KETIKA SAYA SENDIRI KELIRU MENGENALI DIRI SAYA SENDIRI, APA AKIBATNYA?

191
RUY Pamadiken, Kontributor
KETIKA SAYA SENDIRI KELIRU MENGENALI DIRI SAYA SENDIRI, APA AKIBATNYA?
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM – WAKTU menunjukkan jam 5 pagi. Sri buru-buru bangun dan mandi air kembang yang sudah disiapkan semalam, karena tukang make-up dan sanggulnya sudah tiba, dan sudah menunggu. Setelah badannya cukup wangi, ditambah dengan sabun luluran, ia menempatkan diri untuk segera dimake-up dan disanggul. Waktu sudah diperkirakan cukup untuk selesai jam tujuh pagi, ditambah sedikit waktu untuk berkemben, berkebaya dan mencocokkan assesories-nya. Ada giwang, kalung, anting dan selendangnya. Rapi pokoknya.

Jam 8 pagi everything is ready. Sri tersenyum sambil terus berkaca melalui smartphone-nya. Tinggal menunggu jemputan mobil untuk ke gedung resepsi perkawinan keponakannya. Wah pasti banyak tamu yang kesengsem nanti kalau lihat aku”, gumam Sri sambil terus menjab-menjeb meratakan lipsticknya. Mobil jam 8 persis datang, ternyata sudah ada beberapa putri domas di dalamnya. Tampak keceriaan dari para penumpang mobil dan sopir.

Resepsi

Ketika bunyi gamelan Jawa sudah terdengar, seluruh rombongan pengantin mempersiapkan diri untuk masuk ke gedung secara beriringan dan berurutan. Sri sudah kembang-kempis dadanya membayangkan akan menerima tepukan dan pujian dari para tamu. Lampu sorot sudah dinyalakan dan masuklah rombongan dengan langkah sangat pelan dan anggun bak jalannya para bidadari. Pandangan Sri lurus ke depan, dengan sejumput senyum di bibirnya. Sudah 3 jam dia mempesolek diri, sudah sepantasnya dia dikagumi. Sri terus melangkah dibawah cahaya lampu kamera yang sangat terang, sambil berpikir bahwa setiap mata memandang dan mengagumi kecantikannya. Karena itu senyumnya tidak boleh bergeser satu incipun sampai ke pelataran panggung.

Sementara itu saya masih bertanya kepada panitia kenapa resepsi sudah dimulai saat tamunya masih sedikit. Beberapa tamu memang ada di sepanjang karpet merah yang disediakan buat pengantin dan rombongan. Sebagian tamu yang lain sedang sibuk ber-reunian karena ketemu teman-teman lama dan kurang memperhatikan jalannya resepsi. Beberapa tamu malah sudah langsung ke area makanan untuk mencicipi snack.

Kasihan Sri, dia membangun dunianya sendiri seakan-akan sebuah kenyataan. Dan hal itu diyakininya sehingga menentukan perilaku Sri. Namun Sri menikmati bayangan kecantikannya yang dikagumi oleh setiap mata di ruangan resepsi itu. Padahal cuma sekedar ilusi.

Perempatan Perumnas

Saya memanggilnya Lek Dhe, karena saya tidak tahu namanya siapa dan saya juga tidak tahu apakah dia lebih tua atau lebih muda dari saya. Maka ketika saya menyodorkan uang receh setiap kali melewati perempatan di Perumnas itu saya memanggilnya Lek Dhe. Saya senang karena sempritannya keras ketika mengatur lalu lintas yang ruwet di perempatan tersebut. Para pengendara lain juga taat. Saya terkadang mencatat dalam hati kalau pengaturan waktunya sering tidak adil. Satu arah dari perumahan selalu dikasih waktu lebih lama.

Satu bulan berlalu dan saya melewati perempatan itu lagi. Lek Dhe masih di sana mengatur lalu lintas. Rompi kuningnya masih dipakai tapi seragam coklatnya sudah kucel. Ketika sampai di perempatan, saya melihat mobil dan motor sudah tidak mengikuti peluit dan arah tangannya lagi. Saya heran, kenapa? Saya berhenti diujung perempatan tapi tidak diperhatikannya, mobil dibelakang yang malah terus membunyikan klaksonnya. Saya melewati Lek Dhe sambil memperhatikannya. Semangatnya masih, kerasnya sempritan masih, namun teriakan mengenai arah, stop atau maju sudah tidak beraturan. Gayanya yang seperti polisi pengatur lalu lintas masih dipertahankannya.

