Gereja dan Imajinasi Nusantara: Iman Diejawantahkan dalam Kehidupan Pribadi, Komunitas, dan Masyarakat

28
Yusuf Marwoto, Kontributor

HIDUPKATOLIK.COM – SAYA baru saja membaca ulang “Bumi Manusia”, bagian tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Ada Minke dalam roman legendaris ini; sosok yang terperangkap antara identitas genetik sebagai pribumi dengan identitas pemikiran yang sudah terpengaruh pemikiran Eropa karena sekolah di H.B.S. Minke sulit untuk menempatkan diri; pribumi bukan, Eropa bukan. Dia ditolak di komunitas Pribumi, dia juga ditolak dari komunitas Eropa.

Gereja Katolik Indonesia yang benihnya ditabur oleh misionaris Eropa ke tanah Nusantara; pada awalnya juga mengalami pergumulan identitas yang serupa. Apakah akan menjadi Gereja Katolik di Indonesia saja atau menjadi Gereja Katolik Indonesia!

Waktu menempa komunitas Katolik untuk mendudukkan dirinya pada tempat terbaik, dan itu dilakukan oleh Uskup Agung (Pribumi) Indonesia yang pertama, Mrg. Albertus Soegijapranata, S.J. Beliau sudah sejak awal, saat benih Katolik ditabur di Nusantara, sudah berseru agar “Menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia.

Gereja Katolik melakukan pemribumian, inkarnasi, inkulturasi dan kontekstualisasi dalam langgam nusantara. Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Sintesis antara budaya dan iman tidak hanya tuntutan budaya, tetapi juga tuntutan iman. Sebuah iman yang tidak menjadi budaya adalah iman yang belum sepenuhnya diterima, belum sepenuhnya diselisik, belum sepenuhnya dihayati.” Maka Gereja Katolik sudah selesai sedari awal dengan isu-isu kebangsaan.

Gereja Katolik Indonesia dengan demikian menyumbangkan dirinya untuk seperasaan, sepenanggungan dengan komponen bangsa lain, menegakkan keindonesiaan, menjaga, merawat dan mengembangkan semangat kebangsaan dari jaman ke jaman.

Gereja meniadakan hasrat untuk melakukan formalisasi agama ke dalam aturan-aturan baku yang mengikat sehingga harus vis-a-vis dengan negara, dan memilih untuk menggarami perilaku masyarakat melalui nilai-nilai luhur, etika dan moral yang bersumber dari Injil. Pengalaman panjang sekularisme di Eropa menjadi teladan sejarah yang bijak untuk tidak diulang di negeri Pertiwi ini; sebuah pemisahan tegas antara politik praktis dan kebajikan religius.

Moderasi Agama

Sumbangan terbesar Gereja Katolik Indonesia dalam dasawarsa terakhir adalah bersama-sama komponen bangsa lainnya melakukan moderasi di tengah maraknya gejolak fundamentalisme agama. Adanya tafsir terpimpin atas teks Kitab Suci yang kudus (Magisterium) menjadikan ajaran-ajaran yang berkembang di tengah komunitas Katolik Indonesia monolit, sehingga tidak mudah diselewengkan untuk sekedar melegitimasi kepentingan-kepentingan sesaat, misalnya merebut kekuasaan atau menangguk kesuksesan duniawi.

Kita melihat, dalam tahun-tahun terakhir, kita menyaksikan bagaimana teks-teks suci berhamburan di ruang-ruang publik bangsa kita, teks yang terlepas dari akar kebijaksanaannya, dan dengan sembrono dijadikan senjata mematikan bagi lawan-lawan politik; baik dalam bentuk umpatan dan promosi kebencian.

Keterpimpinan tafsir punya kekuatan yakni tiadanya ruang bagi cara pemahaman teks kekristenan tanpa konteks, sehingga meredam perilaku ugal-ugalan dalam mengkomunikasikan sesuatu dengan mengatasnamakan Tuhan, tanpa saringan tradisi pemikiran yang panjang.

Potensi fundamentalisme sesungguhnya selalu ada di setiap agama, namun Gereja Katolik Indonesia cukup berhasil mengelola semangat heroik beriman dalam kerangka kebangsaan dan kebaikan bersama (bonnum communae). Angin segar perubahan dari jendela Konsili Vatikan II semakin berhembus kencang, yang meminta Gereja lebih terbuka dengan dunia dan mendorong dialog dengan budaya lokal dan agama lain.

