KETIKA PRESIDEN JOKOWI MINTA KRITIK

248
RUY Pamadiken, Kontributor

HIDUPKATOLIK.COM – ADA boss yang nganeh-aneh-i ketika dulu saya bekerja di sebuah korporasi. Dia menyampaikan kepada seluruh anak buahnya agar mengritiknya dan cara kerjanya. Kami salut  dengan trend baru itu. Layak dijadikan teladan bos-bos lain yang otoriter.

Waktu berjalan.

Dalam setiap meeting dia menanggapi kritikan-kritikan yang masuk melalui email, namun wajahnya tampak tegang dan menunjukkan nuansa-nuansa kecil kurang suka, terlebih ketika kritikannya mengena kepada kelemahan pribadinya atau cara kerjanya. Nada suaaranya tidak bisa menipu bahwa dia sebenarnya tidak suka. Rupanya antara pikiran dan kehendak serta self-defence alaminya tidak sejalan dalam satu irama. Lama kelamaan kami malas untuk memberi kritikan lagi.

Ada beberapa kemungkinan mengapa seseorang membuka diri untuk dikritik:

Merasa diri sudah benar dan siap dikritik, merasa selesai dengan dirinya sendiri dan cukup matang.

Perasaan atau anggapan ini berbahaya dan bisa menipu. Membuka front seperti ini betapapun kuatnya pertahanan pasti akan goyah karena akan ada banyak ditemukan ketidaksempurnaan dan titik-titik lemah. Obyektivitas selalu datang dari pihak di luar dirinya sendiri. Dan ketika hal itu ditunjukkan, ibarat borok yang ditekan pakai jari, dia akan kesakitan. Boss saya di atas mungkin ada di tingkat ini. Dia masih tersinggung ketika borok-borok itu disentuh.

Perasaan atau anggapan bisa menipu. Nilai subyektivitas selalu berperan ketika seseorang memandang dirinya sendiri. Ada overestimasi ketika kepercayaan diri yang dipakai sebagai standar, dan sering memberikan reaksi spontan ketika kritik yang benar-benar pedas itu dibaca atau didengarkan. Merasa diri selesai adalah sebuah ilusi karena tidak ada orang yang sudah selesai selama perjalanannya di bumi.

Merasa cukup matang untuk dikritik juga sisi lain dari subyektivitas. Ia akan patah justru ketika menyediakan diri sebagai kayu yang cukup keras. Sikap keterbukaan atas kritik justru seharusnya muncul bukan dari sebuah sikap tertentu namun karena telah bertindak secara benar.

Self-mage atau Pencitraan

Boss saya di atas sedikit banyak ada unsur pencitraan ini. Hal itu terlihat dari tidak sejalannya antara kehendak dengan reaksi mimiknya. Melihat reaksi itu, minimal dia ingin mengatakan bahwa ngono yo ngono ning ojo ngono. Kritik jangan keras-keraslah, sebab kalau keras dia akan roboh.

Kondisi pencitraan ini lebih buruk daripada alasan yang pertama seperti di atas. Lebih buruknya karena dia mendasarkan tindakannya kepada pihak luar, kepada penilaian orang luar. Yang dicari adalah penilaian orang lain atas dirinya, bahwa ia adalah orang terbuka atas kritik, pantas dijadikan teladan dan begitu seharusnya orang lain harus bersikap. Kelihatannya bagus namun pondasinya keropos, karena tujuannya adalah glorifikasi pada dirinya sendiri. Ketika para pengritik mengatakan bagus maka dia akan merasa kuat, begitu mereka menilai buruk maka seketika akan merasa hancur. Jati dirinya ada di luar dirinya sendiri. Model pemimpin ini menjadi makanan empuk bagi para penjilat, pengkhianat dan pengikut ABS. Subur bagi konspirasi dan kolusi.

Pencitraan ibarat mendirikan rumah diatas pasir.

Ingin benar-benar mendapatkan masukkan sebagai ‘check-balance’ atas informasi yang masuk.