Dua minggu berikutnya saya melewati perempatan itu lagi karena keperluan fotocopy. Lek Dhe masih di tengah perempatan mengatur lalu lintas. Namun keadaannya sangat memprihatinkan. Kulitnya hitam, lebih kurus, peluitnya masih di mulut namun baju seragam coklatnya sudah lusuh, dan yang mengejutkan Lek Dhe hanya memakai celana pendek. Saya melewatinya dan melihatnya dari jarak yang dekat. Tampak wajahnya masih ceria, suara dan peluit bergantian keluar dari mulutnya dengan intonasi yang masih keras bak polisi sungguhan. Saya, sebagai pengendara stress melewati perempatan itu tapi yang mengatur jalan tampak lebih gembira.

Keingintahuan membuat saya, esoknya, kembali lagi ke perempatan Perumnas itu, namun Lek Dhe sudah tidak ada. Mungkin Dinas Sosial Kota sudah mengangkutnya dan memasukkannya ke Rumah Sakit Jiwa.

Permenungan

Sri dan Lek Dhe, menurut saya, mempunyai situasi yang sama hanya prosentasenya berbeda. Prosentase apa? Kegilaan. Barangkali Lek Dhe rasionya sudah di angka 95 prosen sementara Sri masih di angka 40 prosen. Membangun dunianya sendiri adalah bagian dari kegilaan, menurut saya. Lek Dhe telah berhasil membangun dunianya sendiri dengan sempurna, sehingga dia mampu untuk mengabaikan liyan, orang lain atau pihak lain, tanpa perasaan bersalah. Seperti Sri menikmati ilusi pujian atas kecantikannya, Lek Dhe menikmati ilusi menjadi polisi pengatur lalu lintas.

Menkonstruksi imaji atas siapakah saya atau seperti apa saya nampaknya sering menjebak kita untuk tidak mengenali siapa diri saya sebenarnya atau kalau sampai ke tahap akut kita bisa salah dan kehilangan diri seperti fenomena Sri atau Lek Dhe.

Saya pikir saya bos yang disegani di kantor, ternyata tidak,
Saya pikir saya orang tua yang dijadikan idola anak-anak, ternyata tidak,
Saya pikir orang akan terkesan dengan penampilan saya, ternyata tidak,
Saya pikir orang pasti pernah mendengar nama saya, ternyata tidak,
Saya pikir kotbah saya akan meresapi setiap jemaat, ternyata tidak,
Saya pikir orang akan menghormati karena jubah saya, ternyata tidak,
Saya pikir tulisan saya akan dibaca oleh ribuan orang, ternyata tidak,
Saya pikir saya nggantheng atau cute atau imut, ternyata tidak,
Saya pikir setiap teman akan memahami keadaan saya atau cara berpikir saya, ternyata tidak,
Saya pikir saya orang penting, ternyata tidak,
Saya pikir saya seorang tokoh, ternyata tidak,
Saya pikir saya akan masuk surga atau neraka, ternyata tidak ada seorangpun yang tahu ….

Ketika seseorang berada dalam dunia “saya pikir”, maka ia bisa keliru memahami dirinya sendiri yang riil, yang barangkali banyak kelemahan dan dosa di sana-sini. Konstruksi ilusif ini bisa menjadi penyembuh namun pada hakekatnya hanya pelarian atau palsu saja. Keadaan ini memprihatinkan karena kalau diikuti akan menjadi seperti Lek Dhe, completely self-absence, dan seratus persen hidup dalam persepsi dirinya, yang belum tentu benar. Akan berakhir memilukan. I as perceive berbeda dengan I am.

Bagaimana kalau kondisi ini dialami oleh seorang figur publik atau pemimpin   agama? Para pengikutnya akan mengidolakan ilusi, yang berakhir dengan kesia-siaan. Khotbah yang benar bukan yang dikatakan tapi hidup pengkhotbahnya sendiri.

Bagaimana kalau kondisi tersebut dialami oleh saya sendiri? Barangkali mulai sekarang perlu mengecek berapa kadar kegilaan saya. Barangkali juga selama ini saya sudah membangun persepsi yang salah tentang diri saya sendiri, dan menghidupinya sehingga mempengaruhi saya bersikap kepada orang lain yang bisa melukai …

Kalau kondisi kemanusiaan itu saya ibaratkan dengan kantong seperti dalam perumpamaan Injil (Mat. 9,17), maka bagaimana kantong yang lama itu bisa menerima anggur yang baru? Kedua-duanya akan koyak atau rusak. Tidak ada yang bisa diketahui, dipahamkan atau diresapi oleh kondisi ilusif tadi.

Saya pikir saya hidup, ternyata tidak.
Saya pikir saya ada, ternyata tidak.
Saya pikir saya … ah ternyata tidak.
Kacian deh elo ….

RUY Pamadiken, Kontributor (Tangerang)/IG: innerjourney1503

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here