Banyak terobosan teologis dibuat sesudahnya sehingga menginspirasi banyak komunitas untuk meniru dan terlibat merajut percakapan yang menghargai perbedaan. Ajaran Konsili Vatikan II tentang pandangan yang positif akan budaya-budaya lokal juga menyemarakkan semangat setiap jiwa katolik sampai ke akar rumput untuk memperjuangkan pluralisme sebagai karunia Tuhan.

Paus Fransiskus berkata, “Fundamentalisme adalah penyakit yang ada di semua agama … Fundamentalisme agama bukanlah agama, karena tidak memiliki Tuhan. Ini adalah penyembahan berhala, seperti penyembahan berhala uang.” Fundamentalisme adalah “agama kemarahan” dan Gereja Katolik pada dirinya sendiri melawan itu melalui pandangan dan perilaku yang moderat.

Arus moderasi Gereja Katolik Indonesia menjadi naungan yang teduh bagi komunitas religius lain, sehingga mereka merasa nyaman bercakap-cakap dan bertukar pengetahuan dan kebijaksanaan luhur untuk saling memperkuat pemahaman dan kebersamaan. Dan ini terjadi secara menyeluruh; mulai dari pucuk pimpinan hirarki Gereja Katolik sampai komunitas basis. Saat simbol-simbol kesucian agama Katolik dilecehkan baik dalam karya seni, tuturan ilmiah atau sekedar ceceran status di media sosial; komunitas Katolik cukup bijaksana menyikapinya.

Imajinasi komunitas Katolik; dari hierarki sampai akar rumput tentang bagaimana iman diejawantahkan dalam kehidupan pribadi, komunitas dan masyarakat, selaras dengan imajinasi nusantara dengan keragaman budaya, keyakinan, penghayatan hidup, nilai-nilai etis dan estetis. Tiada lain yang bisa diberikan oleh Gereja Katolik, selain teologi inklusif yang mengakui keberadaan, membagi ruang kehidupan, menjembatani perbedaan dan mengukuhkan persamaan, tanpa lupa tugas profetik untuk menyuarakan yang tak bersuara (voice of the voiceless) dan menjadi pembela bagi yang tertindas (option for the poor) agar selain kebenaran, keadilan juga ditegakkan.

Dunia yang Berubah

Pada saat ini, kita berada persis dalam denyut episentrum perubahan! Disrupsi karena teknologi dan disrupsi karena wabah pandemi, telah menggeser dan mentransformasi kehidupan dalam format yang baru. Rekayasa teknologi, baik atomik dan genetik, akan banyak menghadirkan problem-problem filosofis dan teologis yang harus dijawab oleh Gereja.

Revolusi digital menciptakan sebuah dunia baru, cyber world dengan segala kebenaran dan kejahatannya, dan Gereja juga harus hadir di sana untuk menjadi referensi akan kehadiran Tuhan di setiap jengkal sejarah; dulu, kini dan yang akan datang.

Kalau Tuhan kita percayai hadir dimana-mana (ruang), maka Pribadi yang sama juga hadir di segala jaman secara serentak (waktu). Harus ada pola-pola kreatif dan inovatif untuk mengkomunikasikan Firman Tuhan yang bersumber dari Alkitab dengan latar belakang dunia agraris, ke sebuah komunitas baru yang berlatar belakang perangkat digital.

Gereja sudah membuktikan dalam sejarah bagaimana bisa berjalan seiring dengan ilmu pengetahuan. Maka percakapan-percakapan tentang Big Data dan Algoritma, juga bisa menjadi sarana untuk mencari kehendak Tuhan secara rasional, selain secara spiritual.

Gereja juga punya pekerjaan besar untuk menghadirkan anak-anak muda yang berlimpah jumlahnya agar semakin berperan; tidak hanya di “altar” tetapi juga di “pasar” dalam hiruk-pikuk kehidupan. Pemikiran dan kreativitas mereka harus dipertajam dan diperdalam dengan spiritualitas Katolik sehingga menjadi agen-agen perubahan di berbagai komunitas dalam berbagai level. Tanpa kaderisasi yang utuh dan serius, Gereja akan rapuh dan lumpuh.

Pandemi mengajarkan kepada kita bahwa Gereja bukanlah gedung, tetapi gereja adalah kumpulan manusia-manusia Katolik di dalamnya. Maka satu individu Katolik adalah sebuah mezbah gereja; yang bisa menjadi cahaya di tengah kegelapan komunitasnya; serta menjadi garam yang mentransformasi kehidupan ke arah yang lebih baik.

Yusuf Marwoto, Kontributor

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here