Makna “Tiga B” bagi Pastor Anton

223
Pastor Antonius Wahyudianto SX

HIDUPKATOLIK.COM – PASTOR Anton, sapaan akrab mantan Provinsial SX, Pastor Antonius Wahyudianto SX, menghiasi hari-harinya dengan melukis sejak pandemi Covid-19 mendera dunia dan Indonesia.

Bagi kelahiran Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumatera Utara ini, melukis di atas kanvas atau dengan cat minyak adalah nafas hidupnya sebagai misionaris yang harus meninggalkan tanah kelahiran, diutus ke negara lain.

Ketika bermisi di Bangladesh selama 11 tahun (1997-2008), di setiap ada waktu senggangnya, ia selalu menari-narikan tangannya di atas kanvas.

“Inspirasi selalu ada setiap saat di hadapan mata saya, untuk saya ungkapkan dalam bentuk/media lukisan. Saya enggak tunggu inspirasi melainkan meraih inspirasi yang sudah ada menjadi kreasi (lukisan),” ujarnya.

Maka, selama ‘berdiam di rumah’ ini, lukisan demi lukisan mengalir dari tangan Pastor Anton. “Sejak Prapaskah lalu hingga saat ini sudah ada 14 lukisan Jalan Salib, 18 lukisan bertema Bunda, enam lukisan bertema Bahtera, delapan lukisan bertema Bunga, dan beberapa lukisan yang lain,” papar pria yang fasih memainkan gitar dan harmonika sekaligus.

Tema Bunda merujuk pada kegelisahan Pastor Anton terhadap suku-suku Mentawai di Pulau Siberut, Sumatera Barat, yang makin tergerus oleh perkembangan zaman. Begitu pula dengan suku-suku terasing di Bangladesh.

Di dua tempat itu Pastor Anton pernah menaburkan benih iman Katolik. “Poinnya sangat Biblis. Akan menjadi apakah anak-anak yang akan dilahirkannya? Itu saya lukis dalam simbol ibu dan anak,” ujarnya.

Tema Bahtera berkaitan dengan peziarahan hidup manusia (atau Gereja, rumah tangga, atau negara) seperti sebuah bahtera yang sarat dengan perjuangan hidup di tengah badai dan topan namun terus bergerak menuju  dermaga kebahagiaan.

Sedangkan Bunga merupakan simbol keindahan dalam hidup keberagaman, keragaman warna dalam taman bunga yang tumbuh berdampingan seperti mozaik yang indah.

Bagi Pator Anton melukis mengandung tiga makna. Pertama, sebagai ungkapan syukur, terima kasih dan pujian kepada Tuhan yang Mahakuasa yang telah menganugerahkan bakat melukis kepadanya sejak lahir. Kedua, adanya keyakinan dalam jiwanya yang mendalam akan kebesaran dan kemuliaan Tuhan yang begitu mengasihi ciptaan-Nya, termasuk dirinya. Ketiga, sebagai suatu ibadah untuk memuliakan Tuhan melalui lukisan dan membahagiakan sesama yang telah menikmati keindahan dalam lukisan tersebut.

KetikaPastor Anton tak lagi memimpin Serikat Xaverian Indonesia beberapa waktu lau, ia mengatakan, akan terus bermisi dan melukis. Dan, andaikan boleh memilih perutusan baru setelah tongkat estapet kepemimpinan SX di Indonesia diserahkan kepada provinsial baru, ia ingin kembali berlayar ke Bangladesh.

“Namun, ke mana pun saya diutus, saya selalu siap sedia,” timpalnya.

FHS

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here