Boss saya di atas mungkin mempunyai pengalaman bahwa informasi dari orang-orang di sekitarnya tidak selalu atau ‘begitu’ benar, maka dia memerlukan informasi langsung untuk check-balancing. Dengan demikian dia tidak memerlukan saringan informasi yang dikendalikan oleh orang-orang sekitarnya, melalui narasi-narasi politis. Filter informasi mestinya tidak diracuni oleh kepentingan-kepentingan atau titipan pesan tertentu.

Lingkaran pertama, pembisik, buzzer favorit bisa menyusun fakta menjadi narasi dan diksi sehingga penerima informasi tidak lagi melihat obyek informasi namun subyek informasi. Ada rentang yang barangkali makin jauh terhadap realitas atau kenyataan, yang membuat tiba-tiba boss ada di menara gading dan tidak menyentuh tanah serta membaui bau karyawan yang paling bawah.

Kalau ini terjadi, maka tanda bahaya layak dibunyikan dan kritik memang perlu disampaikan langsung. Isolasi mandiri boss atas informasi di sekitarnya ibarat sterilisasi supaya imun terhadap problematika dan penderitaan di sekitarnya. Blok-blok informasi ini bisa direkayasa oleh kerjasama beberapa pihak.

Mendidik Cara Berdemokrasi

Upaya dari boss saya tadi barangkali karena sebuah tujuan luhur, yakni, ingin mendidik anak buahnya agar tahu bagaimana cara berdemokrasi, atau secara khusus bagaimana cara menyampaikan kritik secara benar. Kritik yang pedas adalah jauh lebih baik daripada menyampaikan hoax, fitnah atau ujaran kebencian. Karena itu dia berani untuk membuka diri untuk dikritik, namun sayangnya, dia kurang menyadari tujuan luhur ini sehingga goyang ketika kritik berdatangan.

Alih-alih anak buahnya belajar cara berdemokrasi dan menyampaikan kritik, spirit untuk mengritik justru menjadi padam karena inkonsistensi sikap dari boss.

Ketika Presiden Jokowi Membuka Diri untuk Dikritik

Rupanya Presiden Jokowi bukan tipe yang suka kenyamanan. Kenyamanan membunuhnya dan tidak kreatif. Di luar sana ia mendengar slenthingan-slenthingan. Dalam pidatonya di hari Pers Nasional, Presiden Jokowi menyatakan membuka diri untuk dikritik, sikap ini menimbulkan pujian sekaligus sinisme. Mantan Presiden dan mantan Wakil Presiden sampai menanggapinya. Ide ini direalisasi oleh Sekretaris Kabinet dengan membuka saluran khusus kritik dan webinar melalui zoom. Ia ingin membuka filter informasi agar kembali jernih.

Pertanyaan saya adalah, Presiden ada di tataran yang mana diantara 4 tataran di atas ketika menyampaikan sikap tersebut?

Dalam alam demokrasi, kebebasan berpikir dan berpendapat dijamin oleh Undang-Undang, Namun pasal yang sangat mulia bagi martabat kemanusiaan ini bisa disalahgunakan untuk maksud-maksud politis atau ideologis tertentu. Narasi dan diksi dibangun untuk melemahkan pondasi-pondasi falsafah bangsa dengan cara klasik kolonial devide et impera.

Kita masih ingat bahwa belum lama dunia medsos Indonesia dihajar oleh hoax, fitnah dan ujaran-ujaran kebencian, dan sempat mempengaruhi opini sebagian masyarakat yang kemudian membuat sebuah gerakan untuk mengganti ideologi negara.

Seorang Presiden Jokowi yang sudah terkenal dan de facto adalah orang nomor satu di Indonesia tentu tidak memerlukan pencitraan lagi,apalagi merasa dirinya (paling) benar. Dia sedang menjunjung tinggi nilai dan praktik demokrasi untuk membuat rakyat menjadi bermartabat dengan dirinya sendiri di alam demokrasi. Dia juga sedang membina seluruh elemen masyarakat untuk menyampaikan kritik kepada dirinya dan pemerintahannya secara benar dan dijamin oleh UU, karena itu dia juga minta agar UU ITE dievaluasi oleh DPR agar lebih berkeadilan.

Tidak ada yang salah dengan kritik, namun ini soal kesantunan bahasa, karena bahasa menunjukkan bangsa.

 RUY Pamadiken, Kontributor, IG: innerjourney1503

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here