Albertus Gian Dessayes Adriano: MENDUNIA DENGAN IDE DAN MIMPI

48
Albertus Gian Dessayes Adriano (Dok.Pribadi)
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM Meski telah mantap dengan rancangan ide pengembangan sistem drone, ia tetap mencari validasi, yang justru membawanya ke final kompetisi kelas dunia.

PESAWAT tanpa awak atau drone, merupakan salah satu inovasi militer yang beberapa tahun belakangan banyak digandrungi para penggemar fotografi. Seiring perkembangan teknologi, bentuk dan spesifikasi drone pun kian beragam, dengan pelbagai macam pemanfaatannya.

Di Singapura, misalnya, drone sudah digunakan mengantarkan obat. Sementara itu, tahun 2017 lalu, pemuda Indonesia, Albertus Gian Dessayes Adriano bersama teman-temannya, mengembangkan teknologi drone untuk pertanian. Mereka menciptakan sistem untuk membantu industri pertanian. Drone dapat membantu mengatur lahan pertanian hanya dengan mengakses aplikasi di telepon genggam.

Proyek Bersama

Gian, demikian sapaannya, adalah penerima beasiswa Layanan Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementerian Keuangan. Ketika menyelesaikan studi S2-nya di London, Inggris, dia dan sahabatnya Ishak Hilton Pujantoro Tnunay, penerima beasiswa S3 di Manchester, merencanakan proyek untuk dikerjakan bila kelak kembali ke Tanah Air. Kedua pemuda ini bertekad membuat perusahaan yang benar-benar bisa membantu Indonesia.

Gian ingin mengakhiri stereotype, bahwa penerima beasiswa di luar negeri biasanya hanya ingin senang-senang dan akhirnya tidak pulang membaktikan diri bagi negara. Dia pernah bernazar, akan mendirikan perusahaan, bila selesai mengenyam pendidikan magisternya.

Bersama Hilton, yang menggemari penelitian, Gian, si pria berkacamata ini, akhirnya memutuskan untuk menciptakan sistem drone yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. “Kami membuat drone yang tidak memerlukan pilot, atau orang untuk mengendalikannya,” ujar Gian saat dihubungi, 12/5/2020.

Dia menjelaskan, dengan sistem ini, orang tidak perlu belajar mengendalikan drone. Cukup memasukkan barang ke drone, membuka aplikasi dan menentukan lokasi tujuan. Drone akan secara otomatis terbang menuju lokasi dengan sendirinya. Untuk bidang pertanian, petani tinggal memesan layanan drone dengan menggunakan aplikasi untuk merawat lahan pertanian. Fungsi praktisnya, drone dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyiraman. Drone akan dikirimkan dari station di sekitar lahan pertanian. Dengan demikian, petani tak perlu memiliki perangkat drone sendiri, yang tentunya tidak murah. Meski demikian, petani bukanlah sasaran awal dari solusi ini.

(Dok.Pribadi)

Butuh Validasi

Meski telah mantap dengan seabrek perencanaan dan penelitian terkait proyek ini, Gian merasakan, adanya kebutuhan untuk memvalidasi ide ini. Menurutnya, harus ada tim yang kredibel, yang mengaminkan bahwa produk, proses dan mekanisme kerja mereka layak dan akan berhasil. Jalan mendapatkan validasi ini adalah mengikutkan ide mereka ke dalam sejumlah kompetisi. “Biarkan juri-juri itu yang menilai dan memberi masukan,” kata pria berdarah Jawa dan Batak ini.

Lomba pertama yang mereka ikuti berlokasi di Manchester, Inggris, tahun 2017, di mana mereka keluar sebagai juara. Beberapa lomba kemudian mereka ikuti, hingga akhirnya mewakili Tanah Air dalam lomba Imagine Cup 2018 tingkat Asia Pasifik yang diselenggarakan Microsoft. Menang di tingkat ini, mereka lalu menuju final di markas besar Microsoft di Seattle, Amerika Serikat.

Meski tak menang di Seattle, Gian mengakui dirinya puas dengan pencapaiannya itu. Tujuan utama validasi mereka terjawab dengan bisa melenggang ke final dunia. Timnya berhasil mendapatkan validasi, pengalaman, pendanaan, dan pengakuan. Bagi Gian, dua yang disebutkan pertama adalah yang paling utama.

Gian dan timnya pun memulai perusahaan startup yang menyediakan sistem drone, sensor IoT, sistem pengawasan, dan sistem manajemen pelacakan yang dinamai Beehive Drones. Sistem ini tak hanya bisa diperuntukkan dalam dunia pertanian, tetapi juga berbagai industri antara lain manufaktur dan kehutanan. Kini yang sedang mereka jajaki adalah pertambangan. Menurut Gian, pelayanannya tidak begitu berbeda, sebab yang mereka kuasai adalah pembuatan sistemnya.

Dari segi persaingan, Gian melihat belum ada kompetitor secara langsung. Di Indonesia, ada beberapa perusahaan yang juga membuat drone, tetapi umumnya mereka lebih condong pada perakitannya. “Kalau kami benar-benar membuat sistemnya, jadi kompetitior kami justru kebanyakan yang di luar negeri,” tutur Gian, menambahkan timnya sedang mengajukan hak paten.

Membangun Tim

Satu tahun pertama, adalah waktu yang tak mudah bagi Gian. Dia mengakui, membangun tim adalah hal yang luar biasa sulit karena butuh komitmen yang bisa naik turun kapan saja. “Membangun tim ternyata lebih sulit daripada menulis coding. Ini adalah satu hal yang paling banyak memakan waktu, pikiran, dan doa saya,” ungkapnya.

Kini, setelah pernah sekali timnya bubar, Gian merasa solid dengan timnya saat ini dan mulai menerima klien. Berawal dari tiga orang, saat ini total anggota timnya tidak kurang dari 20. Perusahaan rintisannya ini mengembangkan model business-to- business (B2B), di mana mereka fokus pada penyediaan produk ke entitas bisnis lainnya.

“Kami tidak menjual ke perorangan tapi perusahaan atau kelompok atau asosiasi. Karena selain harga yang tidak murah, dengan model ini juga kami berharap dampaknya bisa lebih luas, juga bila melayani perusahaan atau kelompok, tentu ada orang yang bertanggung jawab atas penggunaannya,” tutur penggemar silat ini.

Gian memilih kota asalnya, Yogyakarta, sebagai lokasi kantornya antara lain karena pertimbangan lahan dan perizinan uji coba drone yang tidak sulit. Dia mengaku, belum ada  rencana bagi perusahaannya ke Jakarta, sebab tidak cocok dari segi operasional. Namun, dia tak mengelak kemungkinan membuka kantor pemasaran di Ibu Kota kelak. Hadir di Kota Pelajar, membuat timnya juga mendukung universitas-universitas dalam mengembangkan teknologi, salah satunya melalui melalui kerja sama penelitian.

Belum setahun perusahaannya memiliki badan hukum sebagai perseroan terbatas, wabah Covid-19 menyerang seluruh dunia. Gian mengakui situasi ini memang memperlambat banyak hal. Namun, baginya bukan masalah besar. Dia justru melihat masa ini memberi kesempatan untuk juga menjalankan misi yang mereka tetapkan ketika memulai perjalanan Beehive Drones, yaitu membantu masyarakat Indonesia. Beberapa waktu lalu, timnya berinisiatif membuat sistem untuk berdonasi membantu fasilitas kesehatan dan perkampungan yang terdampak.

Gian mengatakan, timnya tetap berjalan dan tahun ini mereka berfokus mencari investor sebab hingga kini, mereka murni mengandalkan pendapatan. “Tahun ini kami fokus menambah klien, menambah dan memperbaiki layanan kami, dan mencari investor,” bebernya.

Sulung dua bersaudara ini meyakini apa yang dia kerjakan saat ini adalah karena Tuhan tidak pernah melupakan doa seseorang. “Satu hal yang saya petik dari perjalanan saya selama ini adalah bila kita mendoakan mimpi kita dengan sungguh-sungguh, itu akan terwujud. Tuhan tidak pernah lupa apa yang kita doakan,” ungkap umat Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran, Yogyakarta ini.

Hermina Wulohering

 

(Dok.Pribadi)

Albertus Gian Dessayes Adriano

Lahir : Jakarta, 1 Desember 1993

Ayah : Tangkas Manuturi Siahaan

Ibu : Valentina Dwi Yuli Siswianti

Jabatan:

CEO Beehive Drones (PT Aerotek Global Inovasi)

Pendidikan:

SD Pangudi Luhur 1, Yogyakarta

SMP Stella Duce, Yogyakarta

SMA Kolese de Britto, Yogyakarta

Sarjana Teknik Material & Metalurgi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Indonesia

Master of Science in Advanced Materials Science and Engineering, Imperial College London, Inggris

HIDUP NO.23, 7 Juni 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here