Pastor Lili Kok Mendalami Ateisme

189
Pastor Petrus Lili Tjahjadi (kanan) menerima penghargaan.

HIDUPKATOLIK.COM – PADA piagam itu tertulis, “Pastor Pertama Bergelar Doktor dengan Disertasi Ateisme Modern”. Sang penerima adalah Pastor Simon Petrus Lili Tjahjadi, pernah menjabat sebagai Ketua STF Driyarkara Jakarta. Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) memberinya kepada Pastor Lili, sapaannya, beberapa waktu lalu. Ia orang Indonesia pertama yang menggeluti bidang ini melalui kajian ilmiah.

Pastor Simon menulis disertasi filsafat tentang Ludwig Feuerbach (1804-1872), sang peletak dasar ateisme modern. Filsuf Jerman ini melihat, masalah Tuhan harus dikembalikan kepada persoalan manusia alias imanensinya. Dalam perkembangan berikutnya argumentasi Feuerbach mendapatkan banyak variannya pada pemikiran para tokoh ateisme lainnya, seperti Karl Marx, Frederich Nietzsche, Sigmud Freud atau Jen-Paul Sartre.

Menurut Pastor Lili, secara amat kasar, ateisme bisa dibedakan antara ateisme praktis dan ateisme teoritis. Ateisme praktis mengaku percaya pada Tuhan, tetapi cara hidupnya sarat dengan praktik korupsi, penindasan terhadap orang kecil atau kerakusan mengeksploitasi kekayaan alam. Ateisme ini dikritik oleh para nabi. Ateisme teoretis masuk dalam bidang pengkajian filsafat. “Ateisme teoritis ini berkaitan dengan argumentasi-argumentasi rasional yang mendasari sikap seseorang menolak Tuhan,” lanjut kelahiran Jakarta 57 tahun lalu ini.

Lewat studi filsafat, bagi Pastor Lili, kita memahami bahwa orang menjadi ateis karena banyak alasan. Ada yang menolak Tuhan demi cita-cita ideal manusia. Yang lain demi membebaskan manusia dari khayalan opium agama yang membuatnya lari dari perjuangan emansipasi politiknya. Beberapa orang menolak Tuhan sebab ajaran dari Kitab Suci dianggap berlawanan dengan data sains. Atau, bisa jadi adanya penderitaan merupakan alasan menolak paham Tuhan yang mahakuasa dan mahabaik. Di tempat yang satu Tuhan ditolak lantaran ngerecokin kebebasan manusia, atau membuatnya tidak dewasa dan sakit-jiwa. Tapi cukup banyak juga yang menjadi ateis, setelah melihat betapa brengseknya hidup mereka yang mengaku percaya pada Tuhan. Tentu masing-masing alasan ini masih perlu ditelaah dan disikapi secara kritis dalam ranah filsafat,” ungkap pastor yang bisa bermain Kendo ini.

Pastor Simon merasa imannya tidak diperlemah lantaran studinya itu. Sebaliknya ia merasa diperkaya dan dimurnikan. Itu karena dirinya melihat bahwa unsur paling penting dalam belajar filsafat adalah penalaran kritisnya. “Kritis berarti mampu membedakan antara mana yang benar, bisa diterima, dan mana yang dipertanyakan, bahkan ditolak. Dalam konfrontasi dengan pemikiran para filsuf kita sungguh bisa diperkaya dan dimurnikan dalam iman. Tidak ada tabu untuk mempelajari filsafat, termasuk ateisme,” demikian Pastor Simon.

Indonesia adalah negara berketuhanan yang mahaesa. Sudah pasti paham ateisme bukan sebuah euforia di negara ini. Kendati demikian, Pastor Lili mengingatkan, jika sebuah negara itu agamis, bukan berarti tidak ada ateis. Terkadang, di mana Tuhan dibela mati-matian secara membabi-buta, di situ bisa tumbuh subur ateisme sebagai pandangan yang justru menolak keberadaan-Nya. Ini bisa dikaitkan juga dengan fenomena korupsi dan fanatisme agama dengan kekerasan di negeri ini.

“Konstitusi kita melindungi kebebasan beragama setiap warga. Tetapi tampaknya belum ada hukum yang secara tegas melarang dan memberikan sanksi terhadap seseorang yang menganut ateisme secara pribadi atau diam-diam,” imbuhnya.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here