RANTANG CINTA, KAU ADA DI MANA

149
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – SEMASA kecil, saya terpesona sama yang namanya rantang. Rantang itu adalah tempat makanan bersusun yang terbuat dari bahan kaleng bermotif abstrak berwarna hijau meskipun ada juga yang berwarna polos. Yang menarik buat saya tentu bukan rantangnya, tetapi isinya. Satu set rantang berisi tiga wadah kaleng berbentuk bulat, untuk memuat tiga jenis masakan yang berbeda-beda. Saya sering melihat Mama masak berjam-jam di dapur kami yang panas dan sempit, untuk mengisi ketiga wadah rantang itu sampai penuh. Berhubung Mama saya jago masak, apapun isi rantang itu, dijamin semuanya berisi hidangan lezat.

Zaman dahulu belum ada mall, maka saat akhir pekan, kami sekeluarga sering sekali piknik di pantai ataupun di taman bunga, di mana kami menggelar tikar dan bersantai menikmati alam. Bila saat makan siang tiba, maka semua rantang akan dibuka dan isinya disikat sampai habis. Termos-termos berisi air jeruk juga akan dibagikan untuk melepas dahaga. Betul-betul Go Green!

Tapi rantang tak hanya berisi makanan piknik saja. Seminggu sekali, rantang juga diisi penuh dengan makanan kesukaan para pastor, dan diantar ke pastoran. Rantang terkadang juga diantarkan kepada kerabat yang sedang sedang sakit, maksudnya tak lain supaya timbul nafsu makan, sehingga bisa cepat pulih kembali. Saat arisan, semua tante-tante tetangga juga membawa masakan istimewa mereka masing-masing di dalam rantang. Semacam Pot Luck.

Pernah suatu ketika ada seorang kerabat yang rindu sekali makan makanan asli kampung halaman yang sulit didapat di kota besar, maka Mama dengan senang hati akan memasak makanan daerah itu dan segera mengirimnya di dalam ketiga wadah kaleng rantang sampai penuh semua. ‘Biar puas-puasin deh,” kata Mama sambil tersenyum.

Saat saya sekolah menengah, Mama yang tadinya ibu rumah tangga biasa, mulai bekerja kantoran, sehingga tak sempat lagi memasak. Maka setiap pulang sekolah, saya menanti-nanti datangnya rantang catering. Tapi kali ini, antusiasme saya menurun drastis, karena rantang kaleng sudah berubah rupa menjadi rantang plastik yang lebih kecil dan isinya tentu tidak seenak masakan Mama.

Masa-masa rantang sudah lama berlalu. Sepertinya ibu-ibu zaman now, sudah gak mau lagi capek-capek memasak tiga hidangan selama berjam-jam terkena api panas dapur, demi menghidangkan masakan enak dan mengirimkannya kepada teman atau kerabat yang membutuhkan, atau hanya sekadar memberi kejutan yang menyenangkan dalam bentuk kiriman penganan lezat.

Rantang sebetulnya tak cuma berfungsi mengantarkan makanan, tetapi juga mengantarkan ‘cinta dan perhatian’ dari pengirimnya. Cinta yang berisi pengorbanan dan kerja keras dalam menyiapkan semua isi rantang itu. Tujuannya tentu tak mencari keuntungan, apalagi popularitas, tapi betul-betul sekedar berbagi kasih, menghadirkan kegembiraan bagi siapapun yang menerimanya. Sesederhana itu.

Gary Chapman menuliskan teori tentang lima bahasa cinta, yaitu mengucapkan kata-kata yang menguatkan, menyediakan waktu yang berkualitas, sentuhan, memberikan hadiah dan pelayanan. Bila demikian, maka rantang berisi tiga bahasa cinta sekaligus, yaitu menyediakan waktu yang cukup panjang untuk memasak, memberi ‘hadiah’ berupa hidangan yang betul-betul enak (bukan ala kadarnya) sebagai ‘pelayanan’ bagi orang-orang yang terkasih; para penerima rantang.

Sayangnya, rantang kaleng bermotif abstrak berwarna hijau, kini telah berganti fungsi menjadi sekadar hiasan interior restoran bertema jadoel tempo doeloe yang menyajikan makanan asli Indonesia, atau makanan Cina-peranakan, bukan lagi mengantarkan hidangan penuh bahasa cinta. Satu lagi sejarah budaya yang hilang ditelan arus modernisasi.

“Cinta di balik rantang” akan selalu menjadi kenangan berharga bagi saya, mengingatkan saya untuk tidak pernah lupa berbagi dan menyebarkan kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar saya.

Fransisca Lenny, Kontributor, Pekerja seni, alumnus KPKS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here