pada umumnya adalah kesempatan tunggal setiap tahun ketika Paus merayakan ad orientem, “menuju ke timur,” yang berarti dengan imam menghadap altar daripada umat. Ini adalah gaya yang terkait dengan Misa Latin yang lebih tua sebelum Konsili Vatikan II pada pertengahan 1960-an.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.03 2020, 19 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here