Almoner Kepausan Pimpin Misa Pemakaman untuk Pria Tunawisma di Italia

40
Roberto Molinari | Dok. Vatican News

HIDUPKATOLIK.COMAlmoner Kepausan, Kardinal Konrad Krajewski memberikan penghormatan terakhirnya kepada Roberto Molinari, seorang pria tunawisma berusia 64 tahun. Meskipun mengalami kesulitan hidup, Roberto selalu memberikan senyuman kepada orang-orang yang ia temui di jalan.

“Inilah hari Jumat Agung lainnya,” Itulah kata-kata Paus Fransiskus pada hari Minggu saat Angelus, ketika ia berbicara mengenai kematian Edwin, seorang tunawisma Nigeria yang terbunuh akibat kedinginan di jalan. Paus mengingat apa yang dikatakan St. Gregorius Agung, “Misa hari itu tidak akan dirayakan karena saat seorang miskin menghadapi kematian, hal itu seperti Jumat Agung.”

Saat ini komunitas dari banyak saudara dan saudari yang lahir di jalanan berduka atas nama “Robertino”, begitu mereka memanggilnya. Ia tidak meninggal karena kedinginan dan untungnya, belakangan ini, ia telah mendengarkan nasihat dari para sukarelawan, dan setelah banyak serangan pneumonia, ia pun pindah ke tempat penampungan “Binario 95” di stasiun kereta Termini. Di sinilah ia meninggal, dalam kehangatan dan bukan karena ketidakpedulian, penyakit yang paling banyak membunuh.

Pintu tertutup
Melansir Vatican News, 25/1, mereka yang dekat dengan Roberto – dari Komunitas Sant’Egidio, relawan Natale 365, hingga inspektur polisi yang berkantor di alun-alun tempat ia menghabiskan sebagian hidupnya – hadir Senin pagi di Paroki San Pio X, di distrik Romawi di Balduina. Kardinal Konrad Krajewski, Almoner Kepausan memimpin pemakaman, ia melakukan konselebrasi bersama Kardinal George Pell, Uskup Agung Arthur Roche, Sekretaris Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, serta selusin imam. Kardinal Krajewski secara pribadi memilih bacaan dari Injil Lukas, di mana Yesus menceritakan perumpamaan tentang Lazarus dan orang kaya, karena “Robert selalu tidur di depan pintu yang tertutup.”

Menendang bola
“Ia adalah pribadi yang ceria, saat makan siang bersama, ia membuat semua orang tertawa,” kenang Kardinal Krajewski. Karena itu, jelasnya, “ia dimanja” oleh orang-orang yang mengenalnya. Beberapa orang, di masa lalu, bahkan telah membayar kamar dan sarapan di daerah sekitar Vatikan untuk ia bermalam sebagai ucapan terima kasih atas spontanitasnya. Ia membuat orang mencintainya. Ia bahkan menyumbang kaus dari beberapa tim sepak bola yang disimpan di kopernya. “Sepak bola adalah hasratnya,” sebut perwakilan Komunitas Sant’Egidio.

Berasal dari Oppeano, sebuah kota di provinsi Verona, ia akan dimakamkan di sana di samping orang tuanya. Diketahui ia pernah bermain dengan klub sepak bola “Hellas Verona” tetapi cedera mencegahnya untuk melanjutkan karirnya. Dalam kehidupan Robertino ada banyak momen sulit. Hidup di jalanan bukanlah pilihan. “Kadang-kadang, sukarelawan memberi tahu kami, dia sedih dan marah.” Namun, hari ini saat pemakamannya ia akan senang mengetahui bahwa begitu banyak orang ingin menyambutnya. Ia akan senang mengetahui bahwa ia tidak disia-siakan. “Seseorang dengan martabatnya, keluhurannya mampu menghasilkan cinta meskipun hatinya terluka oleh kehidupan,” ujar Kardinal Krajewski.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here