Krisostomus Nova Rahmanto : Menjawab Kebutuhan Penganalisa Data

24
Krisostomus Nova Rahmanto/Dok. Pribadi

HIDUPKATOLIK.COM – KEBUTUHAN akan skill tekonologi informasi semakin meninggi tetapi ada gap dengan talenta yang tersedia. Dengan pengalaman dan keterampilannya, ia berusaha menjawab kebutuhan ini.

SAAT berusia sepuluh tahun, Krisostomus Nova Rahmanto dibelikan seperangkat komputer oleh ayahnya. Belum genap dua bulan, perangkat lunak komputer itu mendadak rusak dan tidak bisa di-install. Kristo, sapaan anak itu, kemudian berlari menuju toko buku di salah satu sudut Kota Yogyakarta. Dia mencari buku yang berisi cara mengatasi masalah pada komputernya.

Karena tak punya uang, sulung dua bersaudara ini tidak bisa membeli buku tersebut. Dua jam dia habiskan untuk melahap dan merekam isi buku tersebut. Sekembalinya ke rumah, dia berhasil memperbaiki komputernya dengan tangannya sendiri. Sejak hari itu, dia memupuk kecintaan pada dunia teknologi informasi.

Menginjak masa remaja, Kristo tidak hanya menaruh minat pada studi ilmu komputer, tetapi dia bahkan sudah menjadi teknisi untuk berbagai permasalahan komputer baik perangkat keras maupun lunak. Lomba-lomba terkait studi informatika dan penelitian dia ikuti saat duduk di bangku SMA. Saat itu, dia juga telah bisa membantu melakukan data entry dan belajar mengelola data. Dengan analisis data, rapor 300 siswa selama lima semester yang biasanya memakan waktu kerja sekitar satu bulan, dia pangkas menjadi dua hari saja.

Data sains

Saat studi ilmu komputer di perguruan tinggi, Kristo secara khusus meneliti tentang data sains. Tugas akhirnya berjudul “Data Preservation Process in Big Data Environment” dipublikasikan di Prosiding Institute of Electrical and Electronics Engineers, sebuah organisasi yang mengatur standarisasi dalam bidang teknologi informasi. Saat kuliah, Kristo juga turut mendampingi adik-adik kelasnya di SMA, yang hendak mengikuti Olimpiade Informatika. Dia juga bekerja lepas sebagai web designer.

Beberapa saat setelah menyelesaikan studinya, Kristo bergabung dengan perusahaan jasa penyedia platform dan analisa big data digital di mana dia dipercaya menjadi koordinator bagian data sains. Tak lama berselang, dia merintis sebuah lembaga pelatihan teknologi informasi bersama beberapa temannya, dan menamai startup itu Sekolah Data Sains atau lebih dikenal dengan Sadasa Academy.

Sebagai pegiat digital yang kerap menjawab berbagai permintaan atas kebutuhan digital dari banyak pihak, Kristo melihat ada gap talenta digital. Berdasarkan pengalamannya, dunia industri banyak membutuhkan persyaratan proyek yang berkaitan dengan dunia informasi.

“Sekarang, kita berada pada dunia yang digerakkan oleh teknologi, di mana semua aktivitas dan lini kehidupan kita pasti bersentuhan dengan teknologi. Banyak sekali permintaan untuk membuat teknologi-teknologi tersebut tapi permasalahannya tidak bayak orang yang menguasainya secara teknis, yang mampu mengeksekusi, membuatnya menjadi satu aplikasi atau sistem informasi,” katanya dalam wawancara awal Juni lalu.

Menurutnya, apa yang diajarkan di kampus ternyata tidak selalu cocok dengan kebutuhan di dunia industri, yang tidak hanya membutuhkan pengetahuan tetapi juga skill. Kristo melanjutkan, gap inilah yang ingin dijawab dengan mendirikan Sadasa Academy. Dengan pelatihan teknologi informasi yang terjangkau, Kristo ingin menjembatani gap talenta digital yang tengah terjadi di dunia industri. Pengalaman dia dan rekan-rekannya, yang bukan hanya pengajar tetapi juga praktisi itulah, yang dibagikan di Sadasa Academy.

Awalnya, Kristo menyasar para mahasiswa di Kota Pelajar itu, tetapi ketika kelas-kelas dibuka, tampak adanya pergesaran di dunia industri. “Orang-orang yang sebelumnya sudah bekerja di bidang nonteknologi, sekarang mau belajar mandiri, shifting ke dunia teknologi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, ada setidaknya tiga hal yang menyebabkan pergeseran ini, yaitu karena insentif yang menggiurkan, juga kesempatan yang masih terbuka lebar, sebab belum banyak orang yang terjun ke dunia itu. Karenanya, murid-murid yang dia dampingi tak hanya para pelajar, tetapi juga para karyawan. Dia juga pernah menjadi mentor di beberapa korporasi baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Dia mengajari para doktor hingga profesor dalam kerja sama dengan pusat studi di kampus-kampus. Dia menuturkan, “begawan ilmu” pun masih harus belajar tentang analisa data dengan metode yang baru, yang tidak semua orang mengerti.

Krisostomus Nova Rahmanto/Dok. Pribadi

Pendampingan

Proses pendampingan seperti yang dia lakukan, menurutnya menjadi kebutuhan. Dari pengalaman-pengalamannya, dia melihat semangat belajar orang tinggi untuk mempelajari data sains. Sumber belajar pun memang banyak, baik dari internet antara lain Youtube dan kursus daring. Namun, yang sering dikeluhkan adalah tidak adanya proses mentorship atau pendampingan. “Orang yang mengajar dan membimbing belum terlembagakan dengan baik,” ujarnya.

Dia merasa, kompetitornya, secara khusus di Yogyakarta, sampai saat ini tidak menjadi masalah. Lembaga-lembaga serupa, katanya, lebih banyak ada di Jakarta, karena mereka menyasar korporasi. Meski demikian, dia menegaskan, kebutuhan akan data sains berlaku untuk semua organisasi dalam sektor apapun.

Kristo menjelaskan, agar keputusan yang dibuat dalam suatu organisasi menjadi kebijakan yang tepat, maka wajib dibuat berdasarkan data. Teknologi, jelasnya, memungkinkan orang menghimpun data dalam jumlah besar dan mengelolanya melalui metode yang baru dalam data sains. “Saya bisa memastikan, hampir semua organisasi yang ada di dunia ini, mengumpulkan data pada akhirnya. Di situlah adanya orang yang ahli akan data menjadi penting,” katanya.

Dapat membantu suatu organisasi dalam pengambilan kebijakan yang jauh lebih baik, bagi Kristo adalah bagian yang menyenangkan dari apa yang dia kerjakan. Dengan begitu, dia bisa menjadi bagian dari penyelesaian masalah. Tak hanya itu, keberhasilan dari mereka yang dia dampingi juga menjadi kepuasan tersendiri. Dia mengisahkan, ada beberapa muridnya yang berhasil menerima beasiswa, ada pula yang diterima bekerja di perusahaan unicorn.

Belakangan, Kristo bergabung sebagai relawan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY. Dia ikut membantu memperbaharui data secara real time, mengatur data agar rapi, melakukan pemodelan data yang tepat, berikut cara menghistorisasikannya dengan mudah, sehingga mudah dicerna publik. Apresiasi dari gugus tugas juga membuatnya merasa puas. “Kerja kita berdampak bagi orang banyak,” ujarnya.

Integrasi

Saat ini, Kristo menilai pemerintah sangat peduli pada tata kelola data terutama dengan adanya kebijakan satu data. Dia melihat, data yang selama ini tersebar di kementerian, pemerintahan provinsi, dinas, mulai tersinkronisasi dengan baik. Begitu pula dalam konteks Gereja, dia melihat Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko juga terus menggaungkan hal yang sama.

Di parokinya, Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran dan keuskupan, Kristo turut membantu pemanfaatan analisa data. Dia menjelaskan, adanya integrasi data, data dari paroki-paroki akan terintegrasi di keuskupan sehingga bisa diakses kapan saja tanpa perlu melakukan input data secara manual. Pemanfaatan ini misalnya bisa dilakukan untuk pernikahan pasangan beda paroki. Sementara, di paroki, analisa data antara lain membantu dalam melihat komposisi umat dalam lingkungan berdasarkan usia. “Data yang saya berikan kepada pastor paroki bisa dipakai untuk melakukan intervensi yang sesuai dengan komposisi umat pada masing-masing lingkungan,” katanya.

Kristo menegaskan, data driven policy atau kebijakan berdasarkan data akan menggerakkan dunia. “Tantangan utamanya adalah perubahan pola pikir masyarakat, yaitu bahwa data harus saling dibagi antarsektor, bukan untuk konsumsi sendiri supaya analisis yang muncul atas data yang diambil dari berbagai sektor itu, memberikan hasil kesimpulan atau analisis yang tajam,” tambahnya lagi.

Di sela-sela kesibukannya, Kristo suka menarik diri dengan bermain organ melantunkan lagu-lagu dari Madah Bakti dan Puji Syukur. Dia juga tengah menghayati spiritualitas Ignasian. Dalam karyanya, dia selalu berusaha menemukan Tuhan di setiap peristiwa, saat roda berputar membawanya ke atas maupun ke bawah. “Tuhan selalu melindungi saya, saya tidak pernah sendiri,” katanya.

Data Pribadi
Kepala Sadasa Academy, Data Scientist di Kedata Indonesia
Lahir: Yogyakarta, 17 November 1994
Ayah    : Herman Tony
Ibu       : Raby Frans

Pendidikan :
SD Pangudi Luhur 3 Yogyakarta
SMP Negeri 5 Yogyakarta
SMA Negeri 8 Yogyakarta
S1 Ilmu Komputer, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Hermina Wulohering

Majalah HIDUP edisi 26 tahun 